PEKANBARU - Industri manufaktur di Provinsi Riau
disinyalir tengah menggeliat seiring meningkatnya impor barang modal
serta bahan baku dan penolong sepanjang periode Januari 2018 lalu yang
mencapai Rp1,84 triliun. Tercatat, impor barang modal naik 181,37 persen
dan impor bahan baku/penolong naik sebesar 23,81 persen.
Kepala
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Aden Gultom mengatakan, jika
dilihat dari kontribusinya terhadap total nilai impor pada periode
Januari 2018, impor bahan baku dan penolong memberikan kontribusi
terbesar yaitu 55,56 persen, diikuti barang modal 43,01 persen.
"Kenaikan
impor bahan baku penolong dan barang modal yang naik tajam mendekati
200 persen ini diyakini menjadi indikator penguatan aktifitas produksi
dan investasi industri," kata Aden di Pekanbaru, Sabtu (17/3/2018).
Perkembangan
dan peran impor nonmigas Riau menurut golongan penggunaan selama bulan
Januari 2018, urai Aden, bahan baku dan penolong mencapai 75,96 juta
dolar Amerika Serikat (AS) setara Rp1.045.590.022.797 atau Rp1,04
triliun. Diikuti, barang modal mencapai 58,79 juta dolar AS setara
Rp809.244.832.020 atau Rp809 miliar.
Kemudian, barang konsumsi mencapai 1,95 juta dolar AS setara
Rp26.841.765.988 atau Rp26 miliar. Kendati demikian, barang konsumsi
mengalami penurunan sebesar 25,61 persen.Lanjut Aden, pada
periode Januari 2018 impor nonmigas Riau terutama berasal dari Tiongkok,
Malaysia, Singapura, dan Kanada.
Yang mana, impor dari Tiongkok
mencapai 65,79 juta dolar AS setara Rp905.599.889.413 atau Rp905 miliar
dengan persentase 50,25 persen, Malaysia mencapai 16,93 juta dolar AS
setara Rp233 miliar dengan persentase 12,93 persen. Selanjutnya,
impor dari Singapura mencapai 5.80 juta dolar AS setara Rp79 miliar
dengan persentase 4,43 persen dan Kanada mencapai 5.42 juta dolar AS
setara RRp74 miliar dengan persentase 4,14 persen.
"Kontribusi kempatnya mencapai 71,76 persen terhadap keseluruhan impor non migas," tandasnya. ***
Sumber : GoRiau.com, 17 Maret 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar