Kenaikan Upah Buruh Belum Maksimal

RIAUPOS.CO - Melemahnya konsumsi masyarakat bisa menghambat akselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan. Masalah struktural seperti kenaikan upah buruh belum maksimal.  Tahun lalu konsumsi rumah tangga tumbuh di bawah 5 persen, tepatnya 4,95 persen secara year-on-year (yoy). Angka tersebut melambat dari capaian tahun 2016 yang sebesar 5,01 persen.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan, ada masalah struktural di daerah yang membuat ekonomi dan konsumsi tumbuh kurang cepat. Misalnya, penjualan ritel yang menurun, padahal kontribusinya pada konsumsi rumah tangga mencapai 60 persen.

Sementara itu, dari sisi upah ril buruh, jumlahnya secara total memang mengalami kenaikan sekitar 5,16 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, kenaikan tersebut belum cukup mengompensasi penurunan upah riil dari 2014 hingga 2016 yang melambat 10,4 persen.  

Selain itu, nilai tukar petani (NTP) sebesar 102,92 masih tercatat tumbuh negatif jika dikurangi inflasi 3,25 persen. ”Jadi, kalau dilihat dari NTP riilnya, petani itu menombok pada dasarnya. Itu terjadi pada petani di subsektor perkebunan, peternakan, perikanan, dan hortikultura,” ujar Lana saat diskusi bersama wartawan akhir pekan lalu.

Hal itu, ujar dia, cukup mengkhawatirkan karena 30 persen dari tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian. Mayoritas pekerja di sektor tersebut berada di luar Pulau Jawa. Hal itu ditambah dengan dominasi pembiayaan yang kurang merata untuk sektor pertanian, khususnya di luar Jawa.

Mayoritas bank masih mengejar pembiayaan korporasi, baik melalui kredit maupun pembelian obligasi korporasi. Padahal, daerah perlu dukungan pembiayaan untuk mendorong sektor unggulannya agar daya beli masyarakat meningkat.

”Dengan pendapatan yang tetap, sementara konsumsi BBM meningkat, masyarakat akan mengurangi konsumsi barang lainnya. Salah satunya barang-barang perlengkapan rumah tangga dan alat komunikasi,” lanjut Lana.  

Lana memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,08–5,15 persen. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memprediksi ekonomi tumbuh 5,1–5,5 persen. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan, daerah harus meningkatkan ekspor nonkomoditas untuk meningkatkan pendapatan usaha dan upah riil buruh. Salah satunya adalah memacu pertumbuhan dari industri manufaktur.(rin/sof/das)
Sumber :Riaupos.co, 26 Februari 2018
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar