“Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga
kami sanggup berdiri sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat
menolong dirinya sendiri akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna
pula”. – Surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon, 12 Desember 1902 -.
Dalam pikiran
kita, tentu sudah banyak tertanam mengenai stigma kaum perempuan. Kaum
perempuan selama ini hanya dipandang sebagai kaum yang lemah, yang harus
mendapat perlindungan, dan merupakan supporting
part bagi keberhasilan kaum laki-laki. Memang benar bahwa sebagian besar perempuan
secara naluri ditakdirkan untuk menjadi lebih lemah dibandingkan laki-laki dari
segi fisik, namun apakah juga lebih lemah dalam hal-hal yang lain?
Paradigma ini
dalam beberapa dekade sedang berangsur-angsur bergeser melalui gerakan
Emansipasi Perempuan. Emansipasi perempuan ialah istilah yang digunakan untuk
menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan
derajat perempuan, sering bagi kelompok perempuan yang tak diberi hak secara
spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu. Ada
beberapa contoh tokoh perempuan Indonesia yang namanya sudah sukses mendunia. Sri Mulyani Indrawati misalnya. Menteri
Keuangan era Presiden SBY dan Presiden Jokowi ini sempat menjadi Managing Director dari Bank Dunia. Lilyana Natsir. Penggemar bulutangkis
pasti tidak asing lagi dengan nama ini, wanita yang biasa dipanggil Butet ini merupakan juara dunia, juara All England, dan juga banyak gelar lain
yang didapatnya pada sektor ganda campuran. Rini Sugianto. Nama ini mungkin kurang familiar di telinga kita.
Namun siapa sangka, Rini ini merupakan salah satu animator asal indonesia yang
bergabung dalam tim untuk memproduksi film-film box
office, sebut saja 'Hobbit 2: The Desolation of Smaug'. 'The Advantures of
Tintin', 'The Avengers', 'Iron Man3', 'Hungers Games: Catching Fire', dan lain
sebagainya.
Potensi Perempuan
Dari
beberapa perempuan yang disebutkan diatas, tentu mereka memiliki potensi dan
kapabilitas yang luar biasa. Kemampuan itu tidaklah instan, pasti berproses
melalui jalan yang panjang. Salah satu proses yang telah mereka jalani tentunya
adalah pendidikan. Pendidikan menjadi faktor yang sangat mempengaruhi kehidupan
suatu manusia, bahkan suatu bangsa. Salah satu komponen Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) adalah dari sektor pendidikan. Maka, tolak ukur maupun indikator
pendidikan menjadi penting dalam membuat suatu kebijakan.
Berkaitan dengan
perempuan dan pendidikan, ternyata data rilis BPS menunjukkan data yang
menarik. Data hasil rilis publikasi Riau Dalam Angka 2017 menyebutkan, pada tahun
2016 persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas
menurut Ijazah Tertinggi “Diploma” perempuan lebih tinggi dibandingkan
laki-laki (masing-masing 3,04% dan 1,56%). Begitu pula dengan Ijazah Tertinggi
Universitas/ Diploma IV/S2/S3 perempuan, yang juga lebih tinggi dibandingkan
laki-laki (masing-masing 6,15% dan 5,25%). Dari data jumlah Mahasiswa Universitas Riau
menurut Fakultas dan Jenis Kelamin, dalam tiga tahun ajaran terakhir, jumlah
mahasiswa perempuan lebih banyak dari laki-laki. Data tersebut secara berturut
turut yaitu TA 2014/2015 (perempuan: 18.109, laki-laki: 15.449), TA 2015/2016
(perempuan: 19.263, laki-laki: 15.135), TA 2016/2017 (perempuan: 21.676,
laki-laki: 15.235).
Dalam dunia
kerja yang menuntut standar pendidikan yang tinggi, perempuan yang memiliki
ijazah tentu akan berpeluang merebut pasar tenaga kerja laki-laki apabila
memiliki persyaratan lowongan yang sama.
Perempuan dan Bekerja
Bicara
mengenai masa depan, tentu harus kita lihat dari data kondisi saat ini. Dari data
yang ada, kita dapat melihat potensi yang dapat dihasilkan di masa depan. Seiring
perkembangan zaman, jumlah perempuan yang bekerja mulai meningkat karena adanya
tuntutan unuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Banyak data dan publikasi yang
membahas mengenai tenaga kerja. Salah satunya adalah publikasi di wilayah
provinsi Riau. Data hasil rilis publikasi Indikator Pasar Tenaga Kerja Provinsi
Riau Agustus 2015 menyajikan data yang menarik.
Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Provinsi Riau 2015 kelompok
umur 20-24 baik laki-laki dan perempuan menunjukkan peningkatan (laki-laki
77,38 ke 80,97; perempuan 45,10 ke 49,02). Namun pada kelompok umur 25-29 TPAK
laki-laki menunjukkan penurunan, dan perempuan mengalami peningkatan (laki-laki
95,62 ke 92,20; perempuan 43,81 ke 46,02). Semakin tinggi TPAK
menunjukkan bahwa semakin tinggi pula pasokan tenaga kerja (labour supply) yang
tersedia untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian.
Dari stok usia muda diatas, Rasio Penduduk Umur 15-24 tahun yang Bekerja Terhadap
Jumlah Penduduk (Employment to Population
Ratio-EPR) 2015 mengalami peningkatan. Perempuan meningkat dari 21,89% ke
24,27%. Laki-laki juga meningkat dari 43,50% ke 43,74%. Jika dilihat pada data
diatas, kenaikan rasio perempuan usia muda adalah lebih tinggi dibandingkan
laki-laki. Potensi ini tentunya dapat dilihat sebagai salah satu hasil
emansipasi perempuan di masa depan.
Epilog
Hakikat perempuan tidaklah berubah. Masih tetap sebagai
seorang ibu, masih tetap sebagai seorang istri. Namun perannya saat ini
mengalami penambahan dibanding puluhan tahun yang lalu. Perempuan saat ini dapat
meniti karir dan berkembang selaras dengan karir laki-laki. Ada yang memilih
untuk bekerja sendiri, maupun menjadi karyawan. Semua ini demi membantu
memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidup keluarga, selain itu juga mengikuti passion yang diinginkan. Kemajuan
perempuan ini didukung oleh beberapa data, utamanya data kependudukan dan
ketenagakerjaan usia muda. Dengan demikian diharapkan perempuan masa depan
adalah perempuan yang tangguh, mandiri, dan berwawasan luas.
Imelda Andriani
Imelda Andriani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar