Liputan6.com, Jakarta - Pedagang tempe dan tahu di pasar tradisional mencari cara agar harga jual produknya tidak naik di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Pasalnya, selama ini bahan baku tempe dan tahu, yaitu kedelai masih harus diimpor dari negara lain.
Rosi (30) salah satu pedagang sekaligus perajin tahu dan tempe mengatakan, pelemahan rupiah memang berdampak pada kenaikan harga kedelai. Namun, kenaikannya dinilai tidak terlalu besar.
"Harga kedelai memang agak naik. Tadinya Rp 6.000-an, sekarang Rp 7.800 per kg," ujar dia di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Jumat (14/9/2018).
Rosi mengungkapkan, meski harga kedelai naik, dia tidak menaikkan harga jual tempe dan tahu. Untuk menyiasatinya, Rosi memperkecil ukuran tempe yang dijualnya.
"Rugi sih enggak, tapi ukurannya diperkecil sedikit. Kalau yang beli nanya, saya jelasin kalau harga kedelai lagi naik. Kalau ini habis (terjual) tidak rugi, yang rugi kalau ada yang enggak jual, kan harus dibuang. Pendapatan saja yang berkurang," kata dia.
Rosi menyatakan, harga tempe yang dijualnya saat ini masih Rp 5.000 per bungkus. Sedangkan untuk tahu, dijual Rp 6.000 per bungkus.
"Harga enggak kita naikin, kalau dinaikin nanti engga habis (dijual). Tempe kan tahannya enggak lama, paling 2-3 hari," tandas dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/avatars/7029/original/030573100_1470971148-Septian_Denny_kecil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2352436/original/003713200_1536217550-20180906-Kedelai-Naik-6.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar