[OPINI] Budaya Kerja, Budaya Kejar?


Target sebuah organisasi tidak lepas dari visi dan misi yang telah disepakati atau di tentukan. Organisasi BPS pun demikian, baik di level pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Dalam implementasinya, berbagai kegiatan pendataan terus dilakukan, berbabagi inovasi untuk menghasilkan sebuah informasi terus dimunculkan. Namun semuanya bermuara pada semakin banyaknya pekerjaan di level terendah yakni di kabupaten/kota. Berbagai pendataan tersebut menuntut dua hal yakni, Kualitas dan Ketepatan Waktu.
Apakah semuanya akan dapat tercapai secara beriringan? Sulit, itu pasti jawaban yang akan diperoleh. Namun kita harus menanamkan optimism hal tersebut dapat tercapai. Kondisi yang terjadi saat ini adalah kejar waktu dan kejar kualitas, kondisi ini mengorbankan kondisi pegawai yang ditargetkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Apakah kondisi ini benar? Atau memang kondisi ini salah?
Benar salah akan tergantung sudut pandang yang berbeda. Menjadi benar jika memandang hal tersebut sebagai wujud tanggung jawab kita sebagai ASN dengan tugas menyediakan data. Menjadi salah, jika banyak keluhan atau mengorbankan hal lain dalam pencapaian target tersebut. Kejar target penyelesaian pekerjaan agar menjadi peringkat teratas dalam penyelesaian pekerjaan seolah menjadi rutinitas yang baru di organisasi kita. Namun apakah itu yang menjadi tujuan kita? Apakah seluruh sumber daya kita telah terpenuhi? Apakah hal pendukung lain telah tersedia? Ini menjadi penting agar setiap insan yang terlibat dalam pencapaian target tersebut merasa nyaman dan mudah dalam memenuhi target tersebut.
Membangun budaya kerja yang kondusif dan produktif adalah salah satu aspek terpenting yang perlu dikembangkan terus menerus, karena upaya inilah yang harus dilakukan melalui cara pendekatan komunikasi yang tepat. Tujuannya, agar setiap gagasan organisasi dapat dipahami secara efektif oleh seluruh lapisan pegawai.
Dalam pencapaian hal tersebut diperlukan sebuah lingkungan yang saling sinergi, harmonis, kondusif, dan produktif. Seorang pegawai yang memiliki kemampuan individual tinggi, akan termotivasi untuk berproduktivitas rendah dalam sebuah lingkungan kerja yang tidak kondusif dan produktif. Namun sebaliknya, jika lingkungan kerja kondusif dan produktif, seorang pegawai yang memiliki kemampuan individual biasa pun akan termotivasi untuk memiliki produktivitas yang tinggi.
Produktivitas pegawai ditentukan oleh keberhasilan budaya kerja yang dimiliki organisasi. Organisasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh prinsip-prinsip dasar manajemen yang telah sering dipelajari. Hal terpenting saat ini adalah budaya organisasi (corporate culture) dan membangun komunikasi yang efektif.
Tindakan apa yang harus dan perlu dilakukan pimpinan untuk menciptakan kondisi kerja yang kondusif? Kondisi kerja yang kondusif dan produktif, hanya bisa tercapai bila para pimpinan dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut, yaitu pertama, pegawai merasa nyaman bekerja dan hal ini karena didukung dengan baik oleh atasannya. Kedua, proses bisnis dilakukan dengan efisien dan efektif tanpa birokrasi yang berlebihan, ketiga, perencanaan dan manajerial proses bisnis memperhatikan sumber daya yang tersedia. Keempat, pimpinan berhasil mencipatakan budaya kerja yang sesuai dengan visi dan misi organisasi, dimana sikap dan perilaku pegawai dapat sejalan dengan sasaran organisasi dan menjadi salah satu faktor kekuatan organisasi. Terakhir, sangat penting bagi organisasi untuk menciptakan kondisi kerja yang kondusif, agar dapat mencapai kinerja yang maksimal dan produktif. Kondisi yang kondusif hanya dapat terjadi, bila kondisi kerja dalam perusahaan harmonis, yang dapat menimbulkan sinergi kerja dan produktivitas yang tinggi. Sebaliknya bila organisasi atau perusahaan dengan kondisi kerja tidak harmonis tidak akan dapat tercipta kondisi kerja yang kondusif.
Setiap pimpinan perlu memiliki fundamental intrapersonal skill yang kuat, kemampuan manajerial yang baik, kompetensi intrapersonal dan leadership yang ethical. Semua itu juga harus di perkuat dengan cara komunikasi yang baik dan efektif.
Budaya kerja yang ideal tersebut juga perlu andil dari setiap pegawai. Pencapaian ini hanya akan tercapai jika semua lapisan bersinergi. Kritikan hanya akan melemahkan organisasi. Tunjukan upaya apa yang seharusnya lebih tepat dalam pencapaian target agar efektif dan efisien. Mari Bersama kita berupaya menciptakan budaya kerja yang memberikan kenyamanan bagi semua tanpa harus mengorbankan kepentingan organisasi dan juga kepentingan pribadi. Atau apakah kita merasa nyaman dengan budaya kejar (waktu, kualitas, kuantitas)? Pilihan ada di diri kita dan organisasi kita.


Lifi Ana
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar