Harga BBM Disebut Bisa Naik Usai Pilpres, Ini Kata Sri Mulyani

YOGA SUKMANA Kompas.com - 06/12/2018, 13:33 WIB Menteri Keuangan Sri Mulyani di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2018)(Kompas.com/YOGA SUKMANA) NUSA DUA, KOMPAS.com - Beberapa ekonom menilai, kenaikan harga BBM tidak akan bisa terelakkan pasca Pilpres 2019. Siapapun presiden terpilih, kebijakan itu harus diambil menyusul kenaikan harga minyak dunia. Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, pemerintah selalu mencari titik kesimbangan karena kebijakan kenaikan harga BBM pasti akan berimbas kepada masyarakat. "Keseimbangan yang dibawa Presiden Jokowi sekarang adalah kesimbangan antara menjaga mometum pertumbuhan melalui daya beli masyarakat. Itu penting," ujarnya di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/11/2018). "Selama ini kan kalau kenaikan harga BBM pasti akan menggerus daya beli masyarakat," sambung mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu. Baca juga: Tiga Perusahaan Ini Telah Turunkan Harga BBM Non-Subsidi Namun demikian, Sri Mulyani mengatakan, dari survei daya beli masyarakat saat ini cukup solid di kelas menengah bawah. Hal ini menyebabkan pertumbuhan konsumsi di atas 5 persen. Selain itu, perempuan yang kerap disapa Ani itu juga mengatakan, inflasi stabil di bawah 4 persen juga mendorong daya beli masyarakat. Akan tetapi, Sri Mulyani juga memandang perlu tidaknya kenaikan harga BBM harus dilihat dari sustainabilitas APBN. Dengan defisit APBN yang mengecil, ia mengatakan fiskal sebenarnya tetap bisa dijaga. Di sisi lain, daya beli dan sustainabilitas keuangan BUMN migas, dalam hal ini PT Pertamina (Persero) juga perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan menaikkan atau tidak harga BBM. Baca juga: Pertamina Tunggu Waktu yang Tepat Turunkan Harga BBM non Subsidi "Tentu kami harus menjaga agar tidak ada distorsi terlalu banyak karena nanti menimbulkan penyakit ekonomi lainnya. Sampai saat ini kami masih anggap 3 sisi inilah yang tetap dijaga," tutur Sri Mulyani Sebelumnya, Ekonom Faisal Basri menilai, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik tidak akan bisa dihindari tahun depan. Siapapun presiden yang terpilih pada Pilpres 2019, akan dihadapkan dengan persoalan itu. Namun Faisal menilai, kenaikan harga BBM dan tarif listrik akan lebih cepat bila pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin terpilih. Hal itu kata dia bisa terjadi karena Jokowi adalah petahana. "Kalau pasangan nomor satu menang, kanaikan tarif listrik dan BBM akan lebih cepat sekitar Mei atau Juni 2019," ujarnya dalam seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019, Jakarta, Rabu (28/11/2018). "Supaya nanti setelah dilantik untuk kedua kali, sudah bersih dari PR-PR yang ditinggalkannya sendiri," sambung Faisal. Baca juga: Faisal Basri Sebut Harga BBM Naik Setelah Pilpres, Ini Kata Pemerintah Sementara itu kalau Prabowo-Sandiaga Uno menang, Faisal memperkirakan kenaikan harga BBM dan tarif listrik akan dilakukan di akhir 2019. Faisal tak yakin Prabowo akan terus menahan kenaikan harga BBM dan tarif listrik. Sebabnya, kata dia, di belakang Prabowo terdapat para ekonom yang juga rasional.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga BBM Disebut Bisa Naik Usai Pilpres, Ini Kata Sri Mulyani ", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/06/133304726/harga-bbm-disebut-bisa-naik-usai-pilpres-ini-kata-sri-mulyani.
Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Share:

28 Ton Daging Beku Tiba Pekan Ini


Selasa, 04 Desember 2018 - 10:00 WIB > Dibaca 286 kali http://riaupos.co/images/print.png Print | Komentar
Share
Berita Terkait

KOTA (RIAUPOS.CO) - Badan urusan logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Riau-Kepulauan Riau memastikan bahwa 28 ton daging beku akan tiba di Pekanbaru pada pekan ini. Setelah sampai, daging tersebut akan disimpan sesaat kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga jual Rp 80 ribu per kilogram.

Humas Bulog Divre Riau-Kepri Faldi Wiranata mengatakan, izin untuk pengiriman daging beku tersebut sudah didapatkan pihaknya. Sehingga hal tersebut dapat mempercepat proses pengiriman daging beku ke Pekanbaru.

"Kemungkinan pekan ini juga daging tersebut sudah sampai di Pekanbaru, karena semua proses perizinannya sudah selesai. Jumlah yang dikirim juga masih tetap sama yakni 28 ton," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, daging beku tersebut didatangkan guna memenuhi keperluan masyarakat akan daging jelang Natal dan tahun baru 2019. Pengiriman daging beku tersebut akan dilakukan menggunakan jalur darat dengan kendaraan khusus.  Dengan begitu, bisa menjaga  kondisi daging beku selama perjalanan.

"Biasanya jelang momen hari besar keagamaan seperti Natal dan tahun baru juga Idul Fitri permintaan daging akan meningkat tajam.Untuk itu dirasa perlu, kami  antisipasi dengan melakukan penambahan stok daging beku," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, bagi masyarakat yang ingin membeli daging beku tersebut, bisa mendatangi outlet-outlet rumah pangan yang sudah tersebar di beberapa titik di Pekanbaru. Termasuk tujuh titik pasar yang ada di Pekanbaru. (sol)


Share:

November, Harga Gabah dan Beras Naik

MUTIA FAUZIA Kompas.com - 03/12/2018, 15:14 WIB Sekelompok petani sedang memasukkan gabah kering ke dalam kantung di BKT, Jakarta Timur, Rabu (14/3/2018)(Kompas.com/Setyo Adi) JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan kenaikan harga gabah kering di tingkat petani pada bulan November 2018. Selain itu juga terdapat kenaikan harga beras di penggilingan pada bulan November ini. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, pada November 2018 , harga gabah kering panen (GKP) meningkat 3,64 persen menjadi Rp 5.116 per kilogram (kg) pada November 2018. Jauh berbeda dengan kenaikan bulan sebelumnya yang hanya 0,98 persen. Sementara harga gabah kering giling di petani Rp 5.464 per kg atau naik 3,8 persen dan di penggilingan Rp 5.754 per kg atau naik 3,34 persen. Sementara harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp 4.739 per kg atau naik 0,95 persen dan di tingkat penggilingan Rp 4.841 per kg naik 1,23 persen. Menurut Suhariyanto, kenaikan harga ini wajar lantaran sepanjang bulan Oktober hingga November sudah mulai memasuki musim tanam. "Ketika dia musim tanam, jumlah pasokan gabah pasti turun, ya biasa itu," ucap Suhariyanto di kantor BPS, Senin (3/12/2018). Adapun harga beras di penggilingan pada November 2018 naik 1,3 persen dibanding Oktober menjadi Rp 9.771 per kg. Harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 9.604 per kg, atau naik 2,22 persen. Sementara harga rata-rata harga beras kualitas rendah di nonpenggilingan sebesar Rp 9.426 per kg atau meningkat 2,52 persen dibandingkan tahun lalu. Lebih lanjut Suhariyanto menjelaskan, dibandingkan dengan November 2017, rata-rata harga beras di penggilingan pada November 2018 pada semua kualitas mengalami kenaikan, untuk kualitas premium sebesar 2,43 persen, kualitas medium 3,49 persen, dan kualitas rendah Rp 4,28 persen. "Meski naik, kalau dibandingkan November 2017 kenaikan ini masih wajar dan masih terkendali," ujar dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "November, Harga Gabah dan Beras Naik", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/03/151444826/november-harga-gabah-dan-beras-naik
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Share:

Ini Realisasi Ekonomi Makro Indonesia hingga 31 Oktober

YOGA SUKMANA Kompas.com - 16/11/2018, 05:43 WIB Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama jajaran pejabat eselon I Kementerian Keuangan saat konferensi pers mengenai UU APBN 2019 yang baru disahkan DPR RI di gedung Direktorat Jenderal Pajak, Rabu (31/10/2018) malam.(KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA) JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memaparkan perkembangan terkini realisasi ekonomi makro Indonesia dari Januari-31 Oktober 2018. Untuk pertumbuhan ekonomi, Januari-Oktober 2018 baru mencapai 5,17 persen. Padahal target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, ekonomi tumbuh 5,4 persen. "Ini agak sedikit di bawah asumsi APBN," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (15/11/2018). Sementara itu inflasi terjaga diangka 3,2 persen, belum melewati asumsi di APBN 2018 yang sebesar 3,5 persen. Baca juga: Januari-Oktober 2018, Utang Pemerintah Capai Rp 333,7 Triliun Selain itu tingkat bunga SPN 3 bulan sebesar 4,9 persen, masih lebih rendah dibanding asumsi di APBN 2018 sebesar 5,2 persen. Adapun nilai tukar rupiah justru sudah jauh melebihi asumsi APBN 2018 yang sebesar Rp 13.400 per dollar AS. Realisasinya mencapai Rp 14.209 per dollar AS secara rata-rata hingga 31 Oktober 2018.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Realisasi Ekonomi Makro Indonesia hingga 31 Oktober", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/16/054300926/ini-realisasi-ekonomi-makro-indonesia-hingga-31-oktober
Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Erlangga Djumena
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyebutkan, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2018 tidak akan berbeda jauh dengan kuartal III tahun yang sama.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia tumbuh 5,17 persen pada kuartal III-2018, naik 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Kami masih perkirakan kuartal IV relatif sama dengan kuartal III untuk pertumbuhan ekonomi," ujar Dody ketika ditemui awak media selepas acara Indonesia Risk Management Outlook di Jakarta, Selasa (6/11/2018). Dia menambahkan, hingga akhir tahun, pertumbuhan ekonomi akan tetap berada di batas bawah target pertumbuhan ekonomi BI yang berada di kisaran 5 persen hingga 5,4 persen. Sementara itu dari Januari-Oktober 2018, BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,17 persen, dan pemerimtah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2018 5,2 persen. "Kami masih lihat perkiraan kami di situ karena kami lihat secara keseluruhan tahun, perbaikan di kuartal IV sendiri, tidak akan bisa mendorong (pertumbuhan melebihi batas bawah target)," jelas Dody. Dody mengatakan, permintaan domestik masih menjadi motor utama perekonomian, begitupula dengan ekspor dan investasi yang menurutnya masih tinggi. Walau untuk ekspor, meskipun sudah tumbuh namun kecepatannya masih di bawah pertumbuhan impor. "Kalau bicara net ekspor dari eksternal demand masih di posisi net minus, karena pertumbuhan impor di atas ekspor," ujar dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BI: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2018 di Batas Bawah 5 Persen", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/06/161618426/bi-pertumbuhan-ekonomi-kuartal-iv-2018-di-batas-bawah-5-persen
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Share:

Hingga Akhir Tahun, BI Prediski Inflasi 3,2 Persen

MUTIA FAUZIA Kompas.com - 09/11/2018, 15:36 WIB Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ketika ditemui awak media selepas Sholat Jumat di Masjid BI, Jumat (9/11/2018).(Kompas.com/Mutia Fauzia) JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, hingga akhir tahun 2018 laju inflasi lebih rendah dari dari prediksi sebelumnya menjadi 3,2 persen. Awal Oktober lalu, BI sempat memperkirakan inflasi hingga akhir tahun sebesar 3,4 persen. "Kami perkirakan akhir tahun inflasi itu akan lebih rendah lagi dari perkiraan kami semula akhir tahun itu bisa 3,2 persen (yoy)," ujar Perry ketika ditemui awak media di kawasan Gedung BI, Jumat (9/11/2018). Lebih lanjut Perry menjelaskan, perkiraan inflasi hingga akhir tahun tersebut berdasarkan survei pemantauan harga minggu pertama November yang menunjukkan laju inflasi cenderung cukup rendah sebesar 0,16 persen (mtm). Jika diakumulasikan, sepanjang tahun 2018 hingga saat ini inflasi tercatat sebesar 2,39 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi secara year on year sebesar 3,12 persen. Baca juga: Penundaan Kenaikan Harga BBM Faktor Kunci Inflasi Terjaga "Sejumlah komoditas penyumbang inflasi antara lain komoditas bawang merah, beras, bensin, dan emas perhiasan," jelas Perry. Adapun beberapa komoditas yang mengalami deflasi adalah ayam ras juga sayur-sayuran.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hingga Akhir Tahun, BI Prediski Inflasi 3,2 Persen", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/09/153600626/hingga-akhir-tahun-bi-prediski-inflasi-3-2-persen
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Erlangga Djumena
Share:

Tarif Angkutan Udara hingga Pulsa Internet Dorong Inflasi November 2018

MUTIA FAUZIA Kompas.com - 03/12/2018, 13:03 WIB Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto ketika memberikan paparan di kantornya, Senin (3/12/2018).(Kompas.com/Mutia Fauzia) JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatatkan inflasi pada bulan November 2018 sebesar 0,27 persen. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, kontribusi utama dari inflasi November 2018 kali ini berasal dari kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan sumbangan 0,1 persen dan besaran inflasi 0,56 persen. "November kenaikan terbesar inflasi dari kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,56 persen andilnya 0,1 persen," ujar Suhariyanto ketika memberikan keterangan kepada awak media di kantornya, Senin (3/12/2018). Lebih lanjut Suhariyanto menjelaskan, beberapa komoditas utama yang menyebabkan inflasi transportasi agak tinggi, yaitu inflasi angkutan udara yang memberikan andil 0,05 persen. Baca juga: BPS: Inflasi November 2018 0,27 Persen Selain itu, penyebab inflasi juga adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi dengan andil 0,02 persen, juga kenaikan harga pulsa paket internet dengan andil 0,01 persen. "Mendekati akhir tahun banyak perjalanan yang dinas dilakukan departemen menyebabkan kenaikan pesawat, tari angkutan udara mengalami kenaikan di 43 kota IHK dan kenaikan tertajam di Indonesia Timur seperti Amon, Sorong, dan Ternate," jelas Suhariyanto. Adapun penyumbang inflasi lainnya adalah kelompok pengeluaran kesehatan dengan inflasi sebesar 0,36 persen dan andil 0,01 persen, kemudian perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dengan inflasi 0,25 persen dan sumbangan terhadap inflasi secara keseluruhan 0,05 persen.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tarif Angkutan Udara hingga Pulsa Internet Dorong Inflasi November 2018", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/03/130340626/tarif-angkutan-udara-hingga-pulsa-internet-dorong-inflasi-november-2018
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Share:

BPS: Inflasi November 2018 Sebesar 0,27 Persen

MUTIA FAUZIA Kompas.com - 03/12/2018, 12:37 WIB Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto ketika memberikan keterangan pers di kantornya, Senin (17/9/2018).(Kompas.com/Mutia Fauzia) JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat pada bulan November 2018 terjadi inflasi sebsar 0,27 persen. Sementara jika dihitung dari awal tahun, inflasi hingga bulan November tercatat sebesar 0,25 persen, sedangkan inflasi secara tahunan tercatat sebesar 3,23 persen. Ketua BPS Suhariyanto menjelaskan, angka inflasi bulan ini di luar kebiasaan karena rendah dibandingkan dengan bulan Oktober. Sebab, dalam dua tahun belakangan umumnya inflasi bulan November lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Oktober. "Yang membedakan November 2018 inflasi lebih rendah dari Oktober 2018 yang 0,28 persen, sedangkan November 2018 0,27 persen, sementara kalau dilihat tahun-tahun sebelumnya inflasi November lebih tinggi karena mendekati akhir tahun, tapi tidak terjadi di 2018," ujar Suhariyanto ketika memberikan konferensi pers di kantornya, Senin (3/12/2018). Baca juga: Survei BI: November 2018, Inflasi 0,18 Persen Meskipun secara bulanan cenderung lebih rendah, namun jika dibandingkan dengan bulan November 2017 angka inflasi di November 2018 lebih tinggi. Pada November 2017 lalu, BPS mencatatkan inflasi sebesar 0,12 persen. Ada[im angka infalsi November tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan November 2016 yang sebesar 0,47 persen. Suhariyanto, menjelaskan, dari 82 kota IHK, 70 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,05 persen. Suhariyanto mengatakan, penyebab inflasi terutama karena kenaikan harga produk-produk holtikultura. Inflasi juga terjadi karena kenaikan harga udang serta angkutan udara. Sementara inflasi terendah di Balikpapan sebesar 0,01 persen. Baca juga: BI Proyeksikan Inflasi hingga Akhir 2018 Mencapai 3,2 Persen Adapun untuk deflasi tertinggi terjadi di Medan sebesar 0,64 persen dan Pematangsiantar serta Pangkalpinang masing-masing sebesar 0,01 persen. "Deflasi di Medan terjadi karena penurunan harga cabai merah dan cabai rawit yang signifikan, sumbangan dari cabai merah 0,01 persen dan cabai merah 0,04 persen," jelas dia lebih lanjut.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BPS: Inflasi November 2018 Sebesar 0,27 Persen", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/03/123700126/bps-inflasi-november-2018-sebesar-027-persen
Penulis : Mutia Fauzia
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Share: