Selatpanjang (Rp)- Harga karet yang murah, membuat masyarakat enggan untuk menyedap. Bahkan ada juga mengganti perkebunan karetnya dengan perkebun kopi.
Warga desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kartini mengaku sudah lama tidak menyedap karet miliknya. Disebabkan harga karet yang terus turun. " Kalau harga karet tinggi kami meminta orang untuk menyedapnya jadi hasilnya dibagi dua, tapi pada saat ini harga turun menyedap sendiri rugi rasanya", katanya.
Kartini mengatakan, saat ini ekonomi masyarakat sangat sulit. Hal itu semakin diperparah dengan anjloknya harga karet. " Saat ini harga karet Rp6000 sampai Rp6500per kilogramnya masih jauh dari harapan.
Sementara masyarakat pesimis dengan masa depan perkebunan karet, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) kepulauan meranti berpikiran sebaliknya. Mereka tetap optimis karet masih ada masa depan yang menjanjikan.
Sumber: Riau Pos Januari 2018
Sumber: Riau Pos Januari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar