AKURAT.CO, Meski pergerakan imbal hasil obligasi AS
cenderung turun sebagai imbas dari melemahnya laju USD seiring masih
adanya kekhawatiran akan terjadinya perang dagang namun, tidak juga
membuat pasar obligasi dalam negeri menguat. Aksi jual masih terjadi
sehingga membuat sejumlah seri masih berada di zona merahnya.
"Pergerakan Rupiah yang cenderung melemah turut direspon negatif,"
kata Analis Bina Artha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Senin
(26/3).
Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek
(1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata naik 2,74 bps; tenor menengah (5-7
tahun) naik 4,02 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 3,18 bps. Laju pasar
obligasi kembali bervariatif melemah.
Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo ±10 tahun dengan harga
98,45% memiliki imbal hasil 5,98% atau naik 0,05 bps dari sebelumnya di
harga 98,65% memiliki imbal hasil 5,9311%.
Untuk FR0075 yang memiliki
waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 100,95% memiliki imbal hasil
7,41% atau naik 0,08 bps dari sehari sebelumnya di harga 101,76%
memiliki imbal hasil 7,33%.
Sementara pada Jumat (23/3), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang
tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun -0,27 bps di
level117,10 dari sebelumnya di level 117,42.
Sementara itu, rata-rata
harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean
Price turun -0,09 bps di level 109,11 dari sebelumnya di level 109,21.
Sedangkan
pergerakan imbal hasil SUN 10Yr berada di level6,92% dari sebelumnya di
level 6,82% dan US Govn’t bond 10Yr di level 2,82% dari sebelumnya di
level 2,83%, sehingga spread di level kisaran410,4 bps lebih tinggi dari
sebelumnya 398,3 bps.
Kemudian pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya
kembali variatif naik. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana
imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak naik di kisaran level 8,70%-8,75%.
Lalu, obligasi korporasi dengan rating AA untuk tenor 9-10 tahun,
imbal hasilnya di kisaran level 9,07%-9,08%. Untuk imbal hasil pada
rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran10,30%-10,40%, dan pada
rating BBB di kisaran 12,99%-13,03%.
Pergerakan pasar obligasi dalam negeri masih terdapat potensi
pelemahan seiring belum adanya sentimen yang dapat menahan pelemahan
yang terjadi. Meskipun demikian,diharapkan pelemahan dapat lebih
berkurang dengan memanfaatkan penurunan imbal hasil obligasi AS.
"Tetap mewaspadai jika terdapat potensi pelemahan kembali," tambahnya. []
Sumber : Akurat.co, 26 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar