Merdeka.com - Pemerintah terus berkomitmen untuk
memenuhi segala kebutuhan dalam negeri, baik untuk menunjang
kesejahteraan maupun untuk meningkatkan perekonomian dalam negeri. Salah
satu cara yang dilakukan adalah melalui impor.
Sayangnya, beberapa komoditi yang diimpor sebenarnya bisa dihasilkan
di dalam negeri. Namun, rendahnya kualitas hingga terbatasnya pasokan
membuat pemerintah maupun industri memilih untuk impor agar kebutuhan
terpenuhi.
Tak ayal, kebijakan impor kerap menuai kritikan dari berbagai pihak,
yang menginginkan agar pemerintah bisa lebih fokus untuk memajukan
industri dalam negeri dibanding impor. Dikhawatirkan, impor akan
mematikan produk dalam negeri.
Berikut 4 komoditi yang bisa dihasilkan di Indonesia, namun tetap diimpor oleh pemerintah.
1. Beras
Merdeka.com - Masih hangat diingatan mengenai impor
beras yang dilakukan Kementerian Perdagangan RI pada Januari lalu.
Pemerintah secara resmi menerbitkan izin importasi beras sebanyak
500.000 ton yang diberikan kepada Perum Bulog untuk menurunkan harga
komoditas tersebut yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami
kenaikan.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan,
Oke Nurwan mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan izin importasi
tersebut dan berlaku hingga 28 Februari 2018.
Importasi beras tersebut bisa masuk dalam kategori beras untuk
kepentingan umum dan kepentingan lain. Importasi tersebut direncanakan
berasal dari Vietnam dan Thailand.
Pemerintah menyatakan bahwa importasi sebesar 500.000 ton tersebut
tidak akan mengganggu petani lokal. Beras impor tersebut nantinya akan
memperkuat stok Perum Bulog, dan akan dipergunakan untuk melaksanakan
Operasi Pasar (OP) beras.
2. Garam
Merdeka.com - Pemerintah memutuskan untuk mengimpor garam industri sebanyak 3,7 juta ton demi memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Garam impor ini rencananya akan dimanfaatkan oleh industri yang bergerak petrokimia, kaca, lensa, hingga makanan dan minuman.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengakui Indonesia belum bisa memproduksi garam Industri. Oleh sebab itu dia berharap impor garam industri dibebaskan sepenuhnya seperti dulu.
"Sejauh ini garam industri kalau kita mau jujur ya belum bisa dipenuhi dalam negeri terutama untuk CAB. Menurut saya kembalikan ke yang dulu saja policynya, untuk impor garam industri bebaskan saja," kata Panggah di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jumat (19/1).
Meskipun Indonesia memiliki laut dan pantai yang luas, namun tidak berarti Indonesia mampu memproduksi garam dalam jumlah besar. Karena ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi produksi garam. Dia menyebut saat ini kebutuhan terhadap garam industri sekitar 2 juta ton.
"Soal garam itu bisa dikaji apa betul kita bisa swasembada garam? karena memang lautnya luas, pantainya luas. Tapi garam ini memerlukan persyaratan tidak hanya pantai, tapi juga curah hujan bagaimana, humidity itu kekeringan negara ini bagaimana. Kemudian Luasan. Macam-macam faktor ini tidak harus kita semuanya," jelasnya.
Panggah meminta agar pemerintah lebih fokus kepada potensi-potensi yang dimiliki Indonesia, daripada fokus untuk swasembada garam.
3. Baja
Merdeka.com - Produksi baja dalam negeri saat ini
dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun faktanya, para
kontraktor maupun distributor masih banyak mengimpor material tersebut.
Sekjen Asosiasi Pabrikator Jembatan Baja Indonesia (APJBI), Andi
Syukri mengatakan impor baja yang selama ini dilakukan lantaran harga di
luar negeri lebih murah. Meskipun secara kualitas baja Indonesia tidak
kalah bagus dengan negara lain.
"Sebenarnya pasar ini kan bermacam-macam tidak hanya kontraktor saja,
kebutuhannya macam-macam ya. Tentunya kontraktor juga inginnya yang
murah dan itu ditangkap oleh para importir dan para distributor," kata
Andi pada Diskusi Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia, Jakarta, Jumat (26/1).
Sementara itu, Customer Relation PT Gunung Garuda, Kodrat Satriawan
mengeluhkan derasnya impor baja yang selama ini terjadi. Sebab hal ini
tentu sangat merugikan produsen baja tanah air.
"Kebutuhan akan material jembatan baja sudah bisa kami penuhi dan kami produksi," jelasnya.
Dia menambahkan, semakin banyak proyek jembatan makin banyak material
yang diserap untuk membuat suatu unit jembatan. Maka Kodrat memastikan
bahwa para produsen baja Indonesia mampu memenuhi kebutuhan material
tersebut.
4. Alumunium
Merdeka.com - General Manager SDM & Umum Inalum,
Moh. Rozak Hudioro mengatakan saat ini perusahaan masih mengimpor
alumina dari Australia dan India, yang merupakan bahan baku dari
pembuatan alumunium. Padahal, Indonesia merupakan salah satu penghasil
bauksit terbesar, di mana bauksit adalah bahan baku dari pembuatan
alumina.
Dengan demikian, terbentuknya pabrik pengolahan (smelter) bijih
bauksit menjadi alumina (Grade Alumina Refinery/SGAR) di Mempawah,
Kalimantan Barat (Kalbar) akan menghemat biaya produksi. Ditargetkan
pada 2021 perusahaan tidak akan lagi mengimpor alumina.
"Untuk memutuskan rantai ketergantungan itu bagaimana kalau bauksit
yang ada di Kalimantan Barat itu kita olah sendiri dan bekerjasama
dengan Antam. Dengan teknologi China. Nanti harapannya, kami tidak
membeli Alumina dari Australia lagi, tapi dihasilkan dari dalam negeri,"
kata Rozak di Medan, Sumatera Utara, Rabu (6/12).
Dia menambahkan, Inalum mengimpor alumina sebanyak 500.000 ton per
tahun dengan harga alumina sebesar USD 400 per ton, yang berarti dalam
satu tahun Inalum mengeluarkan anggaran sekitar USD 20.000 untuk
kebutuhan alumina. Sehingga dengan dibangunnya smelter maka perusahaan
bisa melakukan penghematan dan efisiensi.
"Paling tidak secara ini kita tidak akan mengeluarkan valuta asing.
Kedua itu ketahanan nasional lebih kuat. karena bukan punya orang.
Menghemat 100 persen," imbuhnya.
Tercatat, kebutuhan alumunium dalam negeri di 2016 mencapai sekitar
800.000 ton, sementara kemampuan Inalum baru sebesar 260.000 ton. Maka
ke depannya, Inalum akan memperbesar produksi untuk memenuhi kebutuhan
nasional.
Sumber : Merdeka.com, 12 Februari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar