Satgas Kirim 5 Unit Helikopter ke 3 Titik Panas Wilayah Pesisir Riau



·     ·      23 Jul 2018, 09:39:07 WIB

PEKANBARU,Detakriaunews.com - Kebakaran yang masih terjadi di daerah pesisir Riau membuat tim Satgas Penanggulangan Karhutla mengirimkan lima unit Helikopter ke tiga lokasi kebakaran Minggu (22/7/2018).
Hingga saat ini kebakaran masih saja terjadi di beberapa daerah pesisir.
Tiga daerah yang menjadi sasaran tim Satgas Udara melakukan Pemadaman dan pendinginan tersebut di Bangko Rokan Hilir, Sungai Gaung Dumai dan Sam-sam.
Untuk di Bangko masih terjadi Kebakaran sedangkan di Sungai Gaung dan Samsam hanya tinggal pendinginan.
"Ada lima unit Helikopter yang diturunkan memadamkan api di Bangko, Sungai Gaung dan Samsam, ada yang pendinginan pasca padam ada juga yang masih terbakar, "ujar Edwar Sanger kepada Tribun Minggu (22/7).
Lima Helikopter yang diterjunkan untuk membantu tim Satgas Darat melakukan water bombing tersebut empat unit Helikopter dari BNPB ditambah satu unit dari helikopter sinarmas.
"Kita akan lakukan Pemadaman terus baik itu melalui darat, udara sampai betul-betul padam dan jangan sampai kebakaran meluas, "ujar Edwar Sanger.
Menurut Edwar kebakaran yang terjadi terutama di daerah pesisir masih merupakan kesengajaan masyarakat yang ingin membuka lahan baru, apalagi kondisi kekeringan yang terjadi saat ini sedikit kebakaran saja bisa dengan cepat meluas.
"Kami menduga masih karena sengaja dibakar, apalagi cuaca kering ini semua sudah terbakar, "jelasnya.
Makanya selain melakukan patroli secara rutin di daerah menurut Edwar Sanger Satgas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar jangan melakukan pembakaran te hadap lahan dan masyarakat juga diminta aktif mencegah terjadinya kebakaran.
"Semua jajaran di daerah juga selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat, jangan sampai buka lahan dengan membakar apalagi musim kering ini, "jelas Edwar.
Karena bagaimanapun juga menurut Edwar Sanger tahun ini Riau juga harus bebas dari kebakaran hutan dan lahan, apalagi ada Perhelatan Asian Games di Sumatera Selatan maka sesuai Intruksi Presiden jangan sampai terjadi Karhutla dan asap.
" Kita punya tugas mengamankan agar jangan sampai terjadi Kebakaran saat Perhelatan Asian Games, "ujar Edwar. (TribunPekanbaru.com)

Share:

6 Daerah Riau Berpotensi Hujan Petir Serta Angin Kencang Malam Nanti


·      DRN

·      26 Jul 2018, 09:55:50 WIB

PEKANBARU,Detakriaunews.com  - Potensi hujan ringan hingga sedang disertai dengan petir dan angin kencang diperkirakan akan terjadi nanti malam di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, Bengkalis dan Kota Dumai. 
Sedangkan Pekanbaru diperkirakan hanya akan ada turun hujan ringan bersifat lokal, pagi ini. Termasuk Kampar, Kuansing dan Indragiri Hilir. Namun secara umum cuaca terjadi cerah berawan.

"Untuk Pekanbaru cuma hujan ringan bersifat lokal, pagi dan dini hari nanti," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sukisno melalui rilis prakiraan cuaca, Kamis (26/7/18).

Ada pun untuk siang nanti, potensi hujan ringan masih akan terjadi. Terutama di Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu serta Kepulauan Meranti. Hujan ringan ini masih berlanjut pada dini hari, terutama Pekanbaru, Bengkalis, Kampar, Kuantan Singingi.

Bersamaan dengan ini pula, BMKG juga merilis hotspot yang terdeteksi di Riau sebanyak 3 titik. Semuanya terdapat di Rokan Hilir. Sementara untuk Sumatera secara umum, hotspot juga terdapat di Sumatera Utara 1 titik, Bangka Belitung 1 titik. (riauterkini.com)


Share:

Permintaan melemah, inflasi Juli rendah



Penulis
 -
Juli 2018

  
POTRET24.COM – Setelah melewati puncaknya pada Mei 2018 dan Juni 2018, inflasi diperkirakan mulai mereda. Bank Indonesia (BI) memprediksi, inflasi Juli 2018 hanya 0,23%. Angka itu berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) mingguan yang dilakukan BI hingga pekan kedua Juli 2018.
Dengan proyeksi itu, maka inflasi tahunan pada Juli 2018 akan mencapai 3,14% year on year (YoY), sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 3,12% YoY.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, jika perkiraan itu terbukti, maka inflasi Juli 2018 menjadi yang terendah dibandingkan rata-rata inflasi pada bulan yang sama dalam tiga tahun terakhir. Secara historis, rata-rata inflasi Juli tiga tahun terakhir adalah 0,54%. “Ini menunjukkan harga-harga terkendali,” katanya, Jumat (13/7).
Rendahnya inflasi Juli, menurut Perry, juga menunjukkan kuatnya koordinasi yang dilakukan antara BI, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah dalam Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) maupun Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). “Kami sedang menyiapkan rakornas (rapat koordinasi nasional) TPID yang nanti Insya Allah akan dilakukan pada 25 Juli-26 Juli mendatang,” tambah Perry.
Dengan perkiraan itu, maka BI semakin yakin, inflasi akhir tahun ini berada di target sasaran inflasi sebesar 3,5% plus minus 1%, atau lebih tepatnya sebesar 3,6% YoY. Angka itu sudah memperhitungkan inflasi dari kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation) karena pelemahan rupiah dan harga komoditas.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, rendahnya inflasi Juli dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir disebabkan masih rendahnya permintaan. Hal itu terindikasi sejak Juni 2018, dimana inflasi inti yang tercatat hanya 0,24%, terendah sejak tiga tahun yang lalu.
Meski biaya pembelian di level pedagang naik karena impor dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), penjual di pasar tidak berani menaikkan harga karena khawatir jumlah pembeli menurun, terutama pada industri makanan dan minuman. “Artinya penyakit inflasi karena permintaan yang melemah,” kata Bhima.
Dengan sebab itu, dia memperkirakan, inflasi inti pada bulan Juli akan menurun ke kisaran 0,17%-0,19% dan akan kembali meningkat di Agustus sejalan dengan permintaan musiman kebutuhan sekolah.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengamini hal itu. Menurutnya, kebanyakan produsen belum menaikan harga, khususnya pangan olahan. “Masih ada kekhawatiran penjualan bisa turun kalau harga naik,” katanya kepada KONTAN.
sumber : kontan.co.id

Share:

Ini Faktor Menurunnya Angka Kemiskinan Menurut Kepala Bappenas


Penulis
 -
Juli 2018

POTRET24.COM – Menteri Perancanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menjelaskan beberapa faktor penyebab angka kemiskinan turun pada 2018 ini. Angka kemiskinan di Indonesia mencapai 9,82 persen pada tahun ini.
Menurut Bambang, salah satu faktornya adalah tepat waktunya bantuan sosial dari pemerintah.
“Nah 2018 ini presiden sudah menegaskan ke semua menteri yang terlibat dari sejak Januari sudah harus tepat sasaran. Tepat sasarannya itu tidak hanya dari PKH, tapi juga rastrah, bantuan pangan non tunai, plus kartu sehat dan pintar tadi dan juga dana desa digulirkan lebih awal,” ujar Bambang di kantornya, Selasa (17/7/2018).
Bambang menceritakan, pada 2017 lalu bantuan sosial dari pemerintah sempat terlambat. Karena hal itu, saat dilakukan survei angka kemiskinan jadi tinggi.
“Di awal 2017 itu ada keterlambatan, sehingga ketika dilakukan survei orang itu merasa tidak terima. Kalau tidak pernah terima itu kan berarti pengaruh ke pengeluarannya. Pengeluarannya jadi tidak sebesar yang seharusnya, sehingga akhirnya dia terkategori miskin, meskipun tadinya dia mungkin tidak miskin,” ucap dia.
Bambang menambahkan, sejak Maret 2017 sampai Maret 2018 jumlah penduduk miskin turun sebanyak 1,82 juta jiwa.
“Jadi maret 2017 dengan maret 2018. Didalam periode satu tahun tersebut kita lihat jumlah penduduk miskin yang berkurang 1,82 juta jiwa. Tingkat kemiskinannya berkurang sampai 0,82 persen dalam setahun,” kata Bambang.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82 persen pada Maret 2018.
Dengan persentase kemiskinan 9,82 persen, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.
“Maret 2018 untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin berada di dalam 1 digit. Kalau dilihat sebelumnya, biasanya 2 digit, jadi ini memang pertama kali dan terendah,” kata Kepala BPS Suhariyanto saat menggelar konferensi pers di kantornya, Senin (16/7/2018).
sumber : Kompas.com


Share:

Dua Pekan Usai Lebaran, Harga Sembako Masih Belum Stabil, Dewan Sarankan Disperindag Turun



Sabtu, 30 Juni 2018 16:35

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Alexander
TRIBUNPEKANBARU.COM - Sudah dua pekan lebaran Idul Fitri 2018 usai.
Namun sampai saat ini harga sembako masihbbekum stabil.
Bahkan sebagian masyarakat merasakan harga usai lebaran ini justru sembako semakin meningkat.
Wakil Ketua DPRD Riau Kordias Pasaribu mengatakan, hal ini harus diatasi oleh pihak terkait.
Seharusnya menurut dia pihak terkait mencarikan solusi tanpa menunggu masyarakat mengeluh.
Jika perlu menurut Kordias, pihak pemerintah diminta untuk turun langsung ke lapangan, mengecek apa persoalan yang terjadi di bawah.
"Sejauh ini kita akui sudah banyak warga yang mengadu. Saya minta instansi terkait untuk segera turun ke lapangan. Lihat apa yang terjadi. Bila ada masalah distribusi, segera tuntaskan," ujar Kordias.
Dikatakannya, seharusnya Disperindag fokus mengatasi masalah sembako tersebut, sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan usai lebaran ini.
"Banyak yang bisa dilakukan kedepannya untuk mengatasi hal ini. Yang penting pihak Disperindag mau turun untuk melihat ke lokasi, dan melihat bagaimana kondisi, serta mencarikan solusinya," tuturnya.
Ia juga berharap, agar kedepannya kondisi seperti ini tidak terulang kembali.
"Dengan sudah adanya kondisi saat ini dan dicarikan sulolusi, kedepan hendaknya dijadikan pelajaran dan tidak terulang kembali," ulasnya. (*)




Share:

Kampanye Negatif Eropa Belum Pengaruhi Harga TBS di Riau, Pekan Ini Naik Rp 22,39/kg


Rabu, 11 Juli 2018 09:44

kabarsawit.files.wordpress.com
Kelapa Sawit 
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Produk CPO Indonesia khususnya Riau masih memiliki serapan pasar yang baik. 
Ini ditandai dengan naiknya harga jual CPO dan kernel dari Riau. 
Padahal secara umum harga minyak sawit mentah dunia masih dalam tren melemah.
Kampanye negatif negara-negara eropa, menurunnya tingkat ekspor disertai sentimen konflik dagang Amerika Serikat (AS) membuat harga komoditas ini terus tertekan.
Namun serapan pasar yang baik justru membuat harga jual CPO Riau naik. 
Tentu saja berimbas pada harga Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Riau.

Pekan ini harga TBS terus menunjukan tren positif. 
Kenaikan masih terjadi dengan nominal Rp 22,39/Kg untuk kelompok umur 10 - 20 tahun 
Keputusan harga ini diambil setelah rapat penetapan harga TBS di Riau Selasa (10/7/2018). 
Dengan adanya kenaikan, mulai Rabu (11/7/2018) hingga sepekan kedepan harga tertinggi TBS menjadi 1.686,80/Kg. 
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Riau, Ferry HC melalui Sekretaris tim pelaksana tim penetapan harga TBS Kelapa sawit, T. Neni, secara internal kenaikan harga TBS periode ini disebabkan oleh naiknya harga jual CPO dan kernel dari hampir seluruh perusahaan sumber data.
Untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami kenaikan sebesar Rp 228,73/Kg.
Astra Agro Lestari Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp 223,64/Kg.
Asian Agri Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp 82,87/Kg.
PT. Citra Riau Sarana mengalami kenaikan sebesar Rp 46,00/Kg dari harga minggu lalu.
Hanya Sinar Mas Group yang mengalami penurunan harga sebesar Rp 24,88/Kg.
Sedangkan untuk harga jual kernel, Sinar Mas Group mengalami kenaikan sebesar Rp 313,09/Kg.
Astra Agro Lestari Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp 561,82/Kg.
Asian Agri Group mengalami kenaikan sebesar Rp 412,20/kg.

PT. Citra Riau Sarana mengalami kenaikan sebesar Rp 540,00/Kg dari harga minggu lalu.
Secara eksternal kenaikan harga TBS di Riau dipengaruhi masih bagusnya serapan pasar untuk CPO asal Indonesia khusunya Riau. 
Berikut harga TBS di Riau sepekan kedepan berlaku 11-17 Juli 2018.
Umur 3 tahun Rp 1.207,44
Umur 4 tahun Rp 1.348,30
Umur 5 tahun Rp 1.442,77
Umur 6 tahun Rp 1.485,24
Umur 7 tahun Rp 1.541,92
Umur 8 tahun Rp 1.589,99
Umur 9 tahun Rp 1.641,07
Umur 10 tahun-20 tahun Rp 1.686,80
Umur 21 tahun Rp 1.645,76 
Umur 22 tahun Rp 1.604,06 
Umur 23 tahun Rp 1.563,01
Umur 24 tahun Rp 1.546,47 
Umur 25 tahun Rp 1.480,27
Indeks K : 91,00 %
Harga CPO Rp. 7.274,73
Harga Kernel Rp. 5.151,88
Tags 
·          
Penulis: Afrizal
Editor: Afrizal

Share:

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ini Sektor Usaha di Riau yang Terkena Dampak


Minggu, 15 Juli 2018 15:01

Wakil Ketua Umum Kadin Riau, Ir H Delisis Hasanto. 
Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Hendri Gusmulyadi
TRIBUNPEKABARU.COM, PEKANBARU - Sejak beberapa bulan terakhir, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah.
Pada 13 Juli 2018, rupiah berada di angka Rp. 14.400 perdolar.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Riau, melalui Wakil Ketua Umumnya, Ir H Delisis Hasanto, saat berbincang dengan Tribun mengungkapkan, rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah pasti berimbas terhadap dunia usaha.
Menurutnya, beberapa sektor usaha di Riau yang paling terganggu dengan adanya kondisi ini yakni Pariwisata seperti biro perjalanan yang berhubungan langsung dengan luar negeri.

Travel-travel agent mau tidak mau harus melakukan penyesuaian harga agar operasional perusahaan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
"Dengan adanya perubahan-perubahan (nilai tukar rupiah, red) ini, ada beberapa sektor yang terganggu. Salah satunya itu tadi, pariwisata. Kemudian sektor usaha properti dengan masalah konstuksinya yang memakai bahan-bahan dasar logam atau besi, ini pasti terimbas," ungkap Delisis belum lama ini.
Walau demikian, Delisis melihat, dampak dari rendahya nilai tukar rupiah terhadap dolar, pada umumnya tidak terlalu berdampak signifikan terhadap dunia usaha yang bergerak di bidang konstruksi, atau hanya berada di angka 25 sampai dengan 30 persen.
"Kalau sektor usaha yang memakai logam seperti paku, besi, atap, seng dan sebagainya, itu pasti mereka akan melakukan sedikit perubahan. Contoh sektor konstruksi atau properti, punya dua jenis, ada subsidi dan komersil. Kalau subsidi nilai jualnya kan sudah ditentukan pemerintah dan tidak bisa diubah lagi. Sedangkan komersil tidak diatur, ini berakibat pada daya saing dan kompetisi pasar (bangunan komersil, red) itu bermasalah, artinya apa, dengan tingginya biaya konsturksi tentu harga jualnya dinaikkan, kondisi pasar menjadi tidak baik," terangnya.

Menutur Delisis, mau tidak mau dunia usaha properti akan melakukan efisensi biaya agar tidak terlalu berimbas terhadap usaha yang sedang berjalan.


Dirinya menjelaskan lagi, pengurangan spesifikasi atau mutu bangunan, pastinya sesuatu yang tidak mungkin akan dilakukan oleh dunia usaha sektor konsturksi atau properti.
Namun, langkah yang mungkin diambil dalam menyikapi tinggi biaya, salah satunya dengan melakukan pengurangan jumlah unit bangunan, atau sedikit memperlambat tahap pembangunan sampai kondisi rupiah kembali stabil.
"Dari sisi industri stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar sangat dibutuhkan agar dunia usaha dapat berlangsungan dengan baik. Jika pemerintah mampu membuat rupiah stabil di angka Rp. 14.000, maka proyeksi pembangunan dan perencanaan yang dilakukan oleh kadin dan kawan-kawan bisa tetap bergerak dan stabil. Kalau pun maksimum melompat di angka Rp. 14.300, kawan-kawan memang tidak tersakiti betul, tapi mengurangi jumlah (produkasi, red). Jadi saya melihat ini problemnya," paparnya.

Agar dunia usaha kembali dapat berjalan optimal, peran Bank Indonesia (BI) menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan.
Dari itu Delisis berharap, Bank Central untuk tidak terlalu terburu-buru dalam manaikkan Billing Rate.
Sebab, ini akan mengakibatkan pembiayaan menjadi tergannggu, terutama sektor usaha yang menggunakan biaya-biaya dari bank.
"Pembiayaan bank ini kan banyak macamnya, ada dari konsturksinya, permodalannya, KPRnya. Terutama kawan-kawan di sektor properti, kalau seandainya suku bungan KPR itu menyesuaikan dengan Billing Rate yang baru, ya mana lagi pasar akan berdaya. Kenapa, situasi ini (nilai tukar tukar rupiah, red) saja sudah sulit, apalagi nanti ditambah lagi (suku bunga, red)," sebutnya. (*)

Share:

Tahun Ini Provinsi Riau Dapat 34 Miliar untuk Kelistrikan dari Pusat


Minggu, 15 Juli 2018 17:17

Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com,  Nasuha Nasution
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau Indra Agus Lukman mengatakan persoalan kelistrikan masih menjadi masalah bagi sebagian masyarakat di Riau.
Terutama masyarakat yang berada didaerah yang aksesnya jauh dari perkotaan.
Bahkan dari data yang ada di Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau masih ada 401 Desa yang belum teraliri listrik dari jumlah Desa di Riau 1.592.
Daerah yang tidak teraliri listrik ini merupakan daerah yang tidak sampai jangkauan PLN, dan terbanyak itu di daerah pulau dan aksesnya jauh seperti di Kabupaten Indragiri Hilir.
Dimana di Kabupaten ini masih ada Inhil 19 kecamatan dan 80 Desa yang belum teraliri listrik, disusul kemudian Rohil 8 kecamatan 11 Desa belum teraliri Listrik, Meranti 6 kecamatan dan 11 desa belum teraliri listrik, Inhu 4 kecamatan 7 desa masih belum teraliri.

Selanjutnya Siak 5 kecamatan 9 desa belum teraliri listrik, Pelalawan 3 kecamatan 10 desa belum teraliri, Kampar 2 kecamatan 16 Desa belum teraliri, Rohul 2 kecamatan 5 desa, Bengkalis 1 kecamatan 4 desa, kemudian Kuansing 1 kecamatan 1 desa dan terakhir Kota dumai 1 kecamatan 1 desa. Sedangkan Kota Pekanbaru sudah teraliri 100 persen listrik.

Indra Agus Lukman mengatakan tahun 2018 ini terbantu dengan meningkatnya Dana Alokasi Khusus (DAK) di Dinasnya karena naik dari sebelumnya Rp17 Miliar sekarang menjadi Rp34 Miliar.
"Alhamdulillah tahun ini kita kebagian anggaran melalui DAK Rp34 Miliar dan jauh meningkat dari sebelumnya, "ujar Indra Agus Lukman kepada Tribunpekanbaru.com Minggu (15/7/2018).

Anggaran DAK ini menurut Indra Agus Lukman akan diperuntukkan bagi pembangunan pembangkit di berbagai daerah yang tidak bisa dijangkau PLN dan tentunya jaringan listrik di daerah pedalaman di Riau.


Artikel ini telah tayang di Tribunpekanbaru.com dengan judul Tahun Ini Provinsi Riau Dapat 34 Miliar untuk Kelistrikan dari Pusat, http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/07/15/tahun-ini-provinsi-riau-dapat-34-miliar-untuk-kelistrikan-dari-pusat.
Penulis: Nasyuha
Editor: Budi Rahmat


Share:

Harga Tiket Angkutan Mudik Bakal Pengaruhi Inflasi di Juni






Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan tingkat inflasi pada Juni 2018 akan berkisar antara 0,2 persen-0,25 persen. Hal ini hampir sama dengan perkiraan inflasi Bank Indonesia (BI) yang berada di angka 0,22 persen.
Dia mengungkapkan, inflasi yang terjaga relatif rendah tersebut lantaran harga bahan pangan selama Ramadan relatif terkendali.
"Ya memang antara 0,2 persen-0,25 persen. Karena harga-harga oke, beras oke, daging oke," ujar dia di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (11/6/2018).
Darmin mengatakan, harga pangan yang sedikit mengalami kenaikan panjang bulan puasa hanya telur ayam. Namun kenaikannya tidak begitu signifikan.
"Yang mungkin sedikit harganya naik itu telur. Tapi Telur kan tidak banyak pengaruh," lanjut dia.
Namun demikian, yang tetap harus menjadi perhatian yaitu kenaikan harga tiket angkutan, khususnya pada periode mudik Lebaran. Jika harga tiket ini stabil, maka inflasi diperkirakan akan berada di bawah 0,25 persen.
"Yang harus kita perhatikan itu tiket pesawat. Kalau tiket angkutan darat biasanya tidak mudak lagi dimain-mainkan, didorong naik. Tapi kalau tiket pesawat itu bisa naik. Kalau harga tiket angkutan darat tidak ada lonjakan maka inflasi kita bulan Juni akan 0,2 persen-0,25 persen," tandas dia.
1 dari 2 halaman

Ekonomi RI Diramal Tumbuh 5,2 Persen pada 2018

World Bank atau Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2018 akan tumbuh sebesar 5,2 persen. Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibanding proyeksi pemerintah yang 5,18 persen, namun masih lebih rendah dari prediksi awal Bank Dunia yakni 5,3 persen.
Country Director Bank Dunia di Indonesia Rodrigo A Chaves menyampaikan, pertumbuhan PDB negara yang diproyeksikan mencapai 5,2 persen tersebut seiring pertumbuhan perekonomian global yang melambat.
"Arus perdagangan juga menurun dari level tertingginya baru-baru ini, sehingga pertumbuhan PDB Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2 persen pada tahun 2018," ujar dia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/6/2018).
  • Mengacu terhadap fakta ini, ia mengatakan, konsumsi swasta di Tanah Air akan sedikit meningkat, sementara pertumbuhan investasi diproyeksikan tetap tinggi lantaran tingginya harga komoditas yang terus berlanjut.
Bank Dunia pun mengasumsikan, PDB riil Tanah Air pada tahun ini diperkirakan 5,2 persen, Indeks Harga Konsumen (IHK) 3,5 persen, neraca transaksi berjalan -2 persen dari PDB, dan neraca Anggara pemerintah -2,1 persen dari PDB.
Akan tetapi, dia mengingatkan, ekspor bersih akan terus membebani pertumbuhan ekonomi oleh sebab pertumbuhan ekpsor melambat sejalan dengan menurunnya perdagangan global. Hal itu ia tekankan mengingat sifat investasi yang sarat impor.
"Risiko terhadap perkiraan perekonomian cenderung menurun, di tengah kondisi moneter yang terus mengetat dan timbulnya volatilitas keuangan yang berpusat di negara-negara berkembang yang lebih rentan, seperti Argentina dan Turki," tukas dia.
Share:

BPS: Inflasi Juni Sebesar 0,59 Persen







Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi pada Juni 2018 sebesar 0,59 persen. Angka ini lebih tinggi tinggi dibandingkan inflasi Mei 2018 yang sebesar 0,21 persen. Namun ini lebih rendah dibandingkan Juni 2017 yang sebesar 0,69 persen.
Sementara, untuk inflasi tahun kalender sebesar 1,90 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun (year on year) sebesar 3,12 persen. "Perkembangan harga komoditas pada Juni menunjukkan adanya peningkatan," jelas Kepala BPS, Suhariyanto, Senin (2/7/2018).
Dari 82 kota yang dihitung Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruh kota telah mengalami inflasi. "Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 2,71 persen dan terendah terjadi di Medan dan Pekanbaru sebesar 0,01 persen," tambah dia.
Dia melanjutkan, inflasi pada Ramadan 2018 ini lebih rendah dibandingkan 2017 dan 2016 yang masing-masing sama yakni sebesar 0,69 persen.
"Inflasi pada Juni ini terendah. Lebih rendah pada Lebaran, Juni 2017 juga dari posisi bulan Lebaran 2016. Ini merupakan angka yang menggembirakan karena itu kita perlu apresiasi kinerja pemerintah dan BI yang mengantisipasi dan berbagai rencana," pungkasnya.
Reporter: Dwi Aditya Putra
Sumber: Merdeka.com


1 dari 2 halaman

Prediksi Sebelumnya


Tingkat inflasi pada Juni 2018 diprediksi sebesar 0,3 persen. Angka ini lebih rendah dibanding Juni 2017 yang sebesar 0,69 persen, tapi lebih tinggi dibanding inflasi Mei 2018 yaitu sebesar 0,21 persen.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan meski ada dorongan terhadap daya beli masyarakat, khususnya dengan adanya pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) PNS dan swasta saat Lebaran, secara umum dorongan kenaikan harga di sisi permintaan masih lemah. 
"Jadi harga kebutuhan pokok tidak mengalami lonjakan karena penjual takut naikkan harga, karena daya beli masyarakatnya masih lemah. Ini bisa dicek dari inflasi inti bulan Mei saat Ramadan lebih rendah dari inflasi inti awal tahun Januari," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Senin (2/7/2018).
Dia menambahkan, hal yang mendorong inflasi di Juni adalah kenaikan tarif transportasi secara musiman, khususnya transportasi udara karena arus mudik Lebaran. "Dan naiknya biaya bahan bakar avtur pesawat karena menyesuaikan harga minyak dunia," kata dia. ‎
Menurut Bhima, yang perlu dicermati, yaitu pada inflasi di semester II akan merangkak naik karena harga BBM nonsubsidi yang semakin mahal akibat liarnya harga minyak mentah dunia. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah menciptakan imported inflation, khususnya di produk makanan dan minuman. 
"Terakhir soal kenaikan bunga acuan yang segera direspon oleh bank dengan menaikkan bunga kredit, ini diperkirakan menambah biaya produksi yang akan direspon dengan menaikkan harga barang-barang penjual," ujar dia.
Share: