Apa
itu tukang potret lapangan? Tukang potret adalah suatu bentuk pekerjaan yang fungsi
utamanya dari pekerjaan tersebut memotret suatu objek tertentu. Lapangan dapat
diartikan suatu tempat yang merupakan objek dari kegiatan memotret. Jika
keduanya digabung, tukang potret lapangan, artinya menjadi seseorang yang
pekerjaannya memotret keadaan lapangan. Memotret sendiri maknanya kegiatan yang
menghasilkan gambar dari objeknya, dalam hal ini lapangan. Sehingga hasil dari
kegiatan tukang potret lapangan ini diharapkan dapat menggambarkan apa yang
terjadi di lapangan. Siapakah mereka? Mereka adalah petugas-petugas sensus/survei
yang bertugas mengumpulkan data di lapangan. Instansi yang dipercayakan untuk
tugas ini adalah Badan Pusat Statistik (BPS).
Menjadi petugas
sensus/survei BPS itu gampang-gampang susah. Gampang kalau mendapatkan
responden yang welcome dan
bersahabat. Susah jika mendapatkan responden yang acuh tak acuh dan tidak
kooperatif. Kedua tipe responden itu selalu dikait-kaitkan dengan karakteristik
sosial budaya maupun ekonominya. Misalnya saja jika responden tersebut bersuku
bangsa jawa maka relatif enak saat didata. Tak heran karena suku bangsa jawa
terkenal dengan keramah-tamahannya. Lain lagi jika mendapat responden dari
golongan sosial yang berbeda seperti berpendidikan tinggi dan rendah. Maka
tidak menjamin bahwa yang berpendidikan tinggi lebih terbuka dalam memberikan
jawaban ketika diwawancarai dibandingkan yang berpendidikan rendah. Pernah
suatu ketika, saat mencacah responden golongan berpendidikan tinggi ini malah
menolak untuk didata dengan berbagai alasan
seperti tidak punya waktu atau sibuk. Seperti mencari-cari alasan supaya
tidak didata. Tidak jauh berbeda dengan responden yang kaya dan kurang mampu
maka relatif lebih mudah untuk mendata responden yang kurang mampu. Responden
kaya sangat sulit ditemui. Rumah berpagar tinggi menjadi halangan pertama untuk
mendata responden ini.
Tak diragukan lagi,
beban yang ditanggung petugas sensus/survei. Merekalah yang menghadapi
responden secara langsung. Kegiatan sensus/survei ini bagi kebanyakan
masyarakat dianggap sebagai pendataan untuk mendapatkan bantuan. Tak jarang
mereka berbondong-bondong untuk didata padahal dari daerah tersebut hanya
sebagian rumah tangga yang menjadi target dari survei tersebut. Hal ini kadang
menimbulkan keriuhan di daerah tersebut. Mereka bertanya-tanya mengapa cuma
sebagian saja yang didata dan mereka tidak didata. Tak jarang mereka memaksa
untuk didata oleh petugas sensus/survei. Oleh sebab itu, petugas sensus/survei
dituntut untuk punya pengetahuan tentang kaidah survei dan mampu menjelaskannya
ke masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami.
Untuk sebagian
wilayah tertentu keselamatan jiwa menjadi perhatian utama. Sebagai contoh
daerah konfilk di Papua. Koordinasi dengan berbagai pihak diperlukan agar
tercapai tujuan sensus/survei. Misalnya dengan melibatkan Organisasi Papua
Mardeka (OPM) agar pekerjaan sensus/survei lancar dan keselamatan jiwa
terjamin. Selain itu, kondisi wilayah yang berbukit atau wilayah perairan juga
berkaitan dengan keselamatan jiwa. Ada wilayah yang tidak bisa dilalui oleh
alat transportasi tertentu sehingga mengharuskan berjalan kaki untuk sampai ke
wilayah yang dituju. Adapula daerah kepulauan yang harus menyeberang dengan speedboat atau alat tranportasi air
lainnya. Jika petugas tidak bisa berenang misalnya, ini juga akan membahayakan
keselamatannya kalau terjadi sesuatu.
Seolah masalah
belum selesai menghampiri petugas, ada pula rumor yang beredar di masyarakat
untuk berhati-hati jika ada petugas sensus/survei yang datang ke rumah. Seperti
yang diberitakan setahun yang lalu saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2016. Ada
perusahaan/usaha yang didatangi petugas sensus gadungan dan membius karyawan di
perusahaan tersebut. Alhasil perusahaan tersebut mengalami kerugian materi
akibat kehilangan harta bendanya. Alhasil, citra petugas sensus/survei
tercoreng dan tambah ditakuti oleh masyarakat.
Setelah
responden, baik masyarakat maupun perusahaan/lembaga, bersedia untuk didata, tantangan
selanjutnya bagi petugas sensus/survei adalah mengorek informasi dari
responden. Keakuratan data yang dikumpulkan sangat tergantung pada keahlian
petugas dalam mengkomunikasikan pertanyaan dalam daftar isian di kuesioner.
Untuk survei tertentu, pertanyaan yang diajukan sangat banyak. Akibatnya
responden jenuh dan bosan.
Selain responden
rumah tangga ada lagi responden lain yang menjadi target sensus/survei BPS
adalah perusahaan. Garis besar pertanyaan untuk sampel perusahaan ini adalah
tentang Neraca keuangan. Pertanyaan mengenai Neraca keuangan ini merupakan hal
yang tabu. Perusahaan terkesan takut memberikan jawaban, apalagi hal ini sering
dikait-kaitkan dengan pajak.
Sebetulnya masalah-masalah
di atas disebabkan oleh banyak faktor diantaranya:
BPS kurang branding
BPS kalah pamor
dengan BPJS. Tak jarang responden menanyakan pendataan ini diselenggarakan oleh
siapa. Maka jawaban BPS ini sering didengar oleh responden sebagai BPJS. Dengan
kata lain BPJS lebih terkenal dibandingkan BPS. Ini merupakan PR besar bagi BPS
untuk lebih mengaktualisasikan organisainya agar lebih dekat dengan masyarakat
maupun perusahaan.
Hasil pendataan tidak dirasakan secara langsung
oleh masyarakat
“Untuk apa sih saya didata? Apa untungnya bagi
saya?”. Pertanyaan ini sudah tak asing bagi petugas sensus/survei. Kemampuan
komunikasi yang baik dalam menjelaskan hal ini sangat diperlukan oleh petugas.
Maka pertimbangan pendidikan petugas dan asal daerah menjadi poin penting dalam
hal ini. Pendidikan yang tinggi erat kaitannya dengan pola pikir yang lebih
luas, sehingga diharapkan kemampuan komunikasi dalam menjelaskan hal-hal yang
diperlukan lebih baik. Asal daerah juga berhubungan dengan masalah ini. Jika
petugas merupakan masyarakat tempatan maka responden relatif percaya dengan
penjelasan petugas dan lebih terbuka karena mempunyai kedekatan emosional.
SOP dalam rekruitmen petugas sensus/survei
Selain pegawai
organik, petugas sensus/survei direkrut dari luar BPS. Petugas ini dikenal
dengan mitra BPS. Mitra ini direkrut jika ada pekerjaan skala besar. Karena
keterbatasan pegawai organik maka BPS membutuhkan mitra dalam menyelesaikan
tugasnya. Merekrut mitra tidak bisa sembarangan karena berhubungan dengan kualitas
data yang dihasilkan nanti. Oleh sebab itu, BPS menetapkan sejumlah syarat
untuk memilih mitra BPS. Rekruitmen petugas ini dilaksanakan secara terbuka
dengan menetapkan syarat-syarat tertentu seperti pendidikan, daerah asal,
tulisan, dan pengalaman sensus/survei BPS.
Mitra adalah asset BPS
BPS tidak bisa
bekerja sendiri. BPS membutuhkan mitra. Mitra terbagi menjadi mitra lama dan
mitra baru. Mitra lama adalah mitra yang sudah sangat sering ikut dalam
kegiatan BPS. Mitra lama ini sudah seperti keluarga BPS. Mereka sudah sangat
paham dengan pola kerja di BPS. Mitra lama ini mendapatkan prioritas utama
dalam rekruitmen petugas. Untuk menjadi mitra lama bukan hal yang mudah. Mitra
lama ini umumnya selalu diikutsertakan karena kinerjanya telah terbukti dan teruji.
Loyalitas mitra lama
ini patut dijaga oleh BPS. Mitra ini yang nantinya akan membawa nama BPS di
masyarakat. Baik buruknya penilaian masyarakat terhdap BPS tergantung mitra
yang dipilih nantinya. Karenanya BPS perlu menjamin bahwa mitra lama yang berkualitas
akan tetap setia kepada BPS. Seperti pemberian reward tertentu sebagai bentuk apresiasi ata kerjakerasnya.
Pemberian reward ini juga akan menimbulkan persaingan antara mitra-mitra untuk
menjadi yang terbaik. Persaingan yang sehat akan berdampak pada kinerja dan
muaranya adalah kualitas data yang dihasilkan.
BPS sejatinya
harus mulai memikirkan pembinaan terhadap mitra BPS sendiri. Karena pekerjaan
BPS tidak bisa dipisahkan dengan mitra. Mitra yang sama bisa mengerjakan lebih
dari satu kegiatan di BPS. BPS bisa melakukan spesialisasi terhadap mitranya.
Spesialisai mitra yaitu mitra dikelompokkan-kelompokan berdasarkan survei
tertentu sehingga mitra tersebut memiliki pemahaman yang baik tentang survei
tersebut saja. Hal ini agar mitra tersebut tidak terkontaminasi dengan konsep
baru yang membuyarkan pemahamannya. Evaluasi terhadap mitra juga penting agar
mitra yang kinerjanya kurang tidak direkomendasikan lagi pada sensus/survei
selanjutnya.
Desi Ratnasari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar