[OPINI] Transformasi Ekonomi Riau

Komoditas alam telah sejak lama menjadi penggerak ekonomi Riau. Namun, hal ini sangat beresiko. Jumlahnya yang terbatas dan harganya yang tidak stabil menyebabkan ekonomi Riau cenderung rentan dan tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, transformasi ekonomi mutlak dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup ekonomi Riau. Pertanyaannya adalah, transformasi ekonomi seperti apa?

Transformasi Ekonomi
Transformasi ekonomi adalah proses perubahan struktur ekonomi, ditandai dengan pergeseran dari satu sektor ekonomi kepada sektor ekonomi lainnya yang dapat mempengaruhi perubahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada suatu negara atau suatu daerah. Dengan usianya yang telah mencapai 60 tahun, Riau tentu saja telah melalui bermacam-macam transformasi ekonomi. Tahun 1980-1990an, penggerak utama ekonominya adalah pertambangan minyak. Perut buminya sudah sejak lama mengucurkan minyak bumi tiada hentinya. Faktanya, sumbangan lapangan usaha ini pada perekonomian cukup besar yaitu sekitar 80 - 90 persen.

Awal tahun 1990-an, terjadi peningkatan produksi dari sektor kehutanan. Masyarakat berbondong-bondong memasuki lapangan pekerjaan pada sektor ini. Sumbangannya dalam perekonomian pun meningkat 5 kali lipat dibandingkan pertengahan tahun 1970-an. Produksi hutan Riau sangat luar biasa pada saat itu.

Seiring dengan bertambah tuanya sumur-sumur minyak dan berkurangnya hutan di Riau, dominasi sektor pertambangan dan kehutanan dalam perekonomian kemudian mulai tergerus oleh sektor perkebunan khususnya kelapa sawit yang booming pada jelang pergantian dan awal milennium. Terlihat menjanjikan, namun ternyata sektor ini diliputi dengan permasalahan, utamanya adalah: permodalan dan gejolak harga internasional yang tidak bisa untuk dikendalikan.

Minyak Mentah, Kayu dan Kelapa Sawit
Dari berbagai fase yang telah disebutkan dapat ditarik sebuah benang merah. Komoditas-komoditas utama penggerak ekonomi Riau selama ini adalah komoditas alam. Hasil dari kekayaan sumber daya alam Riau yang memang berlimpah.  Riau mempunyai banyak cadangan minyak bumi yang kemudian dieksploitasi seperti tiada akan pernah habis. Riau memiliki banyak hutan yang lalu ditebang tanpa hentinya. Kondisi ini persis seperti anak orang kaya yang hanya mampu menghabiskan harta orang tuanya saja, tanpa tahu harus berbuat apa untuk menjaga keutuhan kekayaan keluarganya.

Ekonomi Riau saat ini tidak sustainable (berkelanjutan). Lama-kelamaan, Ekonomi Riau akan kehabisan tenaga seiring dengan kekayaan alamnya yang terus dihabiskan. Berdasarkan data BPS, ekonomi Riau memang masih menduduki peringkat 5 nasional atau terbesar se-Sumatera. Namun, sumbangan Riau terhadap perekonomian nasional sudah jauh berkurang dari 6,21 persen pada tahun 2011 menjadi hanya 5,00 persen pada triwulan III 2017. Pada saat yang sama, provinsi tetangga, Sumatera utara sedang dalam laju yang stabil. Sumbangannya terhadap ekonomi nasional pun meningkat dari 4,82 persen menjadi 4,91 persen pada periode yang sama. Jika tidak berbenah, bisa dipastikan cepat atau lambat, Riau harus menyerahkan posisinya kepada provinsi lain dengan laju pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

What’s Next?
Pemerintah memang tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Berbagai usaha dilakukan untuk mempercepat roda perekonomian Riau. Salah satunya adalah dengan pariwisata. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui tagline Riau The Homeland of Melayu, Pemerintah yakin bahwa pariwisata mampu menjadi sektor unggulan baru dan andalan Riau. Namun faktanya, dengan jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Riau sampai dengan triwulan III 2017 sebesar 28.429 kunjungan dan dengan asumsi rata-rata pengeluaran mereka sebesar $900/kunjungan, kontribusinya terhadap perekonomian hanya sebesar Rp340 miliar atau tidak sampai 0,1 persen terhadap akumulasi PDRB sampai dengan September 2017. Selain itu, Pariwisata membutuhkan waktu, sarana dan prasarana serta investasi yang tidak sedikit jumlahnya. Menjadikan pariwisata sebagai andalan, bisa jadi bukan merupakan solusi jangka pendek buat provinsi ini.

Hal yang lebih realistis dilakukan Riau sekarang adalah hilirisasi Industri. Rilis BPS (6 November 2017) menunjukkan bahwa sumbangan Industri pengolahan dalam ekonomi Riau pada triwulan III 2017 adalah 25,40 persen. Artinya, untuk pertama kali dalam sejarah, sektor ini menjadi kontributor utama mengalahkan dominasi pertambangan yang kini berkontribusi sebesar 25,07 persen saja.

Banyak ruang untuk peningkatan pada sektor ini, terutama Industri berbasis kelapa sawit. Hal tersebut diindikasikan oleh baru sebagian kecil saja produk turunan yang dihasilkan dari kelapa sawit. Padahal, Riau adalah penghasil kelapa sawit terbesar se-nusantara. Data BPS menunjukkan 25,60 persen produksi kelapa sawit nasional tahun 2016 berasal dari Riau. Namun, sebagian besar hasilnya diekspor justru hanya dalam bentuk mentah saja dan Crude Palm Oil (CPO), tidak melewati tahapan industri lebih lanjut.

Bayangkan bila Riau bisa menghasilkan produk turunan kelapa sawit yang dapat kita temukan di sekitar seperti perlengkapan rumah tangga, sabun, kosmetik, energi dan lainnya. Tentu saja, Riau akan memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Lapangan usaha yang menggunakan produk turunan kelapa sawit kinerjanya akan terdorong. Sementara itu, Lapangan usaha yang mendukung, seperti industri pupuk dan perkebunan, kinerjanya akan ikut ketarik atau meningkat.


Kondisi ideal tersebut dapat berdampak luas, misalnya penyerapan tenaga kerja. Jumlah pengangguran akan berkurang. Selain itu, harga produk turunan kelapa sawit, yang cenderung lebih stabil dibandingkan harga CPO, membuat ekonomi Riau sedikit lebih pasti dan lebih terkontrol sehingga mengundang investor untuk datang. Barulah demikian, perekonomian Riau akan tumbuh secara berkelanjutan. Permasalahannya adalah siapkah Riau untuk bertransformasi menjadi penghasil produk turunan kelapa sawit atau justru kembali tetap menggerogoti kekayaan alamnya hingga habis tidak tersisa untuk anak cucu nanti? Jawabnya tentu harus siap dan yakin ekonomi provinsi yang kita cintai ini akan bertransformasi menjadi lebih baik.

FF
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar