Badan
Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau merilis jumlah penduduk miskin (penduduk
yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Riau pada kondisi Maret 2016 adalah
sebesar 515.400 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 56.180 jiwa penduduk
miskin berada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Jumlah ini merupakan 30,89 persen
dari total penduduk kabupaten termuda di Provinsi Riau ini.
Apakah Garis
Kemiskinan itu?
Seseorang
disebut miskin atau tidak dilihat dari kemampuannya memenuhi kebutuhan makan
sebanyak 2100 kilokalori ditambah kebutuhan dasar bukan makanan perharinya.
Garis Kemiskinan menjadi pembatasnya. Penentuan Garis Kemiskinan mengacu pada
pengeluaran penduduk di masing-masing wilayah. Karena itu Garis Kemiskinan
berbeda-beda di setiap wilayah. Sebanyak 56.180 penduduk miskin di Kabupaten
Kepulauan Meranti adalah penduduk dengan pengeluaran rata-rata dibawah Rp
427.938 per orangnya selama satu bulan. Jika rata-rata jumlah anggota rumah
tangga dalam satu keluarga di Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 4 orang,
maka satu keluarga dikatakan miskin jika pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan
dasar keluarga tersebut kurang dari Rp 1.711.752 per bulannya.
Mengapa Belum
Berkualitas?
Upaya
Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk mengurangi jumlah penduduk miskin
memang telah nyata adanya. Merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kabupaten Kepulauan Meranti, berbagai upaya telah dan akan
dilakukan pemerintah guna mengangkat penduduk miskin menjadi tidak miskin.
Walaupun sejalan dengan capaian yang diinginkan dalam Indikator Kerja Misi,
namun jika dicermati penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti
belum berkualitas. Secara persentase, memang jumlah penduduk miskin di Kepulauan
Meranti mengalami penurunan, yaitu dari 34,08 persen pada tahun 2015 menjadi 30,89
persen pada tahun 2016. Namun, kemiskinan tidak hanya soal persentase, tetapi
juga soal Indeks Kedalaman (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2).
Walaupun
persentase penduduk miskin mengalami penurunan, namun Indeks Kedalaman dan Indeks
Keparahan Kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti menunjukkan nilai yang
semakin besar. Indeks kedalaman kemiskinan pada tahun 2016 adalah 7,17 lebih
dalam jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2015 yang sebesar 6,63. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk
yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami
kondisi ekonomi yang tidak lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan tahun
2015. Indeks keparahan kemiskinan juga menunjukkan kondisi yangg sejalan, yaitu
2,42 pada tahun 2016, lebih "parah" jika dibandingkan dengan kondisi
tahun 2015 yang sebesar 2,03. Kondisi ini menunjukkan semakin lebarnya
kesenjangan ekonomi antar penduduk miskin di Kabupaten Kepulauan Meranti pada
tahun 2016.
Indeks
Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) menunjukkan rata-rata
kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk terhadap Garis Kemiskinan. Nilai
indeks yang semakin tinggi menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin
jauh dibawah dari Garis Kemiskinan. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di
Provinsi Riau, Kabupaten Kepulauan Meranti
memiliki Indeks Kedalaman Kemiskinan yang paling besar, yaitu 7,17,
sementara Kabupaten lain berada pada rentang 0,41 hingga 1,79. Selain itu,
Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Gap Index-P2) memberikan gambaran
mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Saat nilai indeks
semakin tinggi, maka semakin tinggi pula ketimpangan pengeluaran diantara penduduk
miskin. Dan jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Riau, Kabupaten
Kepulauan Meranti memiliki Indeks
Keparahan Kemiskinan yang paling besar, yaitu 2,42, sementara kabupaten lain
berada pada rentang 0,08 hingga 0,47.
Dasar
Kebijakan
Merujuk pada tulisan Jousairi Hasbullah,
bahwasanya membaca data statistik bukan sekedar melihat besaran angka lalu
memperdebatkannya. Tetapi lebih pada memaknai angka tersebut sebagai realita
dan menemukan kebijakan yang berpijak pada realita yang ada. Apakah upaya yang
dilakukan sekedar mengejar penurunan penduduk miskin? Apakah upaya yang
dilakukan benar-benar telah menyentuh “kualitas” kehidupan penduduk miskin? Karena
sejatinya upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan
suatu perjalanan yang panjang, maka hendaknya yang menjadi tujuan bukan saja
kuantitas penduduk miskin tetapi juga kualitas kehidupan penduduk miskin.Dessy Syukriya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar