Bank Dunia Prediksi PDB Tumbuh 5,3 Persen

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Bank Dunia memprediksi kinerja perekonomian Indonesia tetap positif. Namun, ada beberapa risiko yang harus diwaspadai. Di antaranya, perdagangan global yang melambat dan melemahnya konsumsi rumah tangga.

‘’Perkiraan perekonomian tetap positif dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan mencapai rata-rata 5,3 persen pada periode 2018–2020,” ujar Country Director Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Rodrigo A Chaves dalam rilis laporan triwulanan perekonomian Indonesia di Soehanna Hall, Selasa (27/3). Dia memaparkan beberapa risiko terhadap proyeksi pertumbuhan tersebut.

Di sisi eksternal, meningkatnya proteksionisme global berisiko pada pemulihan yang mulai terjadi dalam perdagangan internasional dapat terhenti. Hal itu akan membebani pertumbuhan global dan harga-harga komoditas.

”Meskipun normalisasi kebijakan Amerika Serikat sedang berlangsung proporsional, pengetatan moneter yang tidak terduga dapat mengakibatkan arus keluar modal (capital outflow) secara mendadak dari negara-negara berkembang,” jelasnya.

Dari sisi domestik, kon­sumsi rumah tangga memang sempat menguat pada kuartal akhir tahun lalu. Namun, menurut Rodrigo, tahun ini tetap ada risiko bahwa konsumsi rumah tangga stagnan, bahkan melemah dalam jangka menengah.

”Di tingkat domestik semakin melambatnya pertumbuhan konsumsi sektor swasta yang menjadi sumber lebih dari separuh PDB negara. Karena itu, setiap perlambatan dalam konsumsi pribadi dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap total pengeluaran,” katanya.

Ekonom Utama untuk Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander menambahkan, ada beberapa hal yang diperkirakan bisa mendorong konsumsi. Di antaranya, tren inflasi rendah, pengeluaran menjelang pemilu, dan perbaikan harga komoditas. Meski demikian, pergerakan konsumsi diprediksi mentok di angka 5 persen.

”Konsumsi mungkin akan membaik, tapi kemungkinan hanya menetap di 5 persen. Lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya, tapi tetap lebih tinggi daripada 2008 dan sebelumnya,” ungkapnya.

Frederico menuturkan, laporan triwulanan perekonomian difokuskan pada pentingnya negara untuk mengumpulkan lebih banyak pendapatan dan membelanjakannya dengan lebih baik untuk mendukung pertumbuhan inklusif. Kebijakan fiskal bisa memainkan peran lebih besar untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.(ken/c25/fal/lim)
Sumber : Riaupos.co, 28 Maret 2018
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar