Menapaki gerbang level tinggi pembangunan manusia, membuat Pelalawan patut berbangga diri. Dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70,21 tahun 2016, membuktikan keseriusan pemerintah daerah Pelalawan meningkatkan IPM sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2016-2021. IPM ditargetkan terus meningkat hingga mencapai angka 74,46.
Meskipun Pelalawan memasuki babak baru pembangunan
manusia, secara faktual, IPM 2016 tumbuh melambat dibanding tahun 2015. IPM
tumbuh 1,66 poin tahun 2015 sementara pada tahun 2016 IPM hanya tumbuh 0,56 poin
saja.
IPM diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) tahun 1990. IPM sebuah indikator
yang digunakan untuk mengukur perkembangan pembangunan manusia. Pencapaian IPM
secara fundamental bukan hal mudah. Perlu pemahaman karakterisktik indikator-indikator penyusunnya.
Pertama, indikator penyusun
IPM adalah Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Program Cerdas yang digadangkan
Bupati Harris belum menggoyang angka RLS dari tidurnya di tahun lalu. Penduduk
Pelalawan yang berusia 25 tahun ke atas, rata-rata hanya menempuh pendidikan
selama 8,18 tahun (setara SMP kelas 2).
Perjalanan yang panjang memenuhi target pemerintah wajib belajar 9 tahun.
Indikator penyusun IPM kedua adalah Harapan Lama
Sekolah (HLS). Angka HLS menunjukkan bahwa anak-anak yang berusia 7 tahun di
Pelalawan diperkirakan dapat bersekolah hingga 11,68 tahun ke depan (setara SMA
kelas 3), hanya bertambah 0,12 tahun dibanding tahun sebelumnya. Angka HLS
Pelalawan berada di posisi kedua paling bawah setelah Indragiri Hilir. Tujuh belas tahun menjadi daerah otonom, agaknya perlu kerja keras lagi
bagi pemerintah daerah meningkatkan penyediaan fasilitas dan akses pendidikan.
Dari sisi kesehatan, indikator penyusun IPM
menggunakan Angka Harapan Hidup (AHH). Masa hidup bayi yang dilahirkan di
Pelalawan diperkirakan akan mencapai 70,39 tahun, bertambah 0,75 tahun (9
bulan) dibanding tahun sebelumnya. Program Pelalawan Sehat ternyata cukup mampu
diandalkan dalam menekan angka kematian bayi. Di samping itu, tidak menampik
pula peran asuransi kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Hasil
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2016 menunjukkan, setidaknya 1 dari
empat penduduk Pelalawan berobat menggunakan kartu BPJS.
Indikator terakhir penyusun IPM adalah standar hidup
layak yang diwakili indikator pengeluaran per kapita disesuaikan. Tahun 2016,
pengeluaran per kapita per tahun disesuaikan sebesar 11,6 juta, bertambah 219
ribu dibanding tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan daya beli penduduk
Pelalawan yang semakin baik, bahkan saat ini berada pada posisi ketiga setelah
Siak dan Pekanbaru.
Pekerja Sektor Pertanian
Lebih dari separuh penduduk Pelalawan usia 15 tahun
ke atas bekerja di sektor pertanian. Sementara pada tahun 2016, kontribusi nilai
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian terhadap seluruh sektor
sebesar 39,8 persen. Terjadi ketidakseimbangan jumlah tenaga kerja dan besarnya
kontribusi terhadap PDRB. Akibatnya, posisi tawar di sektor pertanian lebih
rendah. Dimaklumi, mereka yang bekerja di sektor pertanian kebanyakan mempunyai
tingkat kesejahteraan rumah tangga lebih rendah karena pendapatan yang rendah.
Para pekerja di sektor pertanian sebagian berasal
dari pendatang yang berkerja di lahan perkebunan. Tidak dipungkiri, Pelalawan
menjadi magnet peruntungan rezeki bagi para pendatang. Pertumbuhan penduduk 6,71 persen, paling tinggi se Provinsi Riau, sebagai petunjuk
bahwa terjadi migrasi masuk penduduk yang cukup besar. Pasalnya, para pendatang
memasuki sektor pertanian sebagai buruh dengan tingkat pendidikan rendah. Sektor
pertanian menjadi ladang tenaga kerja yang mudah dimasuki, umumnya tidak mensyaratkan
minimal tingkat pendidikan tertentu.
Pembangunan untuk Semua
Keberhasilan pemerintah membagi hasil pembangunan
kepada seluruh penduduknya tercermin dari angka IPM. Pemerintah seyogyanya menjadikan
semua penduduk sebagai subjek pembangunan, memberikan ruang untuk mengakses
pembangunan dan berkontribusi aktif di dalamnya.
Mengawali level tinggi pembangunan manusia, pencapaian
target IPM ke depan nampaknya semakin berat. Penyesuaian tarif listrik tahun
ini dapat berdampak buruk pada daya beli. Ironisnya, kemampuan riil untuk
membiayai pendidikan dan kesehatan bakal ikut tergerus. Fenomena ini tentu saja
akan menghambat keberhasilan pembangunan manusia itu sendiri.
Perlu upaya keras dan komitmen pemerintah mencapai
target IPM yang diharapkan. Bagi pemerintah daerah, penyediaan fasilitas dan
akses pendidikan serta pelayanan kesehatan perlu terus ditingkatkan. Selain
itu, perlu dorongan perluasan kesempatan kerja (non pertanian) guna
meningkatkan daya beli penduduk. Anak-anak tetap sekolah karena tidak terpaksa
bekerja membantu orang tua. Ekonomi keluarga yang baik turut mendukung kehidupan
keluarga yang sehat.
Pada prinsinya pembangunan manusia
adalah tujuan akhir segala macam pembangunan. Pencapaian target IPM dapat
difokuskan pada pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan, namun dapat
pula dipengaruhi oleh bidang pembangunan lainnya yang dapat saling berkaitan.
Pada akhirnya, pembangunan pada semua aspek akan menentukan besarnya kualitas
manusia di dalamnya. Manusia yang berkualitas menjadi input modal untuk
pembangunan masa yang akan datang. Semakin tinggi kualitas (level) pembangunan
manusia, semakin menunjang perekonomian melalui peningkatan kapabilitas,
kreativitas dan produktivitas penduduknya. Sri Mulyani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar