KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelangkaan pasokan garam
industri telah berdampak pada sektor farmasi. Walau kebutuhannya tidak
terlalu tinggi, namun tersendatnya pasokan garam tersebut membuat proses
produksi menjadi terhambat.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP)
Farmasi Indonesia Kendrariadi Suhanda mengatakan, impor garam yang
dilakukan oleh industri farmasi disebabkan pasokan lokal tidak mampu
memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan. "Kami minta jenis dan spesifikasi
garam tertentu," kata Kendrariadi kepada KONTAN, Selasa (20/3).
Bagi industri farmasi, garam bukan hanya sekadar bahan baku pelengkap
saja. Sebab, kualitas garam yang dibutuhkan industri farmasi sangat
mempengaruhi produk yang dihasilkan.
Sampai 18 Januari 2018, ada
delapan perusahaan farmasi dan kosmetik yang mengajukan izin impor
garam dengan volume mencapai 3.029,5 ton. Agar ketergantungan impor
garam ini dapat dianulir, GP Farmasi mengharap Pemerintah menguatkan
industri kimia dasar di dalam negeri ini.
Sementara, Ketua
Litbang GP Farmasi Indonesia Vincent Harijanto mengatakan, setidaknya
ada dua persoalan utama yang bakal dihadapi pelaku bisnis farmasi di
tahun ini. Pertama, proteksi lingkungan yang dilakukan pemerintah Cina. Kedua, soal nilai tukar mata uang.
Vincent
menghitung, setidaknya 95% produk bahan baku farmasi domestik
didatangkan dari Cina. Alhasil, gejolak yang terjadi di negeri Panda itu
akan memberi pengaruh pada produk farmasi Indonesia.
Teddy Iman
Soewahjo, Ketua Harian Pharma Materials Management Club (PMMC)
menyampaikan, faktor utama industri farmasi lokal ialah ketersediaan
bahan baku. Produsen bahan baku farmasi dalam negeri jumlahnya sangat
sedikit.
Produsen bahan baku domestik tidak mampu bersaing lantaran harga
tidak dapat bersaing.
"Produksinya gambarannya masih kecil, hanya 100
ton-200 ton. Kalah besar dibandingkan Cina yang ribuan ton," kata Teddy
Padahal,
selama ini industri farmasi dalam negeri telah memberikan kontribusi
signifikan dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia. Sepanjang tahun
2017, hampir semua lini bisnis farmasi mengalami pertumbuhan positif.
Tahun
lalu, industri farmasi Indonesia yang melingkupi obat kimia dan
tradisional mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,85%. Bahkan, investasi di
industri ini melonjak hingga 35,65% menjadi Rp 5,8 triliun dibandingkan
tahun sebelumnya.
"Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ini," ujar Kendrariadi.
Sumber : Kontan.co.id,21 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar