Tampilkan postingan dengan label Pertumbuhan Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertumbuhan Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Berdasarkan Kondisi Pertumbuhan Ekonomi, Kenaikan Upah di Riau Dinilai Sudah Sangat Tinggi

Prof.DR B Isyandi,SE,M.Sc 
News Analysis Pengamat Ekonomi Universitas Riau (UR), Isyandi
Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Alexander
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU-- Secara teori, rumus kenaikan upah dihitung berdasarkan angka yang lama, kemudian ditambah dengan inflansi, selanjutnya ditambahkan dengan pertumbuhan perekonomian.
Jika mengikuti angka inflansi kita, angkanya adalah 3,5 persen, kemudian untuk pertumbuhan ekonomi adalah 2,33 persen. Sehingga kalau ditotalkan sekitar 5,8 persen. Sehingga, seharusnya kenaikan tersebut adalah sebanyak itu. Kalau pun digenapkan menjadi 6 persen, dan ditambah dengan kesalahan penghitungan, misalnya 7 persen, itu sudah sangat tinggi sekali.
Jika kalau ingin dinaikkan hingga 20 persen atau mendekati angka itu, maka pertumbuhan ekonomi dan inflansi kita juga harus dinaikkan. Sekarang dengan kondisi perekonomian dan inflansi kita saat ini, memang kenaikan upah tidak bisa dipaksakan.
Tidak hanya saat ini, tahun 2018 mendatang juga masih dalam tahap masa pemulihan perekonomian. Ini tidak hanya menyesuaikan dengan perekonomian dalam negeri, tapi juga menyesuaikan dengan perekonomian dari negara-negara maju, seperti Eropa, Jepang, Amerika, dan lainnya.
Tidak hanya itu, tahun 2018 mendatang kita juga akan diharapkan dengan Pilkada 2018, kemudian Pileg 2019 dan Pilpres 2019.
Jumlah uang yang akan digunakan atau yang beredar akan sangat besar, terutama untuk 3 pengeluaran, iklan, pelaksanaan Pemilu, dan juga untuk pengamanan.
Dengan besarnya penggunaan anggaran, namun tidak diimbangi dengan produksi, itulah yabg menyebabkan terjadinya inflansi.
Untuk perusahaan, ketetapan yang sudah diputuskan dan disepakati ini, wajib diikuti dan dipatuhi. Tapi adabyangbharus kita ingat, ini hanta menjadi pedoman bagi perusahaan yang mempekerjakan orang dengan sistim gaji harian, bukan bulanan atau tahunan.

Kalau untuk bulanan pedomanny bukan ini. Mereka digaji berdasarkan kinerja, selain gaji, mereka juga mendapat tunjangan makan, absen, kesehatan, hari tua, kesejahteraan anak, jalan-jalan dan beragam tunjangan lainnya. Sedangkan yang memakai pedoman ini hanya bagi perusahaan yang mempekerjakan orang dengannsistim harian. (ale)
Share:

[NEWS] Bappenas Kecewa Pertumbuhan Ekonomi 2017

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro sedikit kecewa dengan capaian pertumbuhan ekonomi tahun lalu. Pasalnya, ekonomi nasional masih melaju di kisaran 5 persen.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2017 kemarin di angka 5,19 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian tersebut membuat pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu mencapai 5,07 persen atau di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P)  2017 yang dipatok 5,2 persen.

“Tahun lalu, ekonomi tumbuh 5,07 persen atau 5,1 persen secara tahunan. Ini sedikit mengecewakan karena kami berharap bisa segera keluar dari kisaran 5 persen tetapi kami memahami itu tidak mudah mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global,” ujar Bambang saat menghadiri International Seminar on Expanding Social Security Coverage in the Disruptive Economy Era di Hotel Mulia Nusa Dua Bali, Selasa (6/2).

Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019, sebenarnya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun lalu bisa mencapai 7,1 persen.  Bambang mengungkapkan salah satu kunci untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi adalah ketersediaan infrastruktur.

Hal itu seperti yang terlihat dari capaian pertumbuhan ekonomi Cina yang didahului dengan pembangunan infrastruktur selama satu dekade. Dengan ketersedian infrastruktur, konektivitas antar daerah bisa meningkat. “Kita (Indonesia) terbelakang dalam hal perkembangan infrastruktur,” ujarnya.

Padahal, Indonesia berpotensi masuk ke dalam daftar lima perekonomian terbesar di dunia pada beberapa dekade ke depan. Hal itu dipicu oleh besarnya pasar dan banyaknya jumlah penduduk.

Menyadari hal itu, pemerintah sejak beberapa tahun terakhir terus mendorong investasi. Salah satunya dengan perbaikan iklim dan upaya dergulasi. Dengan demikian perekonomian Indonesia tidak lagi terlalu bergantung pada sektor konsumsi.

Mengingat keterbatasan anggaran negara, pemerintah juga ingin pembiayaan investasi infrastruktur juga berasal dari anggaran nonnegara baik dari sektor swasta maupun sektor lain, salah satunya dana jaminan sosial termasuk dana pensiun.

Karenanya, selain melindungi tenaga kerja dan men­cegah kemiskinan, Bambang mengajak BPJS Ketenagakerjaan untuk turut menempatkan dana kelolaanya di proyek infrastruktur.(int/das)
Sumber : Riaupos.co, 7 Februari 2018
Share:

[NEWS] Waspada Stagnasi Ekonomi, Ini Kata Pengamat

Sumber : Ekonomi Akurat, 7 Februari 2018

AKURAT.CO, Peneliti Indef Enny Sri Hartati menjelaskan bahwa Indef merespon upaya pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Ia mengatakan khawatir dengan stagnasi pertumbuhan ekonomi yang hanya bertengger di angka 5%.

Ia menambahkan bahwa hal ini menjadi pengingat bagi pemerintah. Sebab sebagian besar negara-negara tetangga mengalami tren pertumbuhan yang positif. Sementara Indonesia stagnan.

"Pertumbuhan ekonomi kita sampai akhir 2017 masih di 5%. Kenapa ini menjadi alarm negara tetangga kita 2017 kemarin semua mengalami tren positif. Misalnya Vietnam 7%, Singapura triwulan III naik 5%, termasuk Brunei 2016 masih negatif 2017 positif kita sendiri yang stagnan hanya mampu tumbuh 5%," ujar Eni di Jakarta, Rabu (7/2).

Hal ini dipandang kontra produktif. Sebab disaat Indonesia mendapat perintak layak investasi olehtiga pemerintah seperti Moody's, Standart and poor's dan Fict rating. Easy of Doing Bussines (EoDB meningkat. Namun bonus layak investasi dan meningkatnya peringkat EoDB itu. Tidak berdampak baik terhadap Gross Domestic Product Indonesia.

"Kita dapat rating EoDB, indeks daya saing dan dari 3 lembaga pemeringkat kompenen investasi GDP kita di atas 5%," ujar dia

"Kita dapat rating EoDB, indeks daya saing dan dari 3 lembaga pemeringkat kompenen investasi GDP kita di atas 5%," ujar dia
Senada dengan Enny Sri Hartati, Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus menjelaskan sewajarnya jika Presien marah demi melihat ekspor Indonesia yang cenderung stagnan.

"Kemarin Presiden sempat marah-marah karena ekspor kita kalah dari negara se kawasan. Sekilas ada peningkatan tumbuh 16,22%. Yang meningkat ini di sumbang oleh pertambangan di atas 30%, pertanian 7%, da industri olahan naik 13%, sisanya tidak banyak tumbuh," tambah dia. []

Share:

[NEWS] BPS: Ekonomi RI Tumbuh 5,07 Persen pada 2017




Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2018
Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2017 mencapai 5,07 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh belanja pemerintah dan inflasi yang terkendali. 
"Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2017 tercatat 5,19 persen. Namun jika secara kumulatif di 2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,07 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin (5/2/2018).

Suhariyanto menuturkan, angka pertumbuhan tersebut ditopang oleh belanja pemerintah dan juga inflasi yang terkendali. BPS mencatat, inflasi sepanjang 2017 di angka 3,16 persen. 
Sedangkan untuk realisasi belanja pemerintah meningkat 29,22 persen pada kuartal IV 2017. "Ini dipicu oleh belanja modal, barang, dan pegawai," tambah dia.

Pertumbuhan ekonomi tertinggi dialami oleh sektor jasa perusahaan yang mencapai 9,25 persen. Kemudian disusul oleh sektor informasi dan komunikasi yang mencapai 8,99 persen dan jasa lainnya mencapai 8,87 persen.

Prediksi Ekonom


Sebelumnya, Ekonom dari PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2017 sekitar 5,13 persen (Year on Year/YoY) atau naik dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,06 persen.
"Peningkatan ini ditopang dari konsumsi pemerintah yang tumbuh 5,2 persen YoY di kuartal IV-2017 atau naik signifikan dibanding kuartal sebelumnya 3,46 persen YoY," kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Senin (5/2/2018).
Peningkatan laju konsumsi pemerintah itu, dijelaskan Josua, terindikasi dari kenaikan belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal di kuartal IV-2017 dibanding periode yang sama 2016, di mana pemerintah melakukan penghematan belanja pemerintah pusat.
Pengatrol lain pertumbuhan ekonomi di kuartal IV tahun lalu, yakni Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) alias investasi. Investasi diproyeksikan Josua tumbuh sekitar 6,25 persen YoY. Investasi publik masih mendominasi karena belanja modal pemerintah tumbuh positif pada kuartal terakhir 2017.
"Tapi peningkatan investasi publik akan tertahan oleh penurunan investasi swasta yang terindikasi dari penurunan laju impor barang modal, serta penurunan konsumsi semen pada kuartal IV tahun lalu," dia menerangkan. 
Share:

[NEWS] Pengusaha Lebih Pede Hadapi Ekonomi 2018

07 Feb 2018, 13:30 WIB

Suasana deretan gedung bertingkat dan rumah pemukiman warga terlihat dari gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) lebih optimistis menatap perekonomian tahun 2018. Kondisi ini berbeda dibanding tahun lalu.
Ketua Apindo Haryadi Sukamdani mengatakan, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan. Di antaranya, persepsi para pengusaha yang lebih optimistis pada tahun ini.
"Nomor satu dari segi persepsi sudah berubah dari kalangan pengusaha, menengah atas, mereka lebih optimistis. Semalam saya ada pertemuan nasabah prioritas salah satu bank cukup besar, saya tanyakan mereka yakin enggak 2018? Dan ternyata mayoritas optimistis, padahal sebelumnya dalam pembahasan itu disampaikan kondisi politik dan sebagainya," kata dia di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (7/2/2018).
Kemudian, fundamental perekonomian juga lebih baik. Baik pada sektor riil maupun pasar modal.
"Kedua adalah dari segi fundamental ekonomi menunjukkan ekonomi yang membaik, trennya relatif stabil," ujar dia.
Sambungnya, perekonomian nasional akan membaik lantaran ditopang oleh perbaikan harga sektor komoditas. Lalu, didorong juga oleh perbaikan ekspor.
"Ketiga juga yang kita yakini dari kondisi 2018 ini sendiri ada pergerakan harga-harga yang bagus, harga komoditas bagus, permintaan dari luar mulai membaik. Ekspor kita mulai ada tren tumbuh. Walaupun Presiden kecewa dibanding Vietnam dan sebagainya. Memang kalau bicara Vietnam, Thailand, Malaysia ceritanya beda lagi," ujar dia.
Sementara, dia menuturkan, perekonomian pada tahun 2017 relatif tertekan lantaran pelemahan daya bali.
"Kalau pelemahan daya beli memang kelas menengah bawah, selama 2017 tekanannya cukup besar. Banyak perusahaan yang melakukan perampingan karyawan. Kalau dari persepsi salah satunya diakibatkan Pilgub DKI yang lalu. Sebagian kelas menengah memandang pada kondisi yang seperti insecure sehingga mereka tidak melakukan spending. Itu yang terjadi di 2017," tutupnya.
Pertumbuhan Ekonomi 2017
Pemandangan deretan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Jumat (29/9). Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani meyakinkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,4 persen tetap realistis. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2017 mencapai 5,07 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh belanja pemerintah dan inflasi yang terkendali. 
"Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2017 tercatat 5,19 persen. Namun jika secara kumulatif di 2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,07 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto pada Senin, 5 Ferbuari 2018.
Suhariyanto menuturkan, angka pertumbuhan tersebut ditopang oleh belanja pemerintah dan juga inflasi yang terkendali. BPS mencatat, inflasi sepanjang 2017 di angka 3,16 persen. 
Adapun untuk realisasi belanja pemerintah meningkat 29,22 persen pada kuartal IV 2017. "Ini dipicu oleh belanja modal, barang, dan pegawai," tambah dia. 

Pertumbuhan ekonomi tertinggi dialami oleh sektor jasa perusahaan yang mencapai 9,25 persen. Kemudian disusul oleh sektor informasi dan komunikasi yang mencapai 8,99 persen dan jasa lainnya mencapai 8,87 persen.
Share:

[NEWS] Ekonomi Berlari, tapi Lambat


Selasa, 06 Februari 2018 - 13:35 WIB > Dibaca 294 kali http://riaupos.co/images/print.png Print | Komentar

Suhariyanto.


JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Seperti sudah diduga, pertumbuhan ekonomi 2017 meleset dari target. Perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi penyebab utama. Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi sejumlah proyeksi stagnasi ekonomi tahun lalu. Dengan pertumbuhan ekonomi 5,07 persen, ekonomi Indonesia tidak beranjak jauh dari capaian tahun sebelumnya yang 5,03 persen. Juga, gagal mencapai target 5,17 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, salah satu penyebabnya adalah konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,95 persen. Kinerja itu lebih rendah dari 2016 yang masih sanggup tumbuh 5,01 persen. Padahal, konsumsi rumah tangga tersebut berkontribusi cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni 56 persen. ”Sebagian besar lesunya daya beli disebabkan kebijakan pemerintah,” kata Bhima, kemarin.

Awal tahun lalu masyarakat memang dihadapkan pada kebijakan pencabutan subsidi listrik. Menko Perekonomian Darmin Nasution berpendapat bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi 2017 sudah cukup baik. Menurut dia, setidaknya angka tersebut sudah mendekati 5,1 persen.

Dia memaparkan, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi domestik tahun lalu sudah cukup bagus. Apalagi, terjadi kenaikan signifikan dari sisi ekspor maupun investasi. ”Yang menarik juga adalah perdagangan, akomodasi, restoran, pergudangan, dan transportasi, telekomunikasi semua naik,” ujar Darmin di kantornya, Senin (5/2).

Mantan Menkeu dan eks gubernur Bank Indonesia itu mengakui bahwa konsumsi masih belum pulih sepenuhnya. Namun, dia meyakini akan membaik di tahun ini karena ada sejumlah perhelatan besar seperti Asian Games dan pilkada. ”Selalu terbuka peluang membaik,” imbuhnya.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, apabila dilihat trennya, angka 5,07 persen itu merupakan yang tertinggi sejak 2014. Dia melanjutkan, pada 2014 angka pertumbuhan ekonomi hanya 5,01 persen. Sementara itu, tahun berikutnya makin menurun di 4,88 persen.

Pada 2016 pertumbuhan ekonomi domestik mencapai 5,03 persen. Untuk itu, dia menilai, meski tidak mencapai target, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu cukup bagus. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. 

”Lapangan usaha informasi dan komunikasi mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 9,81 persen, diikuti jasa lainnya sebesar 8,66 persen, dan transportasi dan pergudangan 8,49 persen,” ujarnya.

Jika dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan, industri pengolahan adalah yang tertinggi dengan 0,91 persen. Lalu, diikuti konstruksi 0,67 persen, dan perdagangan besar-eceran 0,59 persen.

Dari sisi pengeluaran, kata Suhariyanto, semua faktor pendorong pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan bila dibanding dengan periode yang sama tahun lalu. Dari sejumlah komponen tersebut, ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,09 persen.

Menurut Suhariyanto, meski pertumbuhannya masih lebih lambat bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, konsumsi tetap tumbuh. Dia pun optimistis konsumsi akan berlari ke kisaran 5 persen tahun ini.

”Menurut saya bisa (mencapai 5 persen). Tapi, memang sejak triwulan II tahun 2017, jumlah persentase pendapatan yang ditabung meningkat. Artinya, kelompok menengah ke atas menahan sebagian belanja,” ujarnya.

Jika daya beli belum juga pulih, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa masih sama dengan tahun lalu yakni masih bisa berlari, tapi lambat.(ken/c10/sof/das)
Share:

[NEWS] Kenapa Ekonomi RI Tumbuh Tak Capai Target? Ini Jawaban Sri Mulyani

Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, penyebab ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,07% dikarenakan tingkat konsumsi rumah tangga yang melambat. Meskipun sektor ekspor dan investasi meningkat.
"Karena konsumsi kita tidak meloncat, kalau anda lihat pertumbuhan ekonomi bisa sampai 5-6% itu konsumsi pertumbuhannya ada di level 5.5% bahkan 6%," kata Sri Mulyani di Komplek Istana, Jakarta, Senin (5/2/2018).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebutkan, pemerintah akan terus mencari penyebab melambatnya tingkat konsumsi rumah tangga, mulai dari inflasi hingga faktor lainnya.

"Apakah penyebabnya adalah inflasi yang secara satu tahun ini lebih besar dan terutama juga kita lihat dari sisi daya beli masyarakat yang sebetulnya kalau dilihat dari sisi income dan sektor usaha," jelas dia.

Sri Mulyani juga akan terus berusaha mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 7%. Namun, dirinya tetap menjaga pertumbuhan tersebut yang berkelanjutan dan kredibel.

Salah satunya adalah memperluas produksi ekspor dari yang semula bergantung pada komoditas mengganti dengan produk bernilai tambah lainnya.

"Ya akan tetap kami usahakan, tapi tetap 7% yang sehat yang inklusif jadi invetasinya sustainable tidak tergantung komoditas," ungkap dia. (dna/dna)
Sumber : Detikfinance, 5 Februari 2018
Share:

[NEWS] Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Capai Target (Lagi)

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali tidak mencapai target. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 sebesar 5,07%.

Jika dilihat secara kuartalan, di kuartal IV-2017 ekonomi Indonesia melesat ke level 5,19% dibandingkan dengan kuartal I yang sebesar 5,01%, kuartal II yang sebesar 5,01%, dan kuartal III yang sebesar 5,06%.

Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 juga didukung dari kondisi perekonomian dalam negeri, seperti inflasi yang tercatat 3,61% atau terjaga di level rendah.

Target pertumbuhan ekonomi sesuai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Tahun Anggaran 2017 ditetapkan 5,2%. Oleh karenanya, pertumbuhan di level 5,07% jauh dari target yang ditetapkan atau tak mencapai target.
Sumber : Detikfinance, 6 Februari 2018
Share:

[NEWS] Ekonomi Berlari, tapi Lambat

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Seperti sudah diduga, pertumbuhan ekonomi 2017 meleset dari target. Perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi penyebab utama. Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi sejumlah proyeksi stagnasi ekonomi tahun lalu. Dengan pertumbuhan ekonomi 5,07 persen, ekonomi Indonesia tidak beranjak jauh dari capaian tahun sebelumnya yang 5,03 persen. Juga, gagal mencapai target 5,17 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, salah satu penyebabnya adalah konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,95 persen. Kinerja itu lebih rendah dari 2016 yang masih sanggup tumbuh 5,01 persen. Padahal, konsumsi rumah tangga tersebut berkontribusi cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni 56 persen. 

”Sebagian besar lesunya daya beli disebabkan kebijakan pemerintah,” kata Bhima, kemarin.

Awal tahun lalu masyarakat memang dihadapkan pada kebijakan pencabutan subsidi listrik. Menko Perekonomian Darmin Nasution berpendapat bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi 2017 sudah cukup baik. Menurut dia, setidaknya angka tersebut sudah mendekati 5,1 persen.

Dia memaparkan, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi domestik tahun lalu sudah cukup bagus. Apalagi, terjadi kenaikan signifikan dari sisi ekspor maupun investasi. 
”Yang menarik juga adalah perdagangan, akomodasi, restoran, pergudangan, dan transportasi, telekomunikasi semua naik,” ujar Darmin di kantornya, Senin (5/2).

Mantan Menkeu dan eks gubernur Bank Indonesia itu mengakui bahwa konsumsi masih belum pulih sepenuhnya. Namun, dia meyakini akan membaik di tahun ini karena ada sejumlah perhelatan besar seperti Asian Games dan pilkada. 

”Selalu terbuka peluang membaik,” imbuhnya.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, apabila dilihat trennya, angka 5,07 persen itu merupakan yang tertinggi sejak 2014. Dia melanjutkan, pada 2014 angka pertumbuhan ekonomi hanya 5,01 persen. Sementara itu, tahun berikutnya makin menurun di 4,88 persen.

Pada 2016 pertumbuhan ekonomi domestik mencapai 5,03 persen. Untuk itu, dia menilai, meski tidak mencapai target, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu cukup bagus. Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. 

”Lapangan usaha informasi dan komunikasi mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 9,81 persen, diikuti jasa lainnya sebesar 8,66 persen, dan transportasi dan pergudangan 8,49 persen,” ujarnya.

Jika dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan, industri pengolahan adalah yang tertinggi dengan 0,91 persen. Lalu, diikuti konstruksi 0,67 persen, dan perdagangan besar-eceran 0,59 persen.

Dari sisi pengeluaran, kata Suhariyanto, semua faktor pendorong pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan bila dibanding dengan periode yang sama tahun lalu. Dari sejumlah komponen tersebut, ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,09 persen.

Menurut Suhariyanto, meski pertumbuhannya masih lebih lambat bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, konsumsi tetap tumbuh. Dia pun optimistis konsumsi akan berlari ke kisaran 5 persen tahun ini.

”Menurut saya bisa (mencapai 5 persen). Tapi, memang sejak triwulan II tahun 2017, jumlah persentase pendapatan yang ditabung meningkat. Artinya, kelompok menengah ke atas menahan sebagian belanja,” ujarnya.

Jika daya beli belum juga pulih, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa masih sama dengan tahun lalu yakni masih bisa berlari, tapi lambat.(ken/c10/sof/das)
Sumber : Riaupos.co, 6 Februari 2018
Share:

[NEWS] BPS catat pertumbuhan ekonomi 5,07 persen tertinggi sejak 2014

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi pada 2017 sebesar 5,07 persen (yoy) dan merupakan tertinggi sejak 2014.

"Pertumbuhan ekonomi ini tertinggi sejak 2014," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Suhariyanto menjelaskan pertumbuhan ekonomi ini lebih baik dari periode 2014 sebesar 5,01 persen, periode 2015 sebesar 4,88 persen dan periode 2016 sebesar 5,03 persen.

"Mudah-mudahan angka ini makin bagus dan hasil pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan pemerintah dalam tiga tahun terakhir mulai bergulir," katanya.

Menurut pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 2017 didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,95 persen, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 6,15 persen dan konsumsi pemerintah tumbuh 2,14 persen.

"Konsumsi rumah tangga tumbuh karena adanya kenaikan konsumsi pada kelompok kesehatan dan pendidikan, restoran dan hotel serta transportasi dan komunikasi," katanya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh konsumsi LNPRT yang tumbuh 6,91 persen, ekspor tumbuh 9,09 persen serta impor tumbuh 8,06 persen, meski impor ini merupakan faktor pengurang.

"Ekspor tumbuh positif sepanjang 2017 karena terjadi kenaikan pada ekspor barang nonmigas seiring meningkatnya perekonomian di negara-negara tujuan ekspor," kata Suhariyanto.

Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar dalam struktur PDB 2017 yaitu sebesar 56,13 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto 32,16 persen, ekspor 20,37 persen, konsumsi pemerintah 9,1 persen, konsumsi LNPRT 1,18 persen dan impor yang menjadi faktor pengurang 19,17 persen.

Menurut lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi 2017 didukung oleh sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,81 persen, diikuti sektor jasa lainnya yang tumbuh 8,66 persen dan sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,49 persen.

"Namun, struktur PDB pada 2017 masih didukung oleh industri pengolahan sebesar 20,16 persen, sektor pertanian 13,14 persen dan sektor perdagangan 13,01 persen," tambah Suhariyanto.

Suhariyanto mengatakan struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada periode ini didominasi oleh kelompok provinsi di Sulawesi yang tumbuh 6,99 persen, Jawa yang tumbuh 5,6 persen dan Maluku serta Papua yang tumbuh 4,89 persen.

Struktur ekonomi juga didukung oleh kelompok provinsi di Kalimantan yang tumbuh 4,33 persen, Sumatera yang tumbuh 4,3 persen dan Bali serta Nusa Tenggara yang tumbuh 3,73 persen.

"Ekonomi Bali dan Nusa Tenggara tumbuh lebih rendah dari wilayah lain karena sektor pariwisata maupun jasa di kawasan ini sempat terganggu dari erupsi Gunung Agung," ujarnya.

Secara keseluruhan, kelompok provinsi di Pulau Jawa masih memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB yaitu sebesar 58,49 persen, diikuti Sumatera 21,66 persen, Kalimantan 8,2 persen, Sulawesi 6,11 persen, Bali dan Nusa Tenggara 3,11 persen serta Maluku dan Papua 2,43 persen.

Sementara itu, perekonomian Indonesia tahun 2017 yang diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp13.588,8 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp51,89 juta atau sekitar 3.876,8 dolar AS.
Sumber : Antaranews.com, 5 Februari 2018, 14:42 WIB
Share:

[NEWS] Diramalkan Ekonomi Konsumen di Riau Membaik Triwulan I-2018

PEKANBARU - Kondisi ekonomi konsumen Riau diramalkan membaik pada triwulan I-2018. Badan Pusat Statistik Riau memperkirakan angkanya sampai 100,86. Ini angka yang optimis menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen lebih baik dari triwulan IV-2017 lalu. 

Kepala Badan Pusat Statistik Riau Aden Gultom mengatakan perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan I-2018, didorong oleh meningkatnya perkiraan pendapatan rumah tangga dengan nilai indeks sebesar 104,80. 


"Sementara itu, rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan cenderung pesimis dengan l nilai indeks sebesar 93,96," katanya, Selasa (6/2/2018) di Pekanbaru. 


Dia menjelaskan, pada triwulan ke IV-2017 indeks tendensi konsumen di Riau sebesar 104,8, artinya
kondisi ekonomi konsumen meningkat, lebih baik dari kondisi triwulan sebelumnya 102,86.


"Membaiknya kondisi ekonomi konsumen triwulan IV-2017 didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah tangga (nilai indeks sebesar 102,61), inflasi yang terjadi tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat konsumsi (nilai indekssebesar 104,90), dan meningkatnya volume konsumsi rumah tangga (nilai indeks sebesar 109,91)," sambungnya. 


Aden mengatakan, komponen tingkat konsumsi rumah tangga cenderung optimis baik pada komoditas kelompok makanan, maupun komoditas non makanan. Peningkatan konsumsi makanan terjadi pada komoditas bahan makanan sebesar 131,43 dan komoditas makanan jadi di restoran/rumah makan 121,30.


Sedangkan tingkat konsumsi non makanan cenderung optimis. Optimisme indeks ini disebabkan lebih separuh komoditas pembentuknya seperti konsumsi untuk transportasi, pakaian, pembelian pulsa, pendidikan, dan konsumsi untuk hiburan/rekreasi, sementara akomodasi. Sedangkan perawatan kesehatan/kecantikan yang sedikit pesimis. (bpc3)
Sumber : Bertuahpos.com, 6 Februari 2018
Share:

[NEWS] Awal Tahun 2018, Konsumen Indonesia Tetap Optimistis

SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com - 05/02/2018, 21:14 WIB


Ilustrasi Gedung Bank Indonesia.(Kompas.com/Robertus Belarminus)
JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Januari 2018 mengindikasikan keyakinan konsumen masih tetap berada pada level optimis. Ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2018 sebesar 126,1.
Angka tersebut tidak berbeda signifikan dari 126,4 pada bulan sebelumnya. Tetap terjaganya optimisme konsumen tersebut ditopang terutama kenaikan penghasilan saat ini dan kenaikan ekspektasi penghasilan pada 6 bulan mendatang.
"Di sisi lain, persepsi konsumen terhadap ketepatan waktu pembelian barang tahan lama dan perkiraan ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang mengalami penurunan," kata bank sentral dalam keterangan resmi, Senin (5/2/2018).
Hasil survei juga mengindikasikan perkiraan konsumen akan melemahnya tekanan kenaikan harga pada 3 bulan mendatang, yakni April 2018. Ini ercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang turun 2,1 poin menjadi 171,1.
Hal tersebut dipengaruhi meredanya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM dan tarif listrik, serta perkiraan membaiknya ketersediaan bahan pangan.

"Meski demikian, pada 6 bulan mendatang atau Juli 2018, konsumen memperkirakan adanya peningkatan tekanan kenaikan harga seiring dengan belum lancarnya distribusi barang pasca hari raya Idul Fitri," ungkap BI.
Share:

[NEWS] Pada 2017, Pertumbuhan Ekonomi di Seluruh Kawasan Indonesia Positif

SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com - 05/02/2018, 17:30 WIB

 Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto bersama jajaran menyampaikan rilis data ekspor-impor, perkembangan upah buruh, dan nilai tukar eceran rupiah di kantor pusat BPS, Senin (15/1/2018).

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto bersama jajaran menyampaikan rilis data ekspor-impor, perkembangan upah buruh, dan nilai tukar eceran rupiah di kantor pusat BPS, Senin (15/1/2018). (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA )
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan,pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 tercatat sebesar 5,07 persen. Adapun produk domestik bruto (PDB) berdasarkan angka berlaku mencapai Rp 13.588,8 triliun dan PDB per kapita Rp 51,89 juta.
Kepala BPS Suhariyanto menyebut, struktur perekonomian Indonesia secara spasial tahun 2017 masih didominasi kelompok provinsi di Pulau Jawa. Kontribusi Pulau Jawa terhadap perekonomian Indonesia mencapai 58,49 persen.
Kemudian, diikuti oleh Sumatera sebesar 21,66 persen, Kalimantan 8,.20 persen, dan Sulawesi 6,11 persen. Adapun sisanya sebesar 5,54 persen berada di pulau-pulau lainnya.
Data BPS menyebut, kontribusi Bali dan Nusa Tenggara terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 3,11 persen. Adapun kontribusi Papua sebesar 2,43 persen.
"Seperti biasanya, Jawa dan provinsi-provinsi di dalamnya mencatat kontribusi terbesar," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/2/2018).
Meskipun demikian, Suhariyanto menyoroti pula tingginya pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi yang ada di Sulawesi. Bahkan, pertumbuhannya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yakni di atas 6 persen.
BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 7,23 persen, Sulawesi Tengah sebesar 7,14 persen, dan Sulawesi Utara 6,32 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi Gorontalo tercatat sebesar 6,74 persen dan Sulawesi Barat 6,67 persen.
Terkait dengan kontribusi Bali terhadap pertumbuhan ekonomi, angkanya cenderung menurun. Hal ini disebabkan dampak erupsi Gunung Agung yang mengganggu aktivitas perekonomian di kawasan tersebut.

Adapun pertumbuhan ekonomi Sumatera tahun 2017 mencapai 4,30 persen, Jawa sebesar 5,61 persen, dan Kalimantan 4,33 persen.Pertumbuhan ekonomi Sulawesi mencapai 6,99 persen, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 3,73 persen, serta Maluku dan Papua 4,89 persen.
Share:

[NEWS] Perekonomian Riau Tumbuh 2,71 Persen, Ini Faktor Pendorongnya

PEKANBARU (CAKAPLAH) - Perekonomian Riau tahun 2017 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 705,68 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 471,42 triliun.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) riau, Aden Gultom kepada CAKAPLAH.COM. Ia mengatakan dari angka tersebut, ekonomi Riau tahun 2017 tumbuh 2,71 persen, meningkat dibanding tahun 2016 sebesar 2,23 persen.

"Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Perusahaan yang tumbuh 7,92 persen," ujarnya, Senin (5/2/2018).

"Sementara dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh sebesar 5,06 persen," imbuhnya.

Dijelaskan Aden, untuk Ekonomi Riau triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 2,58 persen (year-on-year). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,77 persen.

"Sementara dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang meningkat sebesar 10,96 persen," cakapnya.

Sementara, untuk Ekonomi Riau triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 2,60 persen terhadap triwulan yang sama pada periode tahun sebelumnya IV-2016. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 6,14 persen.

"Sementara dari sisi pengeluaran terutama didorong oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang tumbuh sebesar 24,20 persen," ungkapnya.

Secara spasial, lanjut Aden, pada tahun 2017 Provinsi Riau berkontribusi sebesar 5,10 persen terhadap perekonomian nasional.

"Provinsi Riau merupakan provinsi dengan PDRB terbesar ke-5 di Indonesia atau PDRB terbesar di Pulau Sumatera," tukasnya.

Disampaikan Aden, Struktur perekonomian Riau dari sisi produksi tahun 2017 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu Pertambangan dan Penggalian (25,93 persen); Industri Pengolahan (25,31 persen) dan Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (23,63 persen).

"Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Riau tahun 2017, Industri Pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,59 persen, diikuti Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 1,30 persen, Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 0,56 persen, dan Konstruksi sebesar 0,47 persen," pungkasnya.
SUmber : Cakaplah, 5 Februari 2018
Share:

[NEWS] Konsumsi Rumah Tangga Sumbang Separuh Struktur Ekonomi Indonesia

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto bersama jajaran menyampaikan rilis data ekspor-impor, perkembangan upah buruh, dan nilai tukar eceran rupiah di kantor pusat BPS, Senin (15/1/2018).
SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com - 05/02/2018, 13:03 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto bersama jajaran menyampaikan rilis data ekspor-impor, perkembangan upah buruh, dan nilai tukar eceran rupiah di kantor pusat BPS, Senin (15/1/2018). (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA )
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 mencapai 5,07 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2016 yang tercatat sebesar 5,03 persen.
Apabila diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB), perekonomian Indonesia tahun 2017 mencapai 13.588,8 triliun. Adapun PDB per kapita Indonesia mencapai Rp 51,89 juta atau 3.876,8 dollar AS.
Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 didukung pertumbuhan pada seluruh komponen, yakni Komponen Pengeluaran Rumah Tangga, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, serta Ekspor Barang dan Jasa.
"Komponen Impor Barang dan Jasa meskipun mengalami peningkatan, merupakan faktor pengurang," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/2/2018).
Data BPS menyebut, bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan, maka komponen konsumsi rumah tangga merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017, yakni sebesar 2,69 persen. Kemudian diikuti oleh komponen PMTB sebesar 1,98 persen.
"Struktur perekonomian Indonesia tahun 2017 menurut pengeluaran didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, yakni 56,13 persen," ujar Suhariyanto.
Kemudian, diikuti oleh komponen PMTB atau investasi sebesar 32,16 persen dan komponen ekspor barang dan jasa sebesar 20,37 persen. Disimpulkan, perekonomian Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.
Suhariyanto menjelaskan, seluruh komponen konsumsi rumah tangga tumbuh, terutama pada komponen konsumsi kesehatan dan pendidikan. Ia mengungkapkan, diharapkan konsumsi rumah tangga dapat terus dalam kondisi yang baik, mengingat besarnya kontribusinya terhadap perekonomian.
"Syaratnya daya beli harus terjaga. Tingkat inflasinya harus terkendali," jelas Suhariyanto.
Meski demikian, BPS juga menemukan adanya peningkatan persentase pendapatan yang ditabung, khusunya oleh masyarakat menengah ke atas. Dengan demikian, diketahui bahwa kelas menengah ke atas menahan belanjanya.
Menurut Suhariyanto, ada dua kemungkinan penyebab ini terjadi, yakni masyarakat menengah ke atas telah lebih mengedepankan investasi atau menahan karena kondisi politik jelang pesta demokrasi.
"Untuk menaikkan daya beli syaratnya ada dua, kondisi ekonomi, politik, dan keamanan harus stabil. Inflasinya juga harus terkendali," terang Suhariyanto.
Share:

[NEWS] Optimisme Pelaku Bisnis Turun

SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com - 05/02/2018, 13:33 WIB
 Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)  Kecuk Suhariyanto usai konfrensi pers terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2017 di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (6/11/2017).


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto usai konfrensi pers terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2017 di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (6/11/2017).(KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO)
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan, Indeks Tendensi Bisnis (ITB) kuartal IV 2017 mencapai 111,02. Ini menunjukkan kondisi bisnis secara umum masih tumbuh.
Akan tetapi, kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, optimisme pelaku bisnis lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini tercermin dari ITB kuartal III 2017 yang tercatat sebesar 112,39.
"Kondisi bisnis dan optimisme pelaku bisnis yang masih baik pada kuartal IV 2017 disebabkan pendapatan usaha yang meningkat dengan nilai indeks 115,58," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/2/2018).
Peningkatan juga terjadi pada penggunaan kapasitas produksi atau usaha, dengan nilai indeks 112,74. Pun peningkatan terjadi pada rata-rata jumlah jam kerja, dengan nilai indeks 104,72.
Kondisi bisnis yang membaik dan optimisme pelaku bisnis terjadi pada seluruh kategori lapangan usaha, terutama pada lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib. Adapun nilai ITB tertinggi sebesar 131,58.
Sementara itu, kategori lapangan usaha dengan optimisme terendah terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Nilai ITB tercatat sebesar 103,87.
Pada kuartal I 2018, kondisi bisnis pada seluruh kategori lapangan usaha diperkirakan masih tumbuh. Meski demikian, tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan optimisme pada kuartal IV 2017.
"Perkiraan penurunan tingkat optimisme pelaku bisnis ini ditunjukkan oleh perkiraan angka ITB kuartal I 2018 sebesar 108,60, lebih rendah dari kuartal IV 2017," jelas Suhariyanto.
Perbaikan kondisi bisnis dan optimisme pelaku bisnis yang masih baik diperkirakan terjadi karena ada peningkatan pesanan (order) dari dalam negeri, dengan nilai indeks 117,02. Selain itu, ada pula peningkatan harga jual dengan nilai indeks 113,57.
Perbaikan kondisi bisnis juga ditunjukkan dengan order barang input yang diperkirakan meningkat, dengan nilai indeks 103,76. Sementara itu, order dari luar negeri diperkirakan bakal relatif sama dengan kondisi kuartal IV 2017, dengan nilai indeks 100,05.


Share: