26 Sep 2018, 15:15 WIB
Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian, Darmin Nasution saat Peluncuran Buku Kebijakan Vokasi
Indonesia, Jakarta, Kamis (21/12/2017). (Fiki/Liputan6.com)
Liputan6.com, Jakarta
- Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution ingin Badan Pusat Statisik (BPS) dapat menyajikan data harga beras berdasarkan
jenis. Ke depan, masyarakat memperoleh informasi jelas mengenai harga beras
medium dan premium.
"Sebenarnya
pemerintah inginnya ini (survei harga beras) medium atau premium. Kalau begitu,
buat kita lebih bunyi (jelas hasil surveinya)," ujar Menko Darmin di
Kantor BPS, Jakarta, Rabu (26/9/2018).
Darmin
mengatakan, selama ini survei BPS di 80 kota Indonesia hanya berdasarkan pada
satu merek beras saja, bukan pada jenis.
Hal
ini tentu menimbulkan persepsi berbeda, sebab beras dengan merek yang sama bisa
saja memiliki harga jual yang berbeda di setiap daerah.
"Lebih
gawat lagi merek yang sama kotanya lain harganya lain. Ada juga mereknya
kelihatan sama tapi dibedakan sedikit yang punya tapi intinya adalah kita
melihat harga beras itu karena sangat ditentukan oleh mereknya. Saya tahu
kenapa mereknya yang dipilih BPS karena sampelnya paling mudah," ujar dia.
Mantan
Direktur Jenderal Pajak tersebut menambahkan, dengan menyediakan data harga beras sesuai
jenis, masyarakat juga akan memperoleh informasi kualitas beras. Dia meminta
hal ini dapat bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan.
"Satu
kualitas medium atau premium. Kedua tingkat pecahnya berapa persen. Bisa 15
atau 20 persen. Di masyarakat kita kalau harga beras sedang naik yang terjadi
adalah kualitas itu tidak dijaga dengan baik. Berasnya jelek berasnya tidak
terlalu bagus tingkat pecahnya 20 persen itu diatas standar," ujar dia.
Reporter:
Anggun P.Situmorang
Sumber: Merdeka
Menko Darmin Sentil BPS karena Tak Sediakan
Lagi Data Beras
Menko Perekonomian
Darmin Nasution saat memberikan paparan dalam pembukaan seminar Komite Ekonomi
dan Industri Nasional (KEIN) di Jakarta, Rabu (17/1). Seminar tersebut
bertemakan "Mengelolah potensi Ekonomi 2018". (Liputan6.com/Faizal
Fanani)
Sebelumnya, Menteri
Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menghadiri peringatan hari
statistik nasional di Kantor Pusat Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta, pada
Rabu ini. Dalam kesempatan tersebut, Darmin sempat menyinggung BPS yang tak
memiliki data stok beras sejak 2015.
"Saya
lihat data statistik, ada cabai, bawang itu datanya terakhir 2017. Lihat lagi,
ada jagung, singkong, datanya terakhir 2015, beras ternyata juga 2015. Jadi
kelihatannya BPS tidak melanjutkan publikasi data pangan dan bahan makanan
setelah 2015," ujar Darmin, Rabu 26 September 2018.
Data
ketersediaan beras sangat dibutuhkan untuk dijadikan acuan dalam pengambilan
keputusan. Untuk itu, dia berharap lembaga tersebut segera menyelesaikan
penghimpunan data beras agar tak lagi menjadi polemik.
"Mudah-mudahan
dalam waktu dekat ada yang diperbaharui dan diterbitkan, supaya kita harus ada
yang menerbitkan data, meski tidak terlibat langsung dengan persoalan
itu," jelasnya.
Mendapat
permintaan Menko Darmin, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan pihaknya akan
segera menyelesaikan data beras. Dia menargetkan sebelum akhir tahun data sudah
dipublikasikan. "Targetnya, akhir tahun ini," ucapnya singkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar