[NEWS] Hasil Panen Padi di Bungaraya Berkurang Gara-gara Serangan OPT

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Hasil panen padi di kampung Bungaraya, kabupaten Siak berkurang gara-gara serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Hasil panen petani setempat pada minggu lalu hanya 7 ton per hektarnya.
PPL Kampung Bungaraya Nasir Rosidi melaporkan, produktifitas padi di tingkat petani masa tanam gadu, April-September 2017 secara umum turun. Rata-rata 5,1 sampai 7,8 ton perhektarnya.
"Penyebab turunnya produksi padi akibat serangan OPT terutama Wereng dan Neck Blas", kata dia, Jumat (11/8/2017).
Selain itu, kata dia, kurangnya air saat masa generatif padi. Sehingga musim tanam Gadu pada umumnya mengalami penurunan produksi.
Untuk meminimalisasi hal tersebut, pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya. Seperti mengajak petani memahami konsep pengendalian hama terpadu mulai dari pratanam (Gropyokan Tikus), Pengamatan Agro Ekosistem, Pemanfaatan Musuh Alami, dan pengendalian OPT secara massal.
"Kami sarankan agar petani melakukan pergiliran varietas padi atau varietas unggul yang yahan wereng atau blas. Kemudian melakukan pengamatan agro ekosistem secara berkala," kata dia. (*)


Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Mayonal Putra
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Hasil panen padi di kampung Bungaraya, kabupaten Siak berkurang gara-gara serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Hasil panen petani setempat pada minggu lalu hanya 7 ton per hektarnya.
PPL Kampung Bungaraya Nasir Rosidi melaporkan, produktifitas padi di tingkat petani masa tanam gadu, April-September 2017 secara umum turun. Rata-rata 5,1 sampai 7,8 ton perhektarnya.
"Penyebab turunnya produksi padi akibat serangan OPT terutama Wereng dan Neck Blas", kata dia, Jumat (11/8/2017).
Selain itu, kata dia, kurangnya air saat masa generatif padi. Sehingga musim tanam Gadu pada umumnya mengalami penurunan produksi.
Untuk meminimalisasi hal tersebut, pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya. Seperti mengajak petani memahami konsep pengendalian hama terpadu mulai dari pratanam (Gropyokan Tikus), Pengamatan Agro Ekosistem, Pemanfaatan Musuh Alami, dan pengendalian OPT secara massal.
"Kami sarankan agar petani melakukan pergiliran varietas padi atau varietas unggul yang yahan wereng atau blas. Kemudian melakukan pengamatan agro ekosistem secara berkala," kata dia. (*)

Sumber : Pekanbaru.tribunnews.com

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar