Seragam tidak selamanya baik. Justru yang beraneka ragam banyak disukai orang. Namun kita (Indonesia) sudah terbiasa dengan keseragaman . Baju sekolah seragam . baju kerja seragam. Baju arisan seragam . baju pesta seragam. Pergi jalan-jalanpun pakai baju seragam.
Tak beda
dengan pakaian, ekonomi di Riau pun seragam.
Ketika minyak bumi sedang jaya
dan menjadi primadona Riau begitu riang menikmati nya. Rasa manis yang terasa
selama bertahun-tahun melenakan. Ketika
produksi minyak mulai berkurang dan hargapun bagai “prosotan” baru tersadar.
Tak selamanya minyak licin yang membuat
ekonomi Riau berjalan kencang. Padahal lebih dari sepertiga ekonomi Riau
disumbang dari komoditas minyak ini.
Alihkan pandangan ke perkebunan. Ketika harga CPO cukup menggiurkan mulailah orang Riau menanam
sawit. Mulai dari akhir 90-an hingga awal tahun 2000-an banyak pihak mulai
tanam sawit. Saat ini yang resmi tercatat seluas 2.5 juta hektar. Yang ilegal
diperkirakan 1.8 juta hektar. Bahkan kebun sawit Riau terluas se Indonesia.
Industri
pengolahan sawit pun mulai tumbuh bak jamur di bumi lancang kuning. Hingga saat
ini sekitar 250 pabrik hadir di sini. Tapi masih sebatas menghasilkan CPO. Dan
hanya sedikit yang mengolah produk turunannya. Produk CPO sebagian besar di
ekspor terutama ke Tiongkok dan India.
Setali tiga uang dengan tambang minyak, perkebunanpun kini sedang merana.
Industri CPO pun sedang meriang. Harga komoditas CPO agak liar. Ingin pula dia
main prosotan. Kadang main roller coaster pula. Mual-mual petani sawit
dibuatnya. Padahal dari perkebunan dan industri CPO ini setengah ekonomi Riau
berasal.
Dari sawit-CPO dan minyak bumi ini ¾
dari ekonomi Riau bertumpu padanya. Ya
hanya dua komoditas.. betul hanya dua komoditas
tapi bisa membuat ekonomi Riau
pening dan mual-mual. Kenapa bisa bikin pening? Harga kedua komoditas
ini bukan kita yang atur. Harga minyak tergantung sama produsen utama (OPEC,
Amerika dan Rusia) dan pengguna utama (Amerika dan Tiongkok). Harga sawitpun
senasib, bukan kita yang mengatur. Walaupun Riau dan Indonesia produsen CPO
terbesar.
Keberanian semua pemangku kepentingan ditantang. Untuk mencari solusi mengatasi
kondisi akhir-akhir ini. Harapan tidak boleh lagi digantungkan pada beberapa
komoditas. Sumber ekonomi baru terus digali. Sebagai alternatif bagi sawit dan
minyak bumi yang kian lemah. Sedikit mulai melirik sektor jasa tak ada
salahnya. Sebab jasa tak pernah mengalami turun harga.
Gubernur Riau mulai menggerakkan
sektor pariwisata sudah tepat. Rencana harus dibuat secara matang. Semua
pemangku kepentingan harus seia sekata. Infrastruktur harus digesa, kesadaran
masyarakat harus dibina. Rencana tata ruang segera dirampungkan.
Tidak mudah memang tapi secara jangka panjang cukup menjanjikan . Karena
pariwisata akan menggerakan banyak sektor ekonomi di Riau. Perdagangan akan
lebih bergairah. Transportasi akan semarak. Industri kerajinan akan bergeliat.
Hotel dan restoran akan semakin cemerlang dan sebagainya.
Ada sedikit cemas terselip terhadap program pengembangan pariwisata ini.
Tahun depan akan berlangsung pemilihan gubernur di Riau. Seandainya gubernur
yang terpilih nanti enggan meneruskan program ini. Dengan alasan hasil sulit
didapat dalam waktu sekejab.Alangkah sayangnya program jadi terbuang sia-sia.
Ada pilihan solusi lainnya. Hilirisasi industri CPO patut dicoba. Dalam
jangka lebih pendek bisa di gesa. Koordinasi dengan pemeritah pusat senantiasa
dijaga. Penyediaan infrastruktur dan tata ruang tetap ditaja. Ini juga bukan
solusi yang mudah tapi bukan tidak mungkin. Dan hasilnya lebih mudah
dikalkulasikan.
Terlepas solusi mana yang akan dipakai, mencari sumber baru pengerak
ekonomi Riau harus di gesa. Kalo tidak akan teruk jadinya. Bahwa keragaman
adalah keniscayaan. Keragaman akan saling melengkapi kekurangan. Dan Akhirnya
ekonomi Riau akan kokoh jadinya.... Wallahu a’lam.
Hartono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar