Pekanbaru (Antarariau.com) - Bank Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi
Provinsi Riau pada 2017 berpeluang untuk tumbuh maksimal hingga 3,25
persen dibandingkan tahun lalu.
"Secara keseluruhan tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Riau diperkirakan
berada pada kisaran 2,25 persen hingga 3,25 persen year on year," kata
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Siti
Astiyah, di Pekanbaru, Selasa.
Pada triwulan IV-2017, analisa BI menunjukan bahwa ada indikasi
perbaikan ekonomi yang cukup kuat didaerah berjuluk "Bumi Lancang
Kuning" itu. Kinerja ekonomi Riau pada triwulan tersebut ditopang oleh
permintaan domestik yang kuat.
Karena itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2017
di Riau akan berada pada kisaran 2,40-3,40 persen (you). Angka itu lebih
tinggi dibandingkan capaian triwulan III-2017 yang tumbuh 2,85 persen
(you).
"Peningkatan utamanya didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga,
konsumsi pemerintah, investasi, dan net ekspor. Sedangkan dari sisi
sektoral, sumber pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh kinerja
sektor perdagangan dan pertanian," katanya.
Adapun perekonomian Riau pada triwulan III-2017 tumbuh 2,85 persen (you)
sudah lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II tahun yang sama,
yang mencapai 2,41 persen. Meningkatnya ekonomi ini sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi di regional Sumatera dan Nasional.
Faktor domestik yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ini diantaranya
adalah meningkatnya konsumsi pemerintah, antara lain berasal dari
penyaluran gaji ke-13 PNS. Selain itu, realisasi belanja bagi hasil dari
Pemprov Riau kepada pemerintah kabupaten/kota juga mengalami
peningkatan seiring dengan kenaikan Dana Bagi Hasil (DBH) dari
pemerintah pusat.
Pertumbuhan ekonomi Riau tanpa minyak dan gas juga tercatat sebesar 4,61
persen (you), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar
4,37 persen.
Meski begitu, BI masih meyakini ada beberapa faktor risiko yang
membayangi perkembangan ekonomi Riau ke depan yang harus diantisipasi
lebih lanjut, khususnya oleh pemerintah daerah.
"Kondisi ini terindikasi dari perbaikan ekonomi dunia dan harga
komoditas yang relatif terbatas sehingga rentan terhadap kinerja
ekspor," ucapnya.
Sumber: Antaranews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar