(CAKAPLAH) - Harga minyak dunia kembali menanjak
sepanjang pekan lalu, melanjutkan kenaikan pekan sebelumnya, seiring
dengan kenaikan kinerja pasar saham Amerika Serikat.
Dilansir dari Reuters, Senin (19/3/2018), harga minyak mentah
berjangka Brent pada perdagangan Jumat (16/3 lalu) melonjak US$1,09 atau
1,7 persen secara harian menjadi US$66,21 per barel. Selama sesi
perdagangan, harga Brent sempat menyentuh US$66,42 per barel, tertinggi
sejak 28 Februari 2018.
Kenaikan juga terjadi pada harga minyak minyak mentah Amerika Serikat
(AS) West Texas Intermediate (WTI) sebesar 1,9 persen secara harian
atau US$1,15 menjadi US$62,34 per barel. Harga WTI juga sempat menyentuh
level US$62,54 per barel, tertinggi sejak 7 Maret 2018.
Secara mingguan, harga Brent naik satu persen sedangkan harga WTI
naik tipis 0,4 persen. Hal ini membuat harga kedua kontrak menanjak
selama dua minggu berturut-turut.
Lonjakan harga pada perdagangan pada Jumat lalu terjadi seiring
kenaikan pasar saham AS. Harga minyak dan indeks pasar saham bergerak
beriringan akhir-akhir ini.
Selain itu, kenaikan juga terjadi karena investor yang sedikit
bertaruh sebelum ditayangkannya program berita AS '60 Minutes' yang
menampilkan wawancara dengan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Wawancara tersebut akan membahas isu-isu di Timur Tengah.
Komisi Perdagangan Berjangkan Komoditi AS menyatakan manajer
investasi maupun keuangan memangkas taruhan pada tendensi kenaikan harga
(bullish) minyak mentah berjangka dan opsi pada pekan yang berakhir 13
Maret 2018. Hal ini terjadi menyusul merosotnya harga minyak untuk pekan
kedua.
Kelompok spekulator memangkas kombinasi posisi berjangka dan opsi di
New York dan London sebesar24.668 kontrak menjadi 453.864 kontrak selama
pekan tersebut. Artinya, spekulator telah memangkas posisi beli bersih
di pasar selama dua minggu berturut-turut.
Perusahaan pelayanan energi Baker Hughes menyatakan pengebor minyak
AS menambah empat rig pekan lalu membuat jumlah rig menjadi 800 rig.
Kenaikan itu merupakan kenaikan ketujuh selama delapan minggu terakhir.
Kamis lalu, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan
minyak global bakal naik tahun ini. Namun, pasokan akan tumbuh dengan
laju yang lebih cepat dan akan meningkatkan persediaan.
IEA juga mengerek proyeksi permintaan minyak tahun ini menjadi 99,3
juta barel per hari (bph) dari sebelumnya 97,8 juta bph pada tahun lalu.
Sementara itu, pasokan dari negara non Organisasi Negara Pengekspor
Minyak (OPEC) bakal tumbuh sebesar 1,8 juta bph tahun ini menjadi 59,9
juta bph yang dipimpin oleh kenaikan pasokan AS.
Sebagai catatan, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, telah memangkas
produksinya sejak awal Januari 2017 untuk mengurangi pasokan global yang
berlebih.
Pada Rabu lalu, pemerintah AS melaporkan persediaan minyak mentah
Negeri Paman Sam meningkat sebesar lima juta barel atau melebihi
ekspektasi.
Sumber : Cakaplah.com, 19 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar