[OPINI] Tantangan Kemiskinan Di Riau

Kemiskinan yang terjadi di Riau hingga saat ini masih menjadi tantangan besar. Pemerintah sejauh ini sudah melakukan berbagai cara untuk menekan jumlah masyarakat yang tergolong miskin di Riau. Dari tahun ke tahun memang terlihat persentase penduduk miskin terus berkurang.

Coba lihat saja, di tahun 2012 persentase penduduk miskin di Riau sebesar 8,22 persen. Tetapi dengan segala daya dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, di tahun 2016 jumlah penduduk miskin di Riau hanya tinggal 7,78 persen. Ini sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Meskipun persentase menunjukkan penurunan namun jumlah absolut penduduk miskin yang bertambah besar. Hal ini disebabkan kenaikan jumlah total penduduk Riau. Walaupun sejatinya angka kemiskinan tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Bahkan di negara semaju Amerika Serikat pun, angka kemiskinannya selama lima tahun terakhir tidak pernah kurang dari 11 persen.

Berbicara soal kemiskinan memang mengandung unsur yang sangat kompleks. Tetapi, jika kita tarik sebuah benang merah, soal kemiskinan yang ada di Indonesia sangat terkait erat dengan pembicaraan mengenai ketimpangan pendapatan. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Riau memang selalu positif nilainya, tetapi kondisi tersebut kurang mampu mengurangi kemiskinan Riau. Laju pertumbuhan ekonomi dalam 3 tahun terakhir juga menunjukkan bahwa prestasi ekonomi Riau cukup baik. Pada tahun 2014 laju pertumbuhan ekonomi Riau mencapai angka 2,71 persen. Kemudian turun pada tahun 2015 menjadi 0,22 persen tetapi laju pertumbuhan tersebut masih positif. Angka laju pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir, yakni pada tahun 2016 kembali membaik menjadi 2,23 persen. Tetapi, ironisnya, jumlah penduduk miskin bertambah besar. Padahal laju pertumbuhan ekonomi yang positif menunjukkan bahwa perekonomian daerah terus bergerak, uang dan investasi pun juga berputar.

Jika kita amati lebih lanjut, ketimpangan pendapatan tahun 2013 hingga 2016 menunjukkan kondisi stagnan. Pada tahun 2013 ketimpangan pendapatan di Riau sebasar 0,37 kemudian turun menjadi 0,35 di tahun 2014. Pada tahun 2015 angka tersebut kembali naik menjadi 0,36 dan turun menjadi 0,35 di tahun 2016. Artinya tidak ada peningkatan berarti dalam perubahan ketimpangan pendapatan antar penduduk di Riau. Kebijakan perekonomian Riau masih kurang mampu mengangkat derajat hidup masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan. Laju pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh masyarakat kalangan menengah keatas. Sementara itu, masyarakat yang termasuk golongan ekonomi rendah, masih belum bisa memperbaiki kondisi perekonomiannya.

Tingkat pendidikan masyarakat Riau juga rendah. Data Susenas 2016 menunjukkan bahwa 49,3 persen penduduk Riau berpendidikan SD kebawah. Selain itu angka putus sekolah masih cukup tinggi. Pada tahun 2016 tercatat sekitar 5200 anak yang putus sekolah, padahal pemerintah Riau sudah mencanangkan wajib belajar 12 tahun sejak tahun 2013 lalu.

Tampaknya masih banyak perbaikan yang harus dilakukan pemerintah Riau untuk mengurangi jumlah penduduk miskin. Sebab bukan mustahil kalau keluarga miskin yang berhasil keluar dari kemiskinan tetapi jatuh lagi dalam kemiskinan. Terutama apabila program yang digelontorkan pemerintah tidak tepat sasaran. Contohnya saja penyelewengan Bantuan Langsung Tunai yang bukan dibelikan makanan pokok melainkan dibelikan rokok oleh keluarga miskin. Selayaknya bantuan yang diberikan kepada keluarga miskin bukan hanya berupa bantuan tunai atau kemudahan dalam memperoleh pendidikan formal. Akan tetapi pendidikan non formal juga perlu menjadi prioritas utama dalam mengatasi kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan sosial ekonominya. Tidak hanya kepada anak dari keluarga miskin, tetapi juga kepada orangtuanya. 


Oldestia Vianny
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar