(Refleksi 60 Tahun Provinsi Riau)
“Seorang
arkeolog adalah suami terbaik yang wanita bisa dapatkan; semakin menua sang
wanita, semakin ia tertarik padanya”
-Agatha Cristie-
Menua itu, menjadi tua. Demikian
arti kata menua menurut kamus besar bahasa indonesia. Dalam penggolongan usia,
orang yang berusia 60 tahun jelas termasuk golongan tua. Pada usia 60 tahun
rata-rata orang sudah memasuki masa purna bhakti. Untuk ukuran suatu daerah, suatu
provinsi, apakah 60 tahun sudah masuk kategori tua? Selain usia, tanda
seseorang sudah menua adalah berkurangnya kecepatan dalam bergerak. Semakin tua
seseorang, semakin lambat juga gerakannya. Semakin berkurang kebugarannya,
semakin sering sakit. Dalam usianya yang ke 60 tahun, tanda-tanda penuaan
sepertinya sudah menghinggapi Riau.
Pertama, semakin melambat pertumbuhan ekonominya. Mengukur
pertumbuhan ekonomi dapat diibaratkan mengukur orang berlari. Pada awal-awal
berlari, kecepatannya bisa mencapai 60 km/jam. Semakin lama semakin lambat,
hingga tinggal 10 km/jam. Demikian perumpamaan pertumbuhan ekonomi Riau
belakangan ini. Dari yang semula tumbuh sebesar 3,76 persen pada 2012, turun
menjadi 2,23 persen pada 2016 dan bahkan sempat hanya tumbuh 022 persen pada 2015.
Ini tentu jauh menurun jika dibandingkan dengan awal-awal tahun 2000-an yang
mencapai lima persen lebih.
Kedua, semakin menurun penghasilan utamanya. Orang yang masih aktif
bekerja, masih menerima gaji penuh dari pekerjaan utamanya. Selain gaji, bahkan
masih menerima penghasilan yang lain; uang makan, uang lembur, tunjangan
kinerja, perjalanan dinas, dan lain-lain. Ketika pensiun, maksimal tinggal
hanya terima 75 persen dari gaji pokok. Begitupun Riau. Sektor Pertambangan
yang merupakan penyumbang terbesar perekonomian Riau semakin menurun kontribusinya.
Dari 235 sekitar triliun pada tahun 2012, bahkan sampai 268 triliun pada 2014,
sekarang hanya menyumbang 190 triliun. Industri, meskipun masih positif
pertumbuhannya, tetapi semakin tahun semakin melambat. Dan hal ini, terutama
pertambangan, berdampak cukup signifikan terhadap anggaran pembangunan daerah
karena berpengaruh pada besaran dana bagi hasil.
Ketiga, semakin berwarna rambutnya. Hal ini terjadi karena uban
sudah mulai tumbuh di sana sini di kepala. Memandang riau puluhan tahun silam,
ibarat melihat rambut anak muda dari atas, satu warna. Jika rambut anak muda
berwarna hitam semua, Riau hijau semua, karena hutannya masih utuh. Sekarang?
Hutan tinggal hanya cerita. Dimana-mana terjadi penebangan hutan, deforestasi.
Keempat, ada anekdot yang
mengatakan “orang muda mengorbankan kesehatan demi kekayaan, orang tua
mengorbankan kekayaan demi kesehatan”. Itulah hukum alam. Orang muda tidak
peduli panas, hujan, tengah malam, yang menyebabkan batuk demam demi
mengumpulkan harta. Orang tua, menghabiskan harta demi menjaga tubuhnya agar
tidak sakit atau untuk berobat. Dulu, hutan dan seisinya merupakan sumber pendapatan
bagi Riau. Sekarang, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan akibat bencana
yang disebabkan semakin berkurangnya
hutan. Kabut asap, banjir, tanah longsor.
Riau (memang) semakin menua.
Masa tua, biasanya masa
penyesalan. Banyak hal-hal yang disesali dari masa lalu, masa muda. Kalau
saja..kalau saja..jika..andaikan!
Riau tidak perlu menyesali masa
lalu. Memang selam ini mungkin terlalu dininabobokkan oleh minyak bumi. Tidak
berpikir bahwa hutan dan minyak bumi akan habis. Tidak berpikir minyak bumi itu
sumber daya yang tidak terbarukan. Bukan seperti tanaman yang bisa di_replanting. Lupakan minyak bumi, lupakan
hutan. Jika kita mau, masih banyak peluang dan
potensi yang dapat digali dari bumi lancang kuning.
Pertama, wisata alam. Disadari atau tidak, pariwisata sudah menjadi
kebutuhan pokok bagi masyarakat. Gara-gara kurang wisata, bisa mempengaruhi
kebahagiaan seseorang. Banyak potensi wisata alam atau petualangan yang bisa
jadi andalan Riau. Wisata air terjun terbentang di sepanjang lereng Bukit
Barisan dari Kuantan Singingi sampai Rokan Hulu. Guruh Gemurai, Lubuk Bigau,
Aek Matua. Di pelalawan ada bono. Sedangkan di sepanjang pesisir timur ada
tasik, ada hutan gambut, hutan mangrove lengkap dengan pantainya.
Kedua, potensi maritim. Posisi Riau yang berada di Selat Malaka yang
merupakan poros dunia tentu memiliki peran yang sangat strategis. Konon katanya, karena posisinya yang
strategis itulah Rafless bersedia menukar Bengkulu dengan Singapura. Potensi
maritim tidak hanya sektor perikanan, tapi juga sektor-sektor yang lain,
seperti energi dan sumber daya mineral, bioteknologi, industri dan jasa
maritim, wisata bahari. Apalagi dengan adanya program pemerintahan sekarang
yang sedang giat-giatnya membangun tol laut, tentu sektor perhubungan laut juga
menjadi salah satu potensi yang sangat layak dikembangkan.
Lalu, apa yang harus dilakukan
untuk meraih potensi dan peluang tersebut? Tentu banyak hal yang harus
dipersiapkan dan benahi jika ingin menjadikan Riau sebagai daerah yang punya
daya tarik, tujuan investasi dan tujuan wisata. Tetapi yang utama adalah
insfrastruktur. Infrastruktur yang utama adalah jalan. Tidak akan ada
orang yang mau datang kalau tidak ada
jalan. Mari kita lihat Riau.
Wilayah Riau sangat luas. Tetapi
tidak banyak jalan yang menghubungkan antar daerah tersebut. Bagaimana orang
dari Bagan siapi-api ke Pasir Pengaraian harus lewat Minas. Dari Duri ke Sungai
Pakning harus lewat Dumai. Dari Pangkalan Kerinci ke Teluk Kuantan harus lewat
Pekanbaru atau lewat Air Molek. Mungkin sudah ada jalan, tetapi terlalu kecil,
sehingga tidak banyak yang tahu. Atau kalau pun tahu, ragu untuk melewatinya,
sehingga memilih untuk memutar jalan.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo
saat ini sangat gencar membangun infrastruktur. Ini juga jadi salah satu
peluang Riau untuk memajukan infrastrukturnya. Tingkatkan atau perbaiki jalan
yang sudah ada, buka yang belum ada. Contohnya dari Pangkalan Kerinci ke Teluk
Meranti, Kuala Kampar tembus ke Guntung, Indragiri Hilir. Jika ini dibangun,
akan membuka akses ke daerah pesisir sampai ke Selat Panjang. Buka juga jalan
dari Duri ke Sungai Pakning, dari Dumai ke Bagan Siapi-api, dari Ujung Tanjung
ke Pasir Pengaraian.
Juga, dengan adanya rencana
pemerintah pusat membangun jalan ton Pekanbaru – Padang, Riau dapat mengusulkan
rutenya, yakni dari Pekanbaru - Lipat Kain – Payakumbuh. Rute ini, selain
membuka akses yang selama ini belum ada, terutama untuk menuju lereng
Pegunungan Bukit Barisan yang kaya potensi wisata alam, juga dapat memperlancar
akses ke Teluk Kuantan yang merupakan gerbang Riau menuju Lintas Tengah
Sumatera.
Selain infrastruktur, yang perlu
dilakukan segera adalah pemekaran wilayah. Segera realisasikan pemekaran
wilayah yang sudah direncanakan selama ini. Indragiri hilir Utara, Indragiri
Hilir Selatan, Gunung Sahilan, Mandau, maupun Rokan Darussalam. Semakin cepat
pemekaran wilayah dilakukan, semakin cepat juga daerah tersebut akan maju. Fungsi
pemerintah adalah menyiapkan infrastruktur, menyiapkan aturan, regulasi yang
pasti, dan biarkan investor yang akan membangun daerah tersebut.
Jika sudah begini, Riau, yang
biarpun semakin menua, dapat menikmati masa tua dengan tenang, tetap menjadi
daya tarik bagi siapapun, seperti kata Agatha Cristie di atas..
Semoga…
Agatha Cristie, “Seorang arkeolog adalah suami terbaik yang wanita bisa
dapatkan; semakin menua sang wanita, semakin ia tertarik padanya”.
Gunadi
Gunadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar