PEKANBARU - Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman pada acara
Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Riau bertajuk 'Memperkuat Momentum'
Selasa (12/12/17) mengatakan bahwa pada 2015 lalu, pertumbuhan ekonomi
Riau kurang bagus. Pada waktu itu bahkan ada 4 kabupaten kota di Riau
yang pertumbuhannya minus.
Hal itu menurutnya lebih disebabkan karena terjadi penurunan harga
komoditas unggulan di sektor perkebunan. Seperti karet, sawit, sagu dan
lainnya. Termasuk harha migas.
Untuk itu, tambahnya, pemprov Riau mencari sumber ekonomi baru yaitu
pariwisata berbasis budaya. Seluruh dinas terkait diminta menggarap
seluruh view destinasi wisata yang ada di Riau.
"Alhamdulillah, kerjasama antar berbagai dinas sudah mampu membawa
perekonomian Riau meningkat tajam. Saat ini, di beberapa destinasi
wisata sudah lancar akses dan sarana transportasi di Riau seperti candi
muara takus maupun bono," terang Andi Rahman.
Selain mengembangkan pariwisata berbasis budaya, pemprov juga
mengembangkan pertanian holtikultura dan UMKM Riau. Dukungan UMKM
tersebut terutama di sektor kuliner membawa pariwisata cukup berkembang.
Bank Indonesia kembali menggelar pertemuan tahunan yang diikuti dari
berbagai pihak. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Bank
Indonesia, Siti Astiyah mengatakan bahwa tahun 2017 merupakan tahun
pemulihan ekonomi internasional.
Kondisi tersebut menurutnya ditandai membaiknya berbagai harga
komoditas di dunia internasional. Sehingga prediksi pertumbuhan ekonomi
nasional di 2017 sebesar 5,06 persen.
"Menguatnya perekonomian global disikapi oleh kebijakan moneter di
seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Perbaikan ekonomi eksternal sangat
mempengaruhi perekonomian domestik Indonesia," terangnya.
Ditengah pemulihan pertumbuhan perekononian domestik masih memiliki
tantangan. Di sektor keuangan BI, OJK DAN Pemerintah membangun kebijakan
dalam rangka stabilitas keuangan. (Adv)
Sumber : Harianriau.co, Desember 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar