SAKINA
RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com -
05/02/2018, 13:03 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto
bersama jajaran menyampaikan rilis data ekspor-impor, perkembangan upah buruh,
dan nilai tukar eceran rupiah di kantor pusat BPS, Senin (15/1/2018). (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA )
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan,
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 mencapai 5,07 persen.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2016 yang tercatat sebesar 5,03
persen.
Apabila
diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB),
perekonomian Indonesia tahun 2017 mencapai 13.588,8 triliun. Adapun PDB per
kapita Indonesia mencapai Rp 51,89 juta atau 3.876,8 dollar AS.
Kepala
BPS Suhariyanto menuturkan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi
Indonesia tahun 2017 didukung pertumbuhan pada seluruh komponen, yakni Komponen
Pengeluaran Rumah Tangga, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang
Melayani Rumah Tangga (LNPRT), Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, Pembentukan
Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, serta Ekspor Barang dan Jasa.
"Komponen
Impor Barang dan Jasa meskipun mengalami peningkatan, merupakan faktor
pengurang," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin
(5/2/2018).
Data
BPS menyebut, bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan, maka komponen
konsumsi rumah tangga merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi
Indonesia tahun 2017, yakni sebesar 2,69 persen. Kemudian diikuti oleh komponen
PMTB sebesar 1,98 persen.
"Struktur
perekonomian Indonesia tahun 2017 menurut pengeluaran didominasi oleh komponen
pengeluaran konsumsi rumah tangga, yakni 56,13 persen," ujar
Suhariyanto.
Kemudian,
diikuti oleh komponen PMTB atau investasi sebesar 32,16 persen dan komponen
ekspor barang dan jasa sebesar 20,37 persen. Disimpulkan, perekonomian
Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.
Suhariyanto
menjelaskan, seluruh komponen konsumsi rumah tangga tumbuh, terutama pada
komponen konsumsi kesehatan dan pendidikan. Ia mengungkapkan, diharapkan
konsumsi rumah tangga dapat terus dalam kondisi yang baik, mengingat besarnya
kontribusinya terhadap perekonomian.
"Syaratnya
daya beli harus terjaga. Tingkat inflasinya harus terkendali," jelas
Suhariyanto.
Meski
demikian, BPS juga menemukan adanya peningkatan persentase pendapatan yang
ditabung, khusunya oleh masyarakat menengah ke atas. Dengan demikian, diketahui
bahwa kelas menengah ke atas menahan belanjanya.
Menurut
Suhariyanto, ada dua kemungkinan penyebab ini terjadi, yakni masyarakat
menengah ke atas telah lebih mengedepankan investasi atau menahan karena
kondisi politik jelang pesta demokrasi.
"Untuk
menaikkan daya beli syaratnya ada dua, kondisi ekonomi, politik, dan keamanan
harus stabil. Inflasinya juga harus terkendali," terang Suhariyanto.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar