JAKARTA - PT Mobil Anak Bangsa (MAB) menjelaskan kenapa
bus listrik yang dipamerkan di pameran GIICOMVEC pekan lalu masih
menggunakan genset untuk menyusul baterainya. Sebab, sampai saat ini di
Indonesia masih belum ada infrastruktur pengisian baterai (charging).
"Seharusnya memang tidak menggunakan genset. Tapi di pameran tidak ada
infrastruktur pengisian baterai. Charging baru bisa dilakukan di pabrik
saja. Genset hanya untuk keperluan pameran atau untuk darurat di jalan
saat uji coba," jelas Jenderal TNI (Purn) Moeldoko selaku penggagas Bus
Listrik MAB, Kamis (8/3/2018).
Selain terkendala infrastruktur,
jelas Moeldoko, tegangan listrik yang dibutuhkan untuk mengisi dayanya
belum bisa dipenuhi dari listrik rumahan yang maksimal hanya 220 volt. "Charge-nya kan voltasenya 380 dan ada kayak stabilizer-nya gitu. Tapi perumahan kan cuma 220 maka nggak bisa," tuturnya.
Namun, hal ini sudah dipikirkannya. Dirinya akan mengupayakan agar
infrastruktur untuk pengisian baterai kendaraan listrik tersedia di
Indonesia. Sebab, menurutnya ini harus dilakukan karena bus listrik
adalah kendaraan massal masa depan.
"Ke depannya harus pakai yang
asli, untuk saat ini kan infrastrukturnya belum ada kalau kita saling
tunggu menunggu nggak ada yang lompat ya gimana lagi nggak jalan-jalan.
Tapi nanti Indonesia harus punya infrastruktur ini. Karena ini
transportasi massal masa depan," jelasnya.
Namun kendala ini
tidak akan terjadi saat bus listrik ini terealusasi mengaspal di
lingkungan Bandara Soekarno Hatta. Sebab, bandara internasional ini
sudah siap dengan infrastrukturnya.
"Kalau untuk bandara Soekarno
Hatta tidak akan terjadi kendala. Karena beroperasinya masih di dalam
lingkungan bandara. Sehingga pihak Angkasa Pura II akan mempersiapkan
infrastrukturnya di beberapa titik," pungkasnya.
Bus listrik MAB
in disokong mesin penggerak tipe electrical motor permanent magnetic
synchronous motor, Yang diklaim mampu menghasilkan tenaga sebesar 200 kw
pada 268 hp dan torsi maksimal 2400 Nm pada rotasi 1.200 rpm hingga
3.000 rpm. Baterai yang digunakan adalah Lithium Fero Phosphate
dengan menggendong energi sebanyak 576 V450 Ah.
Dengan kapasitas 259.2
kwh, dan berat 2290 kg. Membutuhkan sekitar tiga jam untuk pengisian
daya sampai baterai penuh. Dengan kondisi baterai penuh, Maxvel
dapat menempuh jarak 250 km, dengan kapasitas penumpang hingga 60 orang,
bus listrik rakitan lokal ini mampu berlari 70 km/jam. **
Sumber : GoRiau.com, 8 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar