15 Agu 2018, 15:12 WIB
Aktivitas bongkar muat
peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor
dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS
(month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Liputan6.com, Jakarta
- Badan Pusat
Statistik (BPS)
mencatat impor Juli 2018 sebesar USD 18,27 miliar, naik 62,17 persen
apabila dibandingkan dengan impor pada Juni 2018. Impor ini merupakan terbesar sejak Januari 2008.
"Impor
Juli 2018 terbesar sejak Januari 2008," ujar Kepala Sub Direktorat
Impor BPS, Rina Dwi Sulastri, Jakarta di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/8/2018).
Menurut
data BPS, impor nonmigas selama Juli 2018 mencapai USD 15,66 miliar atau naik
71,54 persen dibanding Juni. Sementara impor migas pada Juli sebesar USD 2,61
miliar.
Naiknya
impor migas selama Juli 2018 disebabkan oleh meningkatnya impor melalui
beberapa negara. Di antaranya Tiongkok sekitar 93,44 persen, Jepang 75,79
persen dan Amerika Serikat 67 persen.
Dirinci
menurut golongan penggunaan barang ekonomi, selama Juli 2018 golongan bahan
baku atau penolong memberikan peranan terbesar yaitu 74,84 persen. Kemudian
disusul oleh impor barang modal 15,75 persen dan barang konsumsi sebesar 9,41
persen.
Dibandingkan
tahun sebelumnya pada periode yang sama, nilai impor konsumsi, bahan baku penolong dan barang modal
masing-masing meningkat sebesar 27,03 persen, 22,99 persen dan 30,44
persen.
Neraca Perdagangan Juli 2018 Defisit USD 2,03
Miliar
Aktivitas bongkar muat
peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Ekspor April
sebesar 14,47 miliar dolar AS lebih rendah ketimbang Maret 2018 yang mencapai
15,59 miliar dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sebelumnya, Badan
Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Juli 2018
mengalami defisit sebesar USD 2,03 miliar.
Sebelumnya neraca
perdagangan mengalami surplus sebesar USD 1,74 miliar pada Juni 2018.
"Neraca
perdagangan kita pada Juli 2018 defisit USD 2,03 miliar. Jadi tahun ini,
Januari defisit, Februari defisit, Maret surplus, April defisit, Mei defisit,
Juni surplus, dan Juli kembali defisit," kata Kepala BPS, Suhariyanto, di
Kantornya, Rabu 15 Agustus 2018.
Sementara
itu, BPS mencatat posisi ekspor Indonesia pada Juli 2018 sebesar USD 16,24
miliar atau naik 25,19 persen dibanding Juni 2018. Ekspor ini disumbang oleh
sektor migas sebesar USD 1,43 miliar dan nonmigas USD 14,81 miliar.
"Nilai
ekspor per sektor disumbang oleh migas menyumbang ekspor USD 1,43 miliar,
pertanian USD 0,3 miliar, industri pertanian USD 11,79 miliar dan pertambangan
serta sektor lainnya menyumbang USD 2,72 miliar," ujar dia.
Dari
sisi impor tercatat sebesar USD 18,27 miliar atau naik 62,17 persen
dibandingkan dengan Juni 2018. Migas menyumbang USD 2,61 miliar dan nonmigas
menyumbang impor UDD 15,66 persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar