JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Tingkat konsumsi masyarakat sepanjang 2017
mengalami stagnasi. Awal tahun ini kondisi tersebut belum banyak
berubah. Survei Bank Indonesia (BI) mencatat koreksi pertumbuhan
penjualan eceran di bulan Januari 2018. Hal tersebut tercermin dari
indeks penjualan riil (IPR) yang terkontraksi 1,8 persen secara
year-on-year (yoy) setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 0,7 persen
(yoy).
Penurunan penjualan eceran tersebut sejalan dengan berakhirnya Natal dan tahun baru. Penurunan penjualan terutama terjadi pada kelompok durable goods (barang tahan lama) berupa peralatan informasi dan komunikasi serta peralatan rumah tangga lainnya. Sementara itu, penjualan kelompok barang lainnya masih menunjukkan peningkatan, terutama sandang, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesoris.
Penjualan eceran diperkirakan akan kembali meningkat pada Februari 2018 dengan pertumbuhan IPR sebesar 1,0 persen secara yoy. Perbaikan penjualan eceran diperkirakan didorong oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sandang, suku cadang dan aksesori, serta barang lainnya. Sementara itu, penjualan kelompok durable goods masih relatif terbatas.
Hasil survei juga mengindikasikan menurunnya tekanan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang (April 2018). Indikasi tersebut tecermin dari penurunan indeks ekspektasi harga umum (IEH) tiga bulan menjadi 155,1 dari 158,2 pada bulan sebelumnya.
Meski begitu, Gubernur BI Agus Martowardojo menekankan bahwa kondisi ekonomi domestik masih bagus. Hal tersebut ditunjukkan dengan kondisi inflasi yang relatif stabil. Karena itu, BI masih optimistis bahwa ekonomi Indonesia tahun ini masih bisa tumbuh di angka 5,1–5,5 persen.
”Sekarang ini kondisi ekonomi kita baik. BI meyakini kita akan selalu menjaga stabilitas ekonomi makro dan keuangan. Pada 2017 ekonomi cukup baik, selain ada peningkatan rating, inflasi juga terjaga selama tiga tahun ini. Jadi, tidak khawatir dengan fundamental yang lain,” paparnya di gedung BI, kemarin (9/3).(ken/c10/sof/das)
Penurunan penjualan eceran tersebut sejalan dengan berakhirnya Natal dan tahun baru. Penurunan penjualan terutama terjadi pada kelompok durable goods (barang tahan lama) berupa peralatan informasi dan komunikasi serta peralatan rumah tangga lainnya. Sementara itu, penjualan kelompok barang lainnya masih menunjukkan peningkatan, terutama sandang, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesoris.
Penjualan eceran diperkirakan akan kembali meningkat pada Februari 2018 dengan pertumbuhan IPR sebesar 1,0 persen secara yoy. Perbaikan penjualan eceran diperkirakan didorong oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sandang, suku cadang dan aksesori, serta barang lainnya. Sementara itu, penjualan kelompok durable goods masih relatif terbatas.
Hasil survei juga mengindikasikan menurunnya tekanan harga di tingkat pedagang eceran dalam tiga bulan mendatang (April 2018). Indikasi tersebut tecermin dari penurunan indeks ekspektasi harga umum (IEH) tiga bulan menjadi 155,1 dari 158,2 pada bulan sebelumnya.
Meski begitu, Gubernur BI Agus Martowardojo menekankan bahwa kondisi ekonomi domestik masih bagus. Hal tersebut ditunjukkan dengan kondisi inflasi yang relatif stabil. Karena itu, BI masih optimistis bahwa ekonomi Indonesia tahun ini masih bisa tumbuh di angka 5,1–5,5 persen.
”Sekarang ini kondisi ekonomi kita baik. BI meyakini kita akan selalu menjaga stabilitas ekonomi makro dan keuangan. Pada 2017 ekonomi cukup baik, selain ada peningkatan rating, inflasi juga terjaga selama tiga tahun ini. Jadi, tidak khawatir dengan fundamental yang lain,” paparnya di gedung BI, kemarin (9/3).(ken/c10/sof/das)
Sumber : Riaupos.co, 10 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar