Tanggapi Prabowo, PSI sebut anak muda lebih suka 'politics of hope'


Kamis, 21 Juni 2018 00:03Reporter : Rizky Andwika
Juru Bicara PSI Dedek Prayudi. ©2018 Istimewa
Merdeka.com - Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang kepemudaan Dedek Prayudi menilai Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tengah memainkan 'politics of fears'. Tujuannya demi memenangkan calon yang diusung oleh Gerindra dalam Pilkada.
Sah-sah saja, tapi anak muda lebih suka dengan 'politics of hope', cara berpolitik yang menghadirkan harapan melalui program konkret, bukan justru ketakutan dan pesimisme", katanya melalui keterangan tertulis, Rabu (20/6).
Pria yang akrab disapa Uki ini menilai bahwa untuk melihat apakah Indonesia berada di jalur yang benar, laju pembangunan harus diperhatikan.
"Bangsa ini memang masih memiliki banyak sekali tantangan pembangunan tapi kalau saja pak Prabowo teliti dalam melihat laju pembangunan beberapa tahun belakangan, saya yakin beliau paham kenapa Indonesia sudah berada pada 'track' yang benar," ujarnya.
Dia juga menyinggung isu ketimpangan ekonomi yang juga menjadi materi pidato Prabowo Subianto. "Indikator yang dipakai dunia internasional termasuk Indonesia dalam melihat ketimpangan adalah gini rasio. Data BPS menunjukkan terjadi penurunan gini ratio semenjak 2014 hingga hari ini, yakni dari 0,414 menjadi 0,391," ujarnya.
"Strategi pemerintah yang fokus kepada pemecahan ketimpangan seperti redistribusi aset dan lahan, upaya perkuat akses pada modal seperti kartu Indonesia pintar dan kartu Indonesia sehat, dan pendidikan vokasi pada pariwisata dan industri kreatif terbukti menekan ketimpangan di masyarakat," sambung mantan peneliti kebijakan United Nations Population Fund ini.
Selain itu, dia juga menyinggung soal pendapatan rakyat yang disebut Prabowo sangat kecil. "Ini sangat tidak masuk akal menurut metode penghitungan ilmiah. BPS dan ILO mencatat bahwa rata-rata gaji penduduk Indonesia sudah di atas garis kebutuhan ataupun UMR," katanya.
Menghubungkan dengan laju pembangunan, Uki membeberkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
"Terlebih kalau kita berbicara trend IPM dari tahun ke tahun, terjadi peningkatan di seluruh provinsi. IPM sendiri terdiri dari rata-rata pengeluaran (standar hidup), harapan lama sekolah, tingkat pendidikan dan angka harapan hidup," ujarnya.
Data BPS tentang laju kemiskinan dan pengangguran juga disinggung oleh Pria berdarah Minang tersebut.

"Belum lagi kalau kita bicara jumlah pengangguran dan penduduk miskin di mana pada tahun 2017 mencapai titik terendah sejak era reformasi menurut data BPS. Hal ini membuktikan bahwa Pak Prabowo seorang pesimis dan abai dalam melihat perkembangan kemajuan terakhir," katanya. [rzk]
Share:

Pertamina Luncurkan Produk Baru Elpiji pada 1 Juli







Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk meluncurkan Elpiji nonsubsidi ukuran 3 kilogram (kg) pada 1 Juli 2018. Produk baru tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mampu.
Pelaksana tugas Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina sudah siap meluncurkan Elpiji 3 kg nonsubsidi. Rencananya pada 1 Juli 2018 Elpiji tersebut resmi dijual ke pasar.
"Per 1 Juli. Ya dijual saja tapi ini tidak subsidi," kata Nicke, di Kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jakarta, Jumat (22/6/2018).
Menurut Nicke, kehadiran Elpiji non subsidi 3 kg tidak akan mengganggu penyaluran Elpiji bersubsidi. Pasalnya, pasar yang diincar Pertamina adalah kalangan masyarakat mampu.
Peluncuran Elpiji tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang ingin menggunakan Elpiji dengan ukuran tabung yang lebih ringan dan tak disubsidi.
"Karena kan gini, sebetulnya ada orang yang memerlukan 3 Kg tapi mereka tidak perlu subsidi, mungkin seperti yang di apartemen. Dia ngapai beli yang besar. Karena demand ada maka kita siapkan," ucapnya.
Nicke mengaku Pertamina sudah mengantungi izin dari pemerintah, untuk meluncurkan Elpiji nonsubsidi 3 kg. Untuk mekanisme penjualan tidak dibedakan dengan Elpiji non subsidi yang sudah beredar di pasar.
‎"Kayak kita jual Elpiji yang 12 kg saja, sama saja. Enggak, kita lihat ini ada demand maka kita sediakan," tandasnya.

Harga Elpiji 3 Kg Nonsubsidi Dibanderol Rp 39 Ribu?


Pertamina telah uji coba penjualan Elpiji 3 kg nonsubsidi di Tangerang, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Pertamina akan memproduksi masal Elpiji 3 kg nonsubsidi ini dalam waktu dekat.
Saat ini, Pertamina tengah berkoordinasi dengan Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas dan Pemerintah Daerah untuk segera memasarkan produk terbarunya itu. 
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno mengatakan, ada produk baru ini untuk menjaga penyaluran Elpiji 3 kg bersubsidi tepat sasaran.
"Karena memang selama ini banyak kalangan mampu yang menggunakan gas melon ini, bukan soal harganya tapi lebih ke praktisnya, maka-nya akan ada gas 3 kg ini namun tidak subsidi," kata Harry di Kementerian BUMN, Kamis (31/6/2018).
Mengenai harganya, Harry mengaku akan memliki selisih jika dibandingkan elpiji 3 kg yang subsidi. Jika harga elpiji 3 kg bersubsidi dijual di kisaran harga Rp 20 ribuan, maka elpiji 3 kg non subsidi ini dijual dengan harga Rp 39 ribu per kg.
Hanya saja harga yang diuji coba tersebut belum tentu sama dengan harga distribusi resmi ke depan. Hal itu masih tergantug keputusan Pertamina. Gas elpiji 3 kg nonsubsidi ini nantinya dijual dengan merek Bright Gas dengan tabung memiliki warna pink. "Jadi ibu-ibu pasti nanti suka, lebih bagus," tegas Harry.
Meski akan ada gas elpiji 3 kg, Harry menjamin ke depan tidak ada pengurangan subsidi gas melon. "Bahkan malah subsidi 3 kg itu setiap tahunnya selalu bertambah," papar Harry.
Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:
Share:

Lebaran Tahun ini, Load Factor Garuda Indonesia di Pekanbaru saat Arus Balik Meningkat


Lebaran Tahun ini, <i>Load Factor</i> Garuda Indonesia di Pekanbaru saat Arus Balik Meningkat
Garuda Indonesia (sumber: internet)
PEKANBARU - Pada momen lebaran idul fitri 1439 Hijriah tahun 2018 ini, load factoratau tingkat keterisian penumpang Garuda Indonesia di Kota Pekanbaru, Riau mencapai angka lebih dari 80 persen saat arus balik.
Hal itu dikatakan General Manager Garuda Indonesia cabang Pekanbaru, Agung Anugrah saat berbincang dengan GoRiau.com, Jumat (22/6/2018) siang. "Lebaran tahun ini, kita mengalami peningkatan jumlah penumpang dibandingkan dengan tahun lalu," ucapnya.
"Khusus untuk kita, maskapai Garuda Indonesia jumlah penumpang arus balik untuk rute Jakarta-Pekanbaru, angkanya naik di atas 80 persen, sedangkan pada lebaran tahun lalu hanya mencapai 76 persen," paparnya.
Dirincikannya, dalam kurun waktu lima hari kedepan ini untuk rute Pekanbaru-Jakarta angka keterisian mulai dari 90 persen pada hari Rabu (20/6/2018) kemarin lusa, 93 persen pada hari Kamis (21/6/2018) kemarin.
"Dan hari Jumat (22/6/2018) ini diperkirakan forward booking mencapai 82 persen, untuk Sabtu (23/6/2018) esok diperkirakan mencapai 87 persen. Sedangkan pada puncak arus balik, Ahad (24/6/2018) esok lusa mencapai 87 persen," rinci Agung.
Angka persentase ini merupakan posisi forward booking atau jumlah kursi yang sudah dipesan oleh penumpang sebelumnya dan angka ini bisa saja berkurang atau meningkat sesuai kondisi lapangan.
Agung menambahkan, untuk saat ini Garuda Indonesia sebagai maskapai bintang lima dunia menyiapkan enam jadwal penerbangan untuk rute Pekanbaru-Jakarta.
"Dari enam jadwal penerbangan yang kita sediakan untuk rute Pekanbaru-Jakarta, yang paling banyak diminati adalah jadwal penerbangan kedua hingga keenam. Sedangkan jadwal penerbangan pertama kurang diminati," tambahnya.***
Share: