[OPINI] Siapakah Penggerak Ekonomi Riau?

BPS Provinsi Riau melansir angka PDRB Riau triwulan II/2017 (periode April-Juni 2017) yang dihitung berdasarkan harga berlaku sebesar 171,50 triliun rupiah. Artinya, nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan perekonomian yang berlangsung di Riau mencapai angka tersebut. Dimulai dari sektor pertanian, pertambangan, industri hingga berbagai kegiatan jasa masing-masing menyumbangkan nilai tambahnya terhadap perekonomian Riau. Termasuk juga kegiatan perhotelan, wisata kuliner yang semakin menjamur di Riau dan juga transportasi berbasis online Go-jek yang mulai beroperasi di Pekanbaru turut serta menggerakkan perekonomian Riau. Angka ini menyebabkan Riau menjadi provinsi penyumbang terbesar kelima dalam pembentukan PDRB Indonesia, setelah provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lalu siapakah sektor penyumbang terbesarnya? Tak lain adalah sektor pertambangan yang masih menjadi sektor andalan Riau yang terkenal sebagai salah satu provinsi penghasil minyak terbesar di Indonesia. Kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian Riau mencapai 25,61 persen pada triwulan II/2017.

Namun, menurut hasil penghitungan BPS, nilai tambah sektor pertambangan terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Apabila dibandingkan dengan triwulan I-2017, sektor pertambangan mengalami pertumbuhan minus 1,28 persen dan apabila dibandingkan dengan triwulan II-2016 pertumbuhannya sebesar minus 6,77 persen. Hal ini dikarenakan produksi minyak di Riau yang terus mengalami penurunan. Sumur-sumur minyak yang ada sudah terlalu tua dan tidak ada kegiatan ekplorasi sumur minyak baru yang dilakukan. Selain itu, harga minyak dunia yang tidak stabil turut serta menjadi penyebabnya. Menurut Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau, produksi minyak bumi di Riau yang terus mengalami penurunan ini sudah terjadi selama kurun waktu empat tahun terakhir. Daerah-daerah penghasil minyak di Riau, seperti Kabupaten Bengkalis, Siak dan Rokan Hilir, terkena imbasnya. Pertumbuhan ekonomi ketiga kabupaten ini terjun bebas, terutama Bengkalis yang selama tiga tahun berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Bagaimana tidak, hampir 70 persen perekonomian Bengkalis ditopang oleh sektor pertambangan. Selain itu, sejak adanya UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang efektif berlaku pada Januari 2014 menyebabkan produksi batubara di Riau juga mengalami penurunan. Hal ini semakin memperparah kinerja sektor pertambangan terhadap perekonomian Riau.
Setelah sektor pertambangan, sektor industri merupakan penyumbang terbesar kedua dalam pembentukan PDRB Riau. Kontribusi sektor industri pada triwulan II/2017 sebesar 24,89 persen. Sektor industri di Riau didominasi oleh industri makanan, dengan hasil industri utamanya Crude Palm Oil (CPO) dan hasil turunan sawit lainnya. Pada tahun 2016, jumlah perusahaan yang bergerak di industri makanan mencapai 196 perusahaan dan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 50.694 orang (Riau Dalam Angka).
Sektor pertanian merupakan sektor terbesar ketiga yang berkontribusi terhadap perekonomian Riau. Sektor ini mampu menyumbang sebesar 23,91 persen dalam pembentukan PDRB Riau periode triwulan II/2017. Komoditas utamanya berasal dari subsektor perkebunan, yakni kelapa sawit. Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi terbesar penghasil kelapa sawit di Indonesia. Sekitar 21 persen dari produksi sawit nasional berasal dari Riau. Hal ini sejalan dengan luas lahan sawit Riau yang sangat luas, mencapai 23 persen dari total luas lahan sawit di Indonesia. Sehingga tidak jarang, bahkan setiap tahunnya, bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan terjadi di Riau yang dilakukan dengan tujuan untuk membuka lahan sawit. Beberapa kabupaten di Riau, yang tidak mempunyai potensi sumber daya minyak di daerahnya, masih menggantungkan perekonomiannya di sektor pertanian, seperti Kabupaten Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan Hulu dan Kepulauan Meranti.
Ketiga sektor inilah yang menjadi penggerak perekonomian Riau. Apabila diperhatikan, perekonomian Riau masih bergantung pada sumber daya yang disediakan oleh alam. Pemerintah hendaknya semakin memberdayakan sumber daya yang tersedia di Riau ini semaksimal mungkin. Hal ini bertujuan agar perekonomian Riau semakin terangkat dengan potensi yang dimilikinya. Peran serta sektor perekonomian lainnya jangan juga dilupakan. Walaupun kontribusinya tidak terlalu besar, pemerintah harus tetap memperhatikan sektor-sektor tersebut agar kedepannya Riau tidak hanya mengandalkan sektor primer tetapi juga bisa bergantung pada sektor sekunder dan tersier.


Rahmi Renzya
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar