PEKANBARU - Pemprov Riau minta Bank Indonesia (BI)
sebaiknya menggunakan data perkiraan saja untuk mengambil langkah
kebijakan, terhadap penyelesaian masalah ketersediaan kebutuhan pokok
masyarakat di Riau.
Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Ahmad Hijazi mengatakan jika
membutuhkan data akurat dari hasil survei terlalu jelimat dan butuh
waktu lama. Menurut dia data perkiraan saja sudah cukup bagi BI untuk
melakukan upaya dalam menyelesaikan masalah kebutuhan pokok di Riau.
"Kalau harus pakai data hasil survei pula itu terlalu jelimat, rumit
dan butuh waktu lama," katanya, Selasa 3 Maret 2018 di Pekanbaru.
Dia menambahkan, untuk mengetahui berapa kebutuhan sembako di Riau
pada dasarnya bisa dihitung per komoditi saja. Misal berapa kebutuhan
beras untuk dikonsumsi per orang.
"Anggaplah misalnya 12 kilo gram per jiwa, kalau di wilayah perkotaan
berkisar pada angka 10 kilo gram per jiwanya. Tinggal hitung saja kan.
Kalau meleset paling sedikit. Dulu waktu menjadi Kepala Dinas
Perdagangan di Kepri saya pernah melakukan hal seperti ini dan hasilnya
mendekati kebenaran," sambungnya.
Hijazi menegaskan, untuk masalah data pada prinsipnya tidak perlu
dipersoalkan meskipun dalam mengambil suatu kebijakan memang dibutuhkan
data lengkap. Namun menurutnya, karena masalah kebutuhan pokok
masyarakat adalah kebutuhan mendesak. Maka sebaiknya upaya nyata harus
segera dilaksanakan.
"Sembako itu kan suplainya bisa dimonitor. Itu hanya beras kan.
Termasuk juga cabai dan komoditi kebutuhan pokok masyarakat lainnya,"
ujarnya. (bpc3)
Sumber : Bertuahpos.com, 3 April 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar