Indonesia Impor Beras 500.000 Ton, Riau Tidak jadi Lokasi Pembongkaran

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Badan Urusan  Logistik Divisi Regional Riau-Kepulauan Riau menyatakan wilayah tersebut tidak lagi menjadi lokasi pembongkaran beras impor oleh pemerintah pusat sebesar 500.000 ton pada Februari 2018.

"Kebijakan impor beras ada di pemerintah pusat bukan Bulog daerah, namun sejauh ini Riau-Kepri tidak jadi jalur masuknya atau membongkar, " kata Kepala Bulog Divre Riau Awaluddin Iqbal di Pekanbaru, Selasa.

Menurut Awaluddin Iqbal, tidak dijadikannya Riau sebagai jalur masuknya beras impor berdasarkan pertimbangan tertentu oleh pemerintah pusat.  
   
Dia mengakui dalam kurun waktu lima tahun lalu Pelabuhan Dumai sering dijadikan lokasi pembongkar dan jalur masuknya impor beras.

 "Impor itu kebijakan pemerintah atau kebijakan nasional, dan destinasi pelabuhan penerima lebih banyak dilakukan dengan pertimbangan infrastruktur yang ada di suatu wilayah, seperti pelabuhan dan gudang penyimpanan," ucapnya.

Iaa menyebutkan infrastruktur merupakan salah satu pertimbangan,   ada juga faktor lain yang bisa juga menjadi dasar penetapan Riau tidak menjadi wilayah jalur pembongkaran beras impor.

"Pertimbangan kecepatan bongkar, sosial kultural masyarakat, pemerintah daerah, prioritas kebutuhan, dan sebagainya, " kata dia.

Pemerintah memutuskan mengimpor 500.000 ton beras untuk mencukupkan pasokan dalam negeri.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis (18/1/2019) menyatakan ada dua komitmen yang akan dijalankan bersamaan saat kebijakan impor beras itu terlaksana.

"Jadi, impor beras untuk kepentingan stabilisasi harga dan ketersediaan stok yang tujuannya agar harga kembali normal," kata Enggar
 
 Ia menambahkan dari data terakhir, cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog tidak mencapai standar ideal di angka 1 sampai 1,5 juta ton. Enggar mencatat, sampai Rabu (17/1/2018)  stok beras public service obligation (PSO) Perum Bulog hanya 854.947 ton.

Stok beras PSO itu sudah termasuk dengan CBP sejumlah 134.646 ton. Bersamaan dengan penyaluran beras melalui operasi pasar, diperkirakan sisa stok beras di Perum Bulog pada 31 Maret 2018 tinggal 142.029 ton.

Untuk menjaga CBP tetap ada, maka diambil keputusan impor beras 500.000 ton sebagai langkah antisipasi.

Ketika beras impor tiba di Indonesia, tidak akan langsung dilepas ke pasar, melainkan masuk ke dalam stok beras dan disimpan di gudang Bulog.
Sumber : Antarariau.com, 6 Maret 2018
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar