17 Agu 2018, 06:41 WIB
Ilustrasi Harga Minyak
Naik (Liputan6.com/Sangaji)
Liputan6.com, New York
- Harga minyak mentah dunia sedikit
naik dipicu kestabilan pasar global. Harga pulih dari penurunan
sebesar 2 persen pada hari sebelumnya. Ini meskipun prospek melemahnya
permintaan minyak mentah masih menbayangi harga.
Melansir
laman Reuters, Jumat (17/8/2018), harga minyak mentah berjangka
Brent menetap 67 sen lebih tinggi ke posisi USD 71,43 per barel.
Sementara minyak mentah berjangka AS naik 45 sen menjadi USD 65,46 per barel.
Sebelumnya,
minyak mentah AS berada pada posisi gerak rata-rata 200 hari di USD
65,18 per barel.
Pasar
minyak sempat tergelincir pada hari Rabu karena data yang menunjukkan
adanya pasokan besar di AS memberi perhatian tentang prospek permintaan
bahan bakar. Sementara minyak mentah juga tertekan oleh penjualan komoditas
industri seperti tembaga.
"Masih
ada overhang dari laporan kemarin," kata John Kilduff,
Rekanan Again Capital Management di New York.
Cina
dan Amerika Serikat telah menerapkan beberapa kebijakan tarif dan mengancam
ekspor senilai ratusan miliar dolar, yang dapat berdampak ke pertumbuhan
ekonomi global.
Krisis
yang mencengkeram lira Turki turut mengguncang pasar negara berkembang
dan bergemuruh di seluruh ekuitas, obligasi dan bahan baku.
“Kisah
pertumbuhan sekarang kurang lebih adalah kisah pertumbuhan AS. Seluruh dunia
tidak lagi bermain,” kata ahli strategi komoditas Saxo Bank Ole Hansen.
"Ini
juga benar-benar mencerminkan bagaimana tema di pasar komoditas telah begitu
cepat berubah dari menjadi satu di mana kekhawatiran tentang pasokan, dengan
sanksi Iran untuk pemogokan minyak atau Chili (penambang) untuk tembaga, dan
sekarang fokusnya adalah pada permintaan," tambah dia.
Pasokan Minyak AS
Ilustrasi Harga Minyak
Naik (Liputan6.com/Sangaji)
Di sisi pasokan, data
AS pada hari Rabu menunjukkan output minyak mentah meningkat sebesar 100.000
barel per hari (bpd) menjadi 10,9 juta barel per hari dalam pekan yang berakhir
10 Agustus.
Persediaan
minyak mentah meningkat sebesar 6,8 juta barel, mewakili kenaikan mingguan
terbesar sejak Maret tahun lalu.
“Ketika
akhir musim mengemudi mendekat, pemrosesan minyak mentah kemungkinan telah
mencapai puncaknya dan akan menurun mulai sekarang. Oleh karena itu, impor
minyak mentah bersih perlu menurun tajam sehingga stok minyak mentah tidak naik
lebih jauh,” mengutip penjelasan Commerzbank dalam sebuah catatan.
Sementara
untuk permintaan minyak di Asia menunjukkan tanda-tanda perlambatan karena
sengketa perdagangan dan dolar yang lebih kuat menyeret ekonomi beberapa
pembeli minyak terbesar dunia.
Hal
yang memberikan dukungan untuk minyak mentah Brent adalah sanksi AS terhadap
ekspor minyak Iran, yang ditetapkan mulai November. Pelanggan terbesar Iran,
seperti India, Korea Selatan dan Jepang, sudah menarik kembali pesanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar