SAKINA
RAKHMA DIAH SETIAWAN
Kompas.com - 19/01/2018, 05:30 WIB
Ilustrasi beras(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia ( BI) mewaspadai kenaikan
harga beras di pasar dapat menjadi pendorong inflasi indeks
harga konsumen (IHK) pada Januari 2018. Oleh karena itu, upaya pengendalian
inflasi diharapkan dapat segera dilakukan.
Asisten
Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo
mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi penggerak utama inflasi pada Januari
2018, yakni beras dan komoditas hortikultura.
"Dua
hal itu perlu diwaspadai. ( Inflasi) hingga minggu kedua secara year on year (yoy)
3,20 persen," ujar Dody di Kompleks Perkantoran BI, Kamis (18/1/2018).
Untuk
mengendalikan inflasi, khususnya dari komoditas beras, faktor ketersediaan
pasokan dan distribusi harus segera dioptimalkan. Sebab, beras sangat berdampak
pada inflasi lantaran merupakan bahan pangan pokok.
Terkait impor beras yang
dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu lalu, Dody menyatakan kebijakan
tersebut diharapkan mampu mengendalikan inflasi pada Januari 2018. Selain itu,
kebijakan ini juga diharapkan dapat menjaga ketersediaan beras.
"Kalau
dilihat dari sisi produksi, kemungkinan musim panen masih akan sama
dibamdingkan tahun lalu. Jadi kebijakan impor akan membantu menambah pasokan
demi menjaga inflasi," jelas Dody.
Bank
sentral sendiri menargetkan inflasi pada tahun 2018 akan berada pada kisaran
3,5 plus minus 1 persen. Dalam tiga tahun terakhir, inflasi terus berada pada
level yang rendah sesuai dengan target.
Inflasi
pada Desember 2017 tercatat sebesar 0,71 persen secara bulanan (mtm). Dengan
demikian, inflasi sepanjang tahun 2017 mencapai 3,61 persen secara tahunan
(yoy).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar