Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh Sekitar 5 Persen, Ternyata Ini Penyebabnya

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkutat di angka lima persen sejak 2013 menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Bahkan, terjadi pernah terjadi penuruan ekonomi pada 2014.

Penurunan itu, yakni menjadi 4,79 persen setelah tumbuh 5,58 persen pada 2013. Kendati mampu bangkit pada 2016, angkanya masih jauh di bawah 5,58 persen. Sebab, ekonomi hanya tumbuh 5,02 persen pada 2016.

Kemudian, dengan didorong beberapa faktor, pada 2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,07 persen. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, banyak kalangan yang mengeluhkan pertumbuhan ekonomi yang enggan beranjak dari angka 5 persen.

Di antara penyebabnya adalah kurangnya nilai tambah pada perekonomian dalam negeri.

“Peningkatan nilai tambah ekonomi, kenapa, orang mengeluh sekarang kenapa pertumbuhan kita kok susah di atas 5 persen. Nah salah satunya itu adalah kurangnya nilai tambah pada perekonomian kami,” katanya di kantornya, Rabu (21/3/2018).

Diterangkannya, Indonesia saat ini masih asyik untuk mengeruk bahan baku yang berasal dari sumber daya alam. Padahal, banyak negara yang sudah mulai memanfaatkan teknologi untuk berinovasi menciptakan nilai tambah perekonomian.

“Jadi, kalau punya tambang, masih maunya ekspor hasil tambangnya bukan produk yang dihasilkan setelah mengolah, dan nilai tambahnya pasti jauh lebih besar,” terangnya.

Adapun hal itu baru dari bahan baku saja. Belum lagi dari sisi pertanian. Dia menyebut Inggris sudah dapat memproduksi buah jeruk tanpa biji. Hal itu, terangnya, merupakan salah satu inovasi yang dilakukan Inggris di bidang pertanian.

“Jadi, itu menunjukkan bagaimana kami itu istilahnya belum pada tahapan menghasilkan produk yang diinginkan konsumen,” sebutnya.

Dikatakannya juga, selama ini Indonesia selalu memikirkan pasokan tanpa berpikir apa yang diinginkan pembeli. Itu karena Indonesia karena malas menciptakan nilai tambah dengan memberikan sentuhan teknologi.

“Kami lebih memikirkan apa yang dimau suplai daripada yang diinginkan oleh pembeli, karena apa, karena malas untuk menciptakan nilai tambah karena malas untuk memberikan sentuhan teknologi, karena itu lah (tidak pernah ada nilai tambah ekonomi),” tuntasnya. (uji)
Sumber : Riaupos.co, 21 Maret 2018
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar