[OPINI] Miskin Juga Bisa Bahagia

Kemiskinan adalah persoalan lama yang tak kunjung purna. Penanggulangan kemiskinan bukan hal yang sederhana, akan tetapi kemiskinan telah menjadi bagian kehidupan yang ditakuti orang banyak. Permasalahan kompleks ini menjadi momok bagi semua negara, sehingga perhatian untuk menekan kemiskinan menjadi prioritas. Miskin menurut KBBI artinya tidak berharta benda, serba kekurangan, papa, sangat melarat. Miskin juga dapat dimaknai kurangnya kesejahteraan (Gonner, 2007). Sajogyo dalam Hadi Prayitno & Lincoln Arysad (1986) menyatakan bahwa kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum yang ditetapkan berdasarkan atas kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan hidup sehat, berdasar atas kebutuhan beras dan kebutuhan gizi. Badan Pusat Statistik mendefinisikan miskin sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Artinya Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

Indonesia sebagai negara berkembang tidak lepas dari penisbatan negara dengan jumlah penduduk miskin yang banyak. Pada semester  I (Maret) 2017, persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 10,64 persen. Artinya ada sebanyak 27,77 juta penduduk yang berada dibawah kemiskinan. Dari 34 provinsi, ada sebanyak 16 provinsi yang memiliki angka kemiskinan diatas rata-rata nasional. Adapun provinsi yang dimaksud adalah Provinsi Aceh, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, maluku, Papua Barat, dan Papua. Provinsi dengan Angka Kemiskinan tertinggi adalah provinsi papua yaitu sebesar 27,62 persen.
Tingginya angka kemiskinan tidak serta merta membuat masyarakatnya tidak menikmati hidupnya. Para ahli mengatakan bahwa hidup bahagia itu relatif (subjective well being), tidak hanya bergantung pada satu sudut pandang. Misal saja dalam soal ini, bahagia tidak melulu efek dari kehidupan yang serba ada. Miskin bisa tetap bahagia. Seperti pemaparan Michael Sendow pada artikelnya tentang penduduk yang berada di desa Lopana di Kab. Minahasa Selatan hidup dengan segala keterbatasan tetapi mereka tampak bahagia. Kunci dari bahagia mereka adalah bersyukur dalam segala hal dan memberi manfaat kepada orang lain.
Untuk mengetahui seberapa bahagia penduduk Indonesia, pemerintah melalui Badan Pusat Statistik telah melakukan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan 2017 (SPTK2017). Indeks kebahagiaan diukur dari dimensi Kepuasan Hidup, Perasaan (Affect) dan Makna Hidup (Eudaimonia).  Melalui Berita Resmi statistik, BPS merilis angka Indeks Kebahagiaan Indonesia dengan dua metode pengukuran yaitu metode 2014 (hanya menggunakan dimensi kepuasan hidup) dan metode 2017(menggunakan dimensi kepuasan hidup, perasaan, dan Makna Hiudp). Dengan menggunakan metode 2014, Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017 sebesar 69,51 lebih tinggi dibanding tahun 2014 sebesar 68,28. Dengan demikian telah terjadi peningkatan indeks sebesar 1,23 poin. Sedangkan dengan metode 2017, indeks kebahagiaan Indonesia sebesar 70,69.
Dari 34 provinsi, ada sebanyak 24 provinsi memiliki indeks kebahagiaan diatas rata-rata nasional. Indeks Kebahagiaan tertinggi di provinsi Maluku Utara yaitu sebesar 75,68 dan yang terendah di provinsi Papua sebesar 67,52. Hal yang lumrah jika kemiskinan rendah tingkat kebahagiaan tinggi begitu juga jika kemiskinan tinggi tingkat kebahagiaannya rendah. Hal yang menarik adalah jika angka kemiskinan tinggi  tetapi tingkat kebahagiaan tinggi juga. Dari 16 provinsi dengan persentase kemiskinan diatas rata-rata nasional ada sebanyak 11 provinsi yang memiliki indeks kebahagiaan diatas rata-rata nasional diantaranya Aceh, Sumatera Selatan, jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Sulawesi tengah, Sulawesi tenggara, Gorontalo, maluku, dan Papua Barat. Provinsi yang paling mencolok adalah provinsi Maluku dan Papua Barat. Angka Kemiskinan Provinsi Maluku peringkat 4 (18,45%) sedangkan indeks kebahagiaannya peringkat 2 tertinggi se-Indonesia (73,77). Begitu juga dengan Provinsi Papua Barat dengan peringkat 2 angka kemiskinannya (25,1%) tetapi indeks kebahagiaanya peringkat 18 (71,73) dan nilainya diatas rata-rata nasional.
Jika menelisik lebih dalam lagi, tingginya tingkat kebahagiaan dari 11 provinsi di atas ditopang dari indeks Dimensi Kepuasan hidup terutama subdimensi Kepuasan hidup sosial. Subdimensi kepuasan hidup sosial menjadi indikator dengan urutan tertinggi dari semua indeks penyusun indeks kebahagiaan yaitu 81,33 di Provinsi Maluku. Subdimensi Kepuasan Hidup Sosial diukur dari 5 indikator yaitu keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan dan kondisi keamanan. Artinya pada 11 provinsi tersebut memiliki hubungan dalam keluarga yang lebih harmonis, ketersediaan waktu luang yang banyak, hubungan sosial dengan masyarakat yang lebih erat, keadaan lingkungan dan keamanan yang lebih kondusif dan aman sehingga tingkat kebahagiaannya tinggi. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan penduduk disuatu daerah bisa tinggi meskipun tingkat kemiskinannya tinggi juga.


Dede Firmansyah
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar