[OPINI] Berinvestasi pada Perempuan

Perempuan di seluruh dunia termasuk di Indonesia merupakan sumber daya utama bagi agenda pembangunan berkelanjutan tahun 2030. Hal ini mengingatkan bahwa kita perlu menegaskan kembali komitmen agar perempuan di seluruh dunia dapat mengaktualisasikan diri mereka untuk ikut membangun komunitas dan negaranya. Jumlah perempuan khususnya di Provinsi Riau tahun 2016 adalah 3.336.874, dimana 18,09 persen diantaranya merupakan remaja perempuan. Ketika perempuan diberi kesempatan untuk mengakses pendidikan dan kesehatan mereka, termasuk kesehatan reproduksi serta menciptakan peluang bagi mereka untuk mengembangkan potensi dirinya, maka mereka akan dapat mengelola dengan baik masa depan mereka sendiri, keluarga, dan masyarakat mereka. Sangat disayangkan jika jumlah perempuan yang besar ini tidak dapat diinvestasikan untuk kemajuan daerah, terutama Provinsi Riau.

Namun, perempuan di banyak negara berkembang seperti di Indonesia masih menghadapi tantangan seperti perkawinan anak dan kehamilan di usia remaja yang tinggi yang menyebabkan mereka putus sekolah. Berdasarkan data Susenas tahun 2016, terdapat 28,63 persen perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun di Provinsi Riau. Selain itu, mayoritas perempuan di Provinsi Riau yaitu sebesar 31,84 persen hanya memiliki ijazah tertinggi pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan 2,57 persen lainnya tidak pernah bersekolah. Padahal, investasi di bidang pendidikan dan kesehatan pada perempuan mempunyai dampak yang saling menguntungkan baik bagi perempuan itu sendiri maupun komunitasnya. Jika remaja perempuan disediakan akses kesehatan termasuk pelayanan kesehatan reproduksi dan perbaikan gizi maka mereka baik secara fisik dan mental dapat melanjutkan pendidikannya.
Pendidikan yang mencerdaskan perempuan harus dianggap sebagai investasi bagi masa depan bangsa dan daerah. Berinvestasi pada perempuan dapat dilakukan dengan memberi mereka akses pendidikan bermutu tanpa diskriminasi. Pendidikan dapat dipakai sebagai alat perubahan yang paling strategis untuk membangun dan memperdayakan kaum perempuan. Perempuan sebagai ibu menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya. Perempuan wajib mendapatkan pendidikan dan pelatihan agar mampu menyiapkan generasi bangsa yang cerdas. Hal ini dimulai dari keluarga, lalu sekolah, masyarakat, dan bangsa. Ketika seorang anak perempuan tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya, kerugian itu bukan hanya bagi anak perempuan itu sendiri, tapi juga bagi keluarganya, komunitasnya, dan negaranya. Memberdayakan anak perempuan, memastikan bahwa mereka tidak mengalami kekerasan, dan memberikan mereka pendidikan, adalah salah satu cara terbaik untuk menjamin kemakmuran masyarakat dan daerah.
Pepatah mengatakan bahwa “Saat kita mendidik seorang laki-laki, kita hanya mendidik satu orang saja. Saat kita mendidik seorang perempuan, kita mendidik sebuah keluarga dan sebuah negara”. Seorang perempuan yang bersekolah cenderung untuk memastikan bahwa anak-anaknya juga akan mendapatkan pendidikan. Banyak yang mengatakan bahwa, berinvestasi dalam pendidikan perempuan sama dengan berinvestasi dalam sebuah negara.
Setiap satu tahun pendidikan perempuan di bangku sekolah dapat meningkatkan pendapatan mereka sebesar 10-20%, dan bila mereka mengenyam pendidikan lanjutan maka pendapatan mereka akan menjadi lebih tinggi lagi. Perempuan yang mengenyam pendidikan lanjutan akan menikah lebih lama, mempunyai anak lebih sedikit namun lebih sehat, dan cenderung tidak berpotensi untuk terinfeksi HIV/AIDS. Negara-negara yang memiliki lebih banyak perempuan yang mengenyam pendidikan di tingkat menengah memiliki angka kematian bayi dan angka kelahiran bayi yang lebih rendah, jumlah HIV/AIDS yang lebih rendah, dan gizi anak yang lebih baik. Setiap satu tahun sekolah di tingkat menengah yang dienyam oleh seorang ibu akan menurunkan probabilitas angka kematian anak, dan anak yang dilahirkan oleh ibu yang dapat membaca memiliki kesempatan lebih tinggi untuk bertahan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi yang akan kita hadapi bila tidak berinvestasi pada anak perempuan sangatlah besar.

Beberapa kebijakan perlu ditingkatkan untuk mengatasi kondisi tersebut, termasuk diantaranya pelaksanaan wajib belajar 12 tahun, pendidikan lanjutan untuk anak perempuan, pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah dan universitas, akses untuk kesehatan termasuk pelayanan kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan seksual, dan keterlibatan perempuan dalam pembangunan daerah dan negara. Melaksanakan kebijakan ini merupakan bagian dari berinvestasi pada perempuan dan sekaligus berinvestasi untuk masa depan Indonesia khususnya Provinsi Riau.

Ria (Rokan Hilir)
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar