Rabu, 17 Januari 2018 13:26Reporter : Desi Aditia Ningrum
perumahan. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro
Merdeka.com - Tahun 2018 dikenal sebagai tahun politik, di mana ada 171 daerah berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah. Berbagai kalangan khawatir tahun politik ini memengaruhi perekonomian di Indonesia, salah satunya industri properti.
Terlebih lagi, Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) menyebutkan, pertumbuhan penjualan rumah di kuartal III-2017 turun dari 3,61 persen menjadi 2,58 persen.
Direktur Neraca Pengeluaran Badan Pusat Statistik (BPS) Puji Agus Kurniawan mengatakan, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan bisnis properti di tahun 2018, di antaranya tingkat suku bunga acuan atau BI 7 days rate. Di mana ketika Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga maka diharapkan akan memengaruhi bisnis properti di 2018.
"Dengan suku bunga relatif rendah, daya beli masyarakat bisa lebih tinggi ini yang diharapkan bisa pengaruhi bisnis properti," ujar Puji di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (17/1).
Selain itu, penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 260 juta juga berpotensi membeli rumah cukup tinggi. Apalagi generasi milenial saat ini lebih mengutamakan mempunyai rumah untuk masa depan.
"Tahun 2017 penduduk kita itu diperkirakan 260 juta dan 15 persennya di kelompok 25-34 tahun jadi cukup besar. Dan kalau kita gabungkan lagi dengan umur 20-39 tahun maka ini, saya menduga di kisaran usia ini minat untuk memiliki rumah itu cukup tinggi," jelasnya.
Dia menuturkan, di 2018 juga pemerintah masih memprioritaskan program pembangunan rumah sehingga bisnis properti tak akan terpengaruh di tahun politik karena masih banyak peminat.
"Kebijakan pemerintah menjadikan pembangunan perumahan itu sebagai prioritas pembangunan di 2018. Dengan melihat perkembangan data terakhir, tahun ini tahun politik itu tidak terlalu banyak mempengaruhi variabel-variabel makro sehingga perekonomian kita masih tetap terjaga," tandasnya. [azz]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar