10 Agu 2018, 06:15 WIB
Liputan6.com, New York
- Harga minyak mentah
dunia turun, memperpanjang kerugian pada sesi sebelumnya seiring meningkatnya
ketegangan perdagangan antara China-Amerika Serikat (AS). Sengketa perdagangan
melemparkan keraguan terkait prospek permintaan minyak dunia.
Melansir
laman Reuters, Jumat (10/8/2018), harga minyak mentah
berjangka Brent turun 21 sen menjadi USD 72,07 per bare
Sementara
minyak mentah AS turun 13 sen menjadi USD 66,81 per barel.
Harga
kedua patokan minyak dunia tersebut turun lebih dari 3 persen pada hari Rabu
setelah data AS menunjukkan penarikan perseriaan mingguan minyak lebih kecil
dari perkiraan. Dan adanya pasokan bensin 2,9 juta barel.
"Adanya
pasokan bensin itu, meskipun permintaan kuat telah membebani pasar," kata
John Kilduff, Rekanan Again Capital Management di New York.
Harga
minyak di pasar, sempat terus naik dipicu kekhawatiran soal kondisi pasokan.
Namun kekhawatiran tersebut kini surut. "Kini pasokan dipandang cukup
untuk memenuhi gambaran permintaan yang cukup kuat," dia menambahkan.
Pasar
juga telah terbebani oleh kekhawatiran bahwa sengketa perdagangan akan
mengekang permintaan. Sebagai pembalasan terhadap Washington, China akan
memberlakukan tarif 25 persen pada impor senilai USD 16 miliar.
Produk
yang terkena mulai dari bahan bakar dan produk baja hingga mobil dan peralatan
medis.
Perang
dagang antara kedua negara telah mengguncang pasar global. Investor takut
perlambatan di dua ekonomi terbesar dunia akan memangkas permintaan untuk
komoditas.
Pedagang
minyak juga khawatir tentang permintaan China. Impor mentah meningkat pada
bulan Juli setelah dua bulan menurun, tetapi ini masih termasuk yang terendah
pada tahun ini karena penurunan permintaan dari kilang-kilang independen yang
lebih kecil.
Irak
memangkas harga penjualan resmi untuk kargo minyak mentah September bagi
pelanggan Asia.
Harga Minyak Turun 3 Persen Imbas Permintaan
China Melambat
Ilustrasi Harga Minyak
Harga minyak melemah
sekitar tiga persen didorong ketegangan perselisihan perdagangan antara Amerika
Serikat (AS) dan China. Selain itu, rilis data impor China menunjukkan
permintaan energi melambat.
Harga
minyak Brent melemah USD 2,37 atau sekitar 3,17 persen ke posisi USD 72,28 per
barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) susut USD 2,23 atau 3,22
persen ke posisi USD 66,94 per barel. Harga minyak WTI sempat sentuh level
terendah ke posisi USD 66,32 sejak 22 Juni.
China
pun mengenakan tarif tambahan 25 persen untuk barang impor AS senilai USD 16
miliar. Barang tersebut mulai dari bahan bakar, produk baja, mobil hingga
peralatan medis.
Perang
dagang yang meningkat telah mengguncang pasar global. Investor khawatir potensi
perlambatan dari ekonomi China dan AS akan memangkas permintaan komoditas.
“Perang
dagang AS-China akan memburuk, dan dampaknya terhadap harga minyak akan ikuti
perkembangan situasi. Minyak mentah dan produk olahan akan dipengaruhi tugas
tambah sehingga kurang daya saing di pasar China,” ujar Abhishek Kumar, Analis
Interfax Energy seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis
(9/8/2018).
Impor
minyak mentah China sedikit pulih
pada Juli usai penurunan dua bulan berturut-turu. Akan tetapi, impor tetap
rendah karena penurunan permintaan dari kilang independen yang lebih kecil.
Pengiriman
ke importir terbesar minyak mentah dunia naik menjadi 8,48 juta barel per hari
dari periode tahun lalu 8,18 juta barel per hari. Namun lebih rendah dari Juni
sebesar 8,6 juta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar