Merdeka.com - Harga minyak dunia bergerak sedikit lebih rendah
pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Penurunan harga terjadi
karena tertekan kemerosotan di pasar ekuitas dan data kelompok industri
yang menunjukkan peningkatan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah
AS.
Patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei, sempat
menyentuh USD 71 per barel sebelum akhirnya turun dan menetap satu sen
AS lebih rendah pada USD 70,11 per barel di London ICE Futures Exchange.
Sementara itu, patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate
(WTI) untuk penyerahan Mei, turun 30 sen AS menjadi menetap di USD 65,25
per barel di New York Mercantile Exchange.
Dalam perdagangan elektronik pasca-penyelesaian (penutupan), ketika
volume lebih tipis, harga untuk kedua acuan minyak tergelincir bersama
pasar ekuitas, dan kemudian turun lagi setelah kelompok industri
American Petroleum Institute (API) melaporkan kenaikan lebih besar dari
perkiraan dalam persediaan minyak AS.
Pada satu titik, WTI jatuh lebih dari satu dolar AS. WTI
diperdagangkan pada USD 64,69 per barel, turun 86 sen, pada pukul 16.42
waktu setempat (20.42 GMT).
Persediaan minyak mentah AS naik 5,3 juta barel dalam pekan yang
berakhir 23 Maret, menjadi 430,6 juta barel, kata API. Persediaan AS
diperkirakan turun 287.000 barel, Departemen Energi AS akan merilis
angkanya pada Rabu pagi waktu setempat.
Sementara itu, dolar AS rebound dari level terendah lima minggu
sebelumnya karena ketegangan perdagangan berkurang. Penguatan greenback
membuat komoditas berdenominasi dolar AS lebih mahal bagi pemegang mata
uang lainnya.
"Indeks dolar AS mencuat dan itu mungkin membebani harga," kata
Phillip Streible, ahli strategi pasar senior di RJO Futures di Chicago.
Brent telah meningkat lebih dari lima persen bulan ini, sementara WTI
naik lebih dari empat persen. Mereka berada di jalur untuk kenaikan
kuartalan ketiga berturut-turut, yang terakhir terjadi pada 2010.
Sementara kedua kontrak telah meningkat, Jim Ritterbusch, presiden
Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois, mengatakan Brent telah
mengungguli WTI. Selisih antara kedua kontrak Mei telah melebar,
katanya, yang menyiratkan keberhasilan OPEC dalam memangkas pasokan.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan
negara-negara produsen lainnya sepakat lebih dari setahun lalu untuk
mengurangi pasokan.
Kesepakatan itu akan berakhir pada akhir tahun ini, tetapi Putera
Mahkota Saudi Mohammad bin Salman mengatakan kepada Reuters bahwa OPEC
dan Rusia bekerja pada kesepakatan untuk bekerja sama selama 10 hingga
20 tahun lagi, meskipun itu tidak secara khusus berarti pemotongan akan
terus berlanjut selama itu.
Namun, para analis mengatakan kekuatan pasar saat ini mungkin tidak
bertahan lama. Analis Barclays Research mengatakan mereka memperkirakan
defisit pasokan beberapa bulan terakhir akan memberi jalan bagi surplus
pada kenaikan produksi AS. [idr]
Sumber : Merdeka.com, 28 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar