[NEWS] Melirik Potensi Perikanan & Kelautan Provinsi Riau

PEKANBARU – Provinsi Riau memiliki nama harum dalam potensi perikanan & kelautan di Indonesia. Sejak dahulu kala, Kota Bagansiapiapi di Kabupaten Rokan Hilir telah tercatat sebagai salah satu kawasan penghasil ikan nomor wahid di Nusantara. Berada di bagian pesisir Sumatera, Samudera Hindia menawarkan ragam potensi, khususnya ikan dan hasil laut lainnya.

“Sebagian besar wilayah kita yang terdiri dari lautan berpotensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar gubernur yang akrab disapa Andi Rachman ini.

Tidak hanya Bagansiapiapi yang telah memiliki nama melegenda, Provinsi Riau bahkan mempunyai potensi besar perikanan, baik perikanan air tawar, laut maupun payau yang tersebar di banyak kabupaten/kota.

Keragaman kondisi geografis menjadi faktor pendukung yang baik untuk mengembangkan potensi tersebut. Riau terbentang seluas 89.150 kilometer yang didominasi daratan dan perairan, mulai dari lereng Bukit Barisan hingga ke Selat Malaka antara 01° 05’ 00” Lintang Selatan – 02° 25’ 00” Lintang Utara atau antara 100° 00’ 00” – 105° 05’ 00” Bujur Timur. Tak diragukan lagi, berbagai spesies ikan konsumsi berada di kawasan ini dengan nilai ekonomi menjanjikan.

Pada dasarnya, potensi perikanan dan kelautan Provinsi Riau lebih besar lagi. Sebagaimana diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 Pasal 27 Ayat 3 yang memberikan kewenangan daerah provinsi diatur paling jauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke laut lepas. Tentu dengan demikian, melalui pengelolaan yang baik, masa depan sektor perikanan & kelautan daerah ini sangatlah cemerlang.

Meski potensi laut Riau sangat besar, potensi 15 sungai yang mengalir di kawasan ini juga mesti dilirik. Setidaknya ada 4 sungai besar seperti Sungai Siak sepanjang 300 kilometer dengan kedalaman 8-12 meter, Sungai Kampar sepanjang 400 kilometer dengan kedalaman sekitar 6 meter, Sungai Indragiri sepanjang 500 kilometer dengan kedalaman 6-8 meter dan Sungai Rokan sepanjang 400 kilometer dengan kedalaman 6-8 meter. Sudah dipastikan, badan sungai yang melintasi sejumlah kabupaten/kota tersebut sangat menjanjikan untuk pembudidayaan ikan air tawar.

Saat ini beberapa daerah sudah sangat aktif dalam mengelola hasil perikanan. Untuk perikanan laut, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Indragiri Hilir dan Bengkalis merupakan jawarannya. Sedangkan perikanan air tawar berpusat di Kabaupaten Kampar, Pelalawan, Rokan Hulu dan Kuantan Singingi.

Berapa potensi perikanan Riau sesungguhnya? Data statistik Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau mencatat, laut di Riau memiliki potensi yang cukup besar, sekitar 132.000 ton dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, perikanan kolam juga mencatatkan angka yang cukup besar, sekitar 14.000 ton. Namun besarnya potensi tersebut baru mampu dimanfaatkan sebesar 10% saja. 

Untuk itu, diperlukan upaya maksimal dalam mengelola 90% potensi lainnya yang belum tersentuh.
Andi Rachman sempat menegaskan agar setiap data potensi tersebut bisa dimutakhirkan.

“Dinas Perikanan & Kelautan sebagai leading sector harus mampu menyajikan data-data potensi perikanan secara akurat dan menyeluruh,” tegas Gubri.

Pengembangan sektor perikanan akan bermuara kepada kesejahteraan masyarakat, khususnya mereka yang berada pada sektor ini. Selain itu, lanjut Andi Rachman, perikanan sanggup menunjang pembangunan Provinsi Riau jika dapat dikelola lebih baik. Pengembangan sektor ini diupayakan pada peningkatan sarana dan prasarana perikanan sehingga jumlah tangkapan dan nilai jual ikan semakin meningkat.

Pengembangan ini pula tak lepas dari perhatian Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia. Karenanya, Andi Rachman berharap agar pemerintah pusat memberikan perhatian khusus agar perikanan di Riau terus maju dan berkembang.

Kesejahteraan nelayan juga menjadi sorotan Pemerintah Provinsi Riau. Melalui Dinas Perikanan & Kelautan Provinsi Riau serta instansi terkait di kabupaten/kota, sejumlah bantuan dan pengembangan sarana maupun prasarana terus dilakukan.

Pembinaan nelayan, lanjut Tien Mastina merupakan program rutin yang dijalankan, diiringin dengan pemberian bantuan untuk nelayan tradisional, seperti pemberian jaring tangkap hingga perahu bermotor.

“Mereka itu terdaftar dan memiliki kartu identitas khusus sebagai nelayan. Dari sini mereka akan mendapatkan pembinaan,” imbuhnya. (adv/humas)
Sumber : Riauposting.com



Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar