Objek wisata merupakan salah satu
daya tarik suatu daerah untuk dikunjungi oleh para pelancong. Lihat saja
Yogyakarta, ada Candi Prambanan yang terkenal, Kebun binatang Gembira Loka,
Malioboro dan sebagainya. Atau tak usah terlalu jauh ke Yogyakarta, tetangga
provinsi kita Sumatera Barat sudah menjadi destinasi wisata bagi pelancong yang
berada di sekitar wilayah tersebut termasuk Riau. Padahal jika dikulik lebih
jauh Riau juga memiliki potensi wisata yang cukup besar di Kabupaten Kampar.
Berdasarkan data dari Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar terdapat 80 objek wisata baik berupa
objek wisata alam, budaya/sejarah maupun buatan. Sayangnya banyak dari objek
wisata tersebut yang belum dikelola dengan maksimal.
Kabupaten Kampar memiliki Candi
Muara Takus namun keberadaan wisata sejarah ini tidak sepopuler Candi
Prambanan. Kabupaten Kampar juga memiliki Tugu Khatulistiwa, namun tak
seterkenal Tugu Khatulistiwa di Pontianak.
Jika ditelisik lebih jauh dua
objek wisata tersebut memiliki letak yang strategis dan fasilitas yang memadai
seperti penunjuk jalan, sarana jalan, akomodasi, transportasi dan lainnya.
Bandingkan dengan Candi Muara Takus yang akses kesananya saja cukup berliku dan
minim petunjuk arah. Sedangkan tugu khatulistiwa di Kecamatan Kampar Kiri,
walaupun terletak di tepi jalan lintas Lipat Kain-Taluk Kuantan tidak
menyuguhkan sesuatu yang menarik.
Selain letak yang jauh dan daya
tarik yang rendah, promosi dan pembangunan fasilitas yang memadai sangat
diperlukan. Meskipun semua itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Jika
kita lihat bagaimana Candi Prambanan bisa seperti sekarang, itu memerlukan
waktu yang lama. Pembebasan lahan untuk digunakan sebagai cagar budaya dan
pemugaran candi yang dilakukan bertahap tentu membutuhkan biaya yang besar dan
waktu yang panjang.
Kenapa pariwisata perlu
dikembangkan? Karena sektor ini cukup menjanjikan baik dari aspek sosial maupun
ekonomi. Dari aspek sosial, berkembangnya sektor pariwisata akan membuka banyak
lapangan pekerjaan. Diharapkan dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang
terbentuk dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka maupun kemiskinan.
Selain itu pengelolaan objek wisata budaya/sejarah merupakan salah satu cara
melestarikan budaya dan mempertahankan sejarah.
Sementara dari aspek ekonomi,
berkembangnya sektor pariwisata dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dari
sisi PDRB sektoral berkembangnya pariwisata dapat meningkatkan nilai tambah
bruto sektor perdagangan, transportasi, akomodasi dan penyediaan makan minum
serta jasa hiburan dan rekreasi.
Sedangkan dari sisi PDRB
Pengeluaran, berkembangnya sektor pariwisata dapat meningkatkan komponen PMTB
dan Ekspor antar daerah. PMTB meningkat seiring dengan peningkatan
infrastruktur yang mendukung pariwisata, sedangkan ekspor antar daerah
meningkat dari pembelian barang-barang dari wisatawan yang dibawa ke daerahnya
masing-masing. Selain itu berkembangnya sektor pariwisata dapat memberikan
sumbangsih terhadap pendapatan asli daerah (PAD) yang juga dapat meningkatkan
APBD.
Saat ini Pemerintah Daerah
Kabupaten Kampar sudah mulai mempromosikan objek wisatanya. Hal ini terlihat
dari Baliho yang terpampang di depan Taman Kota Bangkinang yang mempromosikan
objek wisata Taman Rekreasi Stanum. Taman Rekreasi tersebut dulu pernah jaya di
tahun 90-an. Mulai mati suri di era kepemimpinan yang lalu. Kini taman tersebut
akan dihidupkan kembali.
Tak hanya Taman Rekreasi Stanum yang
perlu dipromosikan, masih ada objek wisata lain yang masih perlu dipromosikan
seperti Taman Wisata Bukit Naang yang menyajikan outbound di dalamnya, masih ada objek wisata budaya dan sejarah
seperti Istana Gunung Sahilan dan Rumah Adat Lontiok yang belum setenar objek
wisata sejenis.
Mudah-mudahan ke depannya
Kabupaten Kampar dapat menjadi salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Riau
pada khususnya maupun masyarakat di Indonesia pada umumnya. Dan dengan program
pemerintah daerah untuk mengembangkan pariwisata semoga dapat meningkatkan
kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar