Minggu, 15 Juli 2018 15:01
Wakil Ketua Umum Kadin
Riau, Ir H Delisis Hasanto.
Laporan Wartawan
Tribunpekanbaru.com, Hendri Gusmulyadi
TRIBUNPEKABARU.COM,
PEKANBARU - Sejak beberapa
bulan terakhir, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus
melemah.
Pada 13 Juli 2018,
rupiah berada di angka Rp. 14.400 perdolar.
Kamar Dagang dan
Industri (Kadin) Riau, melalui Wakil Ketua Umumnya, Ir H Delisis Hasanto, saat
berbincang dengan Tribun mengungkapkan, rendahnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar sudah pasti berimbas terhadap dunia usaha.
Menurutnya, beberapa
sektor usaha di Riau yang paling terganggu dengan adanya kondisi ini yakni
Pariwisata seperti biro perjalanan yang berhubungan langsung dengan luar
negeri.
Travel-travel agent
mau tidak mau harus melakukan penyesuaian harga agar operasional perusahaan
dapat berjalan sebagaimana mestinya.
"Dengan adanya
perubahan-perubahan (nilai tukar rupiah, red) ini, ada beberapa sektor yang
terganggu. Salah satunya itu tadi, pariwisata. Kemudian sektor usaha properti
dengan masalah konstuksinya yang memakai bahan-bahan dasar logam atau besi, ini
pasti terimbas," ungkap Delisis belum lama ini.
Walau demikian,
Delisis melihat, dampak dari rendahya nilai tukar rupiah terhadap dolar, pada
umumnya tidak terlalu berdampak signifikan terhadap dunia usaha yang bergerak
di bidang konstruksi, atau hanya berada di angka 25 sampai dengan 30 persen.
"Kalau sektor
usaha yang memakai logam seperti paku, besi, atap, seng dan sebagainya, itu
pasti mereka akan melakukan sedikit perubahan. Contoh sektor konstruksi atau
properti, punya dua jenis, ada subsidi dan komersil. Kalau subsidi nilai
jualnya kan sudah ditentukan pemerintah dan tidak bisa diubah lagi. Sedangkan
komersil tidak diatur, ini berakibat pada daya saing dan kompetisi pasar (bangunan
komersil, red) itu bermasalah, artinya apa, dengan tingginya biaya konsturksi
tentu harga jualnya dinaikkan, kondisi pasar menjadi tidak baik,"
terangnya.
Menutur Delisis, mau
tidak mau dunia usaha properti akan melakukan efisensi biaya agar tidak terlalu
berimbas terhadap usaha yang sedang berjalan.
Dirinya menjelaskan
lagi, pengurangan spesifikasi atau mutu bangunan, pastinya sesuatu yang tidak
mungkin akan dilakukan oleh dunia usaha sektor konsturksi atau properti.
Namun, langkah yang
mungkin diambil dalam menyikapi tinggi biaya, salah satunya dengan melakukan
pengurangan jumlah unit bangunan, atau sedikit memperlambat tahap pembangunan
sampai kondisi rupiah kembali stabil.
"Dari sisi
industri stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dolar sangat dibutuhkan agar
dunia usaha dapat berlangsungan dengan baik. Jika pemerintah mampu membuat
rupiah stabil di angka Rp. 14.000, maka proyeksi pembangunan dan perencanaan
yang dilakukan oleh kadin dan kawan-kawan bisa tetap bergerak dan stabil. Kalau
pun maksimum melompat di angka Rp. 14.300, kawan-kawan memang tidak tersakiti
betul, tapi mengurangi jumlah (produkasi, red). Jadi saya melihat ini
problemnya," paparnya.
Agar dunia usaha
kembali dapat berjalan optimal, peran Bank Indonesia (BI) menjadi sesuatu yang
amat dibutuhkan.
Dari itu Delisis
berharap, Bank Central untuk tidak terlalu terburu-buru dalam manaikkan Billing
Rate.
Sebab, ini akan
mengakibatkan pembiayaan menjadi tergannggu, terutama sektor usaha yang
menggunakan biaya-biaya dari bank.
"Pembiayaan bank
ini kan banyak macamnya, ada dari konsturksinya, permodalannya, KPRnya.
Terutama kawan-kawan di sektor properti, kalau seandainya suku bungan KPR itu
menyesuaikan dengan Billing Rate yang baru, ya mana lagi pasar akan berdaya.
Kenapa, situasi ini (nilai tukar tukar rupiah, red) saja sudah sulit, apalagi
nanti ditambah lagi (suku bunga, red)," sebutnya. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar