[NEWS] Ekonomi Riau Tumbuh Positif

Laporan DESSY MEDYA SEPTIANI  

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Riau sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di Sumatera dan Nasional. Dari 4,11 persen dan 5,03 persen pada triw II 2017 menjadi 4,43 persen dan 5,23 persen persen (yoy) pada triw III. Perekonomian Riau triw III 2017 tumbuh sebesar 2,85 persen (yoy). Angka itu meningkat dibandingkan triw II 2017 yang sebesar 2,83 persen.
    
Meski begitu angka pertumbuhan ekonomi di Riau masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi di Sumatera dan Nasional. Apabila pertumbuhan ekonomi tanpa migas Riau Triw III 2017 tercatat sebesar 4,61 persen (yoy) meningkat dibandingkan triw sebelumnya yang sebesar 4,37 persen (yoy). Peningkatan dari sisi penggunaan terutama didorong oleh konsumsi pemerintah dan net ekspor. Sementara itu dari sisi sektoral, meningkatnnya perekonomian Riau.

Kepala Bank Indonesia (BI) wilayah Riau, Siti Astiyah mengatakan, memasuki triw IV tahun 2017 indikasi perbaikan perekonomian masih cukup kuat. Kinerja perekonomian Riau pada saat ini diperkirakan masih ditopang permintaan domestik yang kuat.

" Perekonomian Riau pada triw IV diperkirakan 2,40 hingga 3,40 persen (yoy). Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan capaian triw III. Peningkatan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, pemerintah dan net ekspor. Disisi sektoral, sumber pertumbuhan ekonomi didorong oleh kinerja sektor pertanian dan perdagangan," ulas Siti.

Perekonomian Riau tanpa migas dan gas juga tercatat sebesar 4,61 persen (yoy), meningkat dibandingkan triw sebelumnya yang sebesar 4,37 persen. Meski begitu, BI masih meyakini ada beberapa faktor resiko yang membayangi perkembangan ekonomi Riau ke depan yang harus diantisipasi lebih lanjut. khususnya oleh pemerintah daerah.

" Kondisi ini terindikasi dari perbaikan ekonomi dunia dan harga komoditas yang relatif terbatas. Sehingga rantan terhadap kinerja ekspor," ucapnya.

Bank Indonesia menyarankan Riau melakukan diversifikasi atau penganekaragaman sumber pertumbuhan ekonomi agar tidak tegantung kepada minyak, gas dan kelapa sawit. Diversifikasi ini bukan untuk jangka pendek akan tetapi bagi ekonomi Riau di masa depan.

Dia merincikan penompang ekonomi daerah sebagian besar masih dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, sektor pertanian. perdagangan, pengolahan, hingga jasa konstruksi. Pemicu dari sisi eksternal yaitu membaiknya situasi perekonomian global. Salah satunya perbaikan di negara tujuan ekspor utama yakni Cina dan Eropa.

Indikator lainnya yakni pertumbuhan positif di angka indeks keyakinan konsumen, indeks keyakinan ekonomi, hingga indeks ekspektasi konsumen yang menunjukan peningkatan dibandingkan periode yang lalu.

"Ditambah sejumlah proyek strategi nasional di Riau seperti jalan tol Pekanbaru-Dumai, Pekanbaru- Padang, dan proyek jalur kereta api," katanya.

Meski demikian, ada juga risiko pengambat tumbuhnya ekonomi Riau tahun depan. Salah satunya paling utama yaitu penurunan produksi migas karena sumur minyak sudah berusia tua. Lalu adanya prediksi terjadinya badai La Nina yang bakal menurunkan produksi sektor pertanian dan perkebunan setempat. Selain itu, pakar ekonomi Universitas Riau Dahlan Tampubolon mengatakan memang kondisi ekonomi daerah tahun depan bakal terimbas dari perbaikan ekonomi global. " Harga komoditas ungulan seperti minyak mentah dan CPO di pasar global dipredisikan akan membaik. Imbasnya ke ekonomi Riau menjadi lebih positif," katanya.

Kondisi positif ini ditambah lagi dengan mengerjakan proyek nasional yang terus berjalan, yaitu proyek tol dan jalur kereta api. Tentu saja yang tidak dapat dilupakan adanya konsumsi rumah tangga sebagai penggerak utama ekonomi Riau. Pengeraknya tidak lain karena harga komoditas sawit yang terus naik dan masyarakat khususnya petani sawit meningkatkan belanja di tahun depan.

Dahlan Tampubolon juga menjelaskan posisi ekonomi Riau terbuka sehingga paling cepat terimbas oleh dunia karena letaknya yang berbatasan dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia.

" Ketika ekonomi dunia Indonesia membaik lewat meningkatmya harga komoditas maka Riau yang masih berbasis kepada sektor perkebunan ini akan mengalami imbas pertama kali. Demikian sebaliknya, sehingga diakuinya tahun ini pertumbuhan ekonomi, Riau masih dibawah nasional," ungkapnya.

Fokus di Sektor Parawisata
Sementara itu Gubenur Riau (Gubri) H Arsyadjuliandi Rachman menjelaskan dalam menopang pertumbuhan ekonomi Riau 2018 mendatang, Pemprov Riau serius menggarap sektor di luar migas dan perkebunan. Bahkan, kata Gubri, meningkatkan ekonomi karena memiliki potensi di berbagai sektor. Ia juga menyebutkan sektor yang belum tergarap yakni di sektor perikanan.

" Apabila kita memiliki pengalaman buruk tahun 2015 lalu. Di mana sektor unggulan Riau anjlok sehingga pertumbuhan ekonomi melambat, hanya 0,22 persen," bebernya. Agar  ekonomi Riau tidak terjadi perlambatan, kata Andi rachman (sapaan akrab Gubri), perlu konsolidasi berbagai pihak antara pemerintah dengan perusahaan - perusahaan mengemban sektor lain, yang sudah terbukti mampu memberikan pengaruh pada ekonomi Riau pada 2017, sehingga terus dikembangkan di tahun 2018.

Gubri sangat optimis dengan peluang yang ada, melimpahnya potensi wisata di Riau belum tergarap menjadi jaminan bakal tumbuh dan berkembangan sektor ini.

" Kami punya potensi empat sungai besar, pulau-pulau, ada banyak iven budaya. ini menjadi modal sangat besar. garis pantai yang baru digerap baru dua kilometer dari ribuan kilometer yang ada," uangkapnya,

Pihaknya juga mendorong pengembangan UMKM yang mampu menunjang sektor parawisata, seperti kuliner dan lainnya. Harapan roda ekonomi di masyarakat bisa berjalan.

2.500 Investor selama 2017
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Riau, Emon Sulaiman juga menyebutkan pertumbuhan ekonomi Riau tahun 2018 di prediksi tumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi tumbuh positif memberikan dampak terhadap pengerakan pasar modal yang juga kan meningkat dari tahun sebelumnya. Ia juga menguraikan prediksi tersebut dilihat jumlah peningkatan j investor di Riau, terhitung November 2017 sudah mencapai angka 2.000 investor.

" Juga dengan banyaknya di gelar iven-iven nasional bisa memberikan pengaruh, apalagi tahun 2018 ini menjadi tahun politik bagi masyarakat Riau. Dengan adanya pemilihan gubenur nantinya, sehingga di tahun 2018 nanti menjadi tahun pembuktian terhadap kinerja yang dilakukan pada tahun sebelumnya," ungkapnnya.

Perputaran Uang dan Daya Beli Tidak Berbanding.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Riau Wijatmoko Rahtrisno menyebutkan, pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat dan pertumbuhannya tidak sinigfikan di pengujung tahun 2017. Dikatakan Wijatmoko, melambatnya pertumbuhan ekonomi di Riau dikarenakan pembangunan yang dilakukan perusahaan besar, pemerintah dan swasta tidak memberikan multiplier effect bagi masyarakat.

Sehingga perputaran uang di masyarakat tidak diiringi oleh kegiatan yang dilakukan oleh pihak swasta, dan berdampak terhadap daya beli masyarakat juga munurun,' katanya.

Padahal, katanya, setiap tahun, kurang lebih sekitar dua juta angkatan kerja yang masuk ke bursa kerja. Jika memiliki data investasi dari badan koordinasi penanaman modal atau BKPMbahwa tren pertumbuhan investasi terus miningkat, akan tetapi rasio penerimaan tenaga kerjanya semakin mengecil.

Diakui Wijatmoko, tren penurunan daya beli masyarakat yang saat ini terjadi, karena adanya tren penurunan angka serapan tenaga kerja formal dan perubahan prilaku konsumen dari sebelumnya berbelanja secara konvensoinal berubah ke belanja online.

Pemerintah diharapkan harus mengaktifkan dana desa karena bumdes selaku pemegang dana desa sehingga berputar uang bisa berjalan dan memiliki daya beli. selain itu pembangunan yang merata juga harus dilakukan.

Sumber: Riau Pos Januari 2018










Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar