JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Secara teori, pelemahan nilai tukar akan menjadi
pelecut ekspor. Namun, itu tidak terjadi di tanah air. Depresiasi kurs
lebih banyak merugikan karena produksi barang ekspor pun bergantung
bahan baku impor.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara menyatakan, komponen bahan baku impor seperti farmasi sudah di atas 70 persen.
”Kalau impor bahan baku mahal, akan pengaruhi cost produksi dan imbasnya pada harga produk yang lebih mahal. Termasuk jika dilemparkan ke pasar dalam negeri,” kata Bhima, Ahad (4/3).
Bhima menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah juga berimbas pada potensi kenaikan harga BBM. Sebagai nett importer minyak, harga BBM di Indonesia banyak terpengaruh oleh nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. ”Jika kondisi ini berlanjut, pengusaha harus bersiap jika BBM nonsubsisdi akan banyak penyesuaian,” ungkap Bhima.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan Benny Soetrisno menegaskan bahwa rupiah memang tidak melemah sendirian.
Namun, pengusaha tetap waspada karena beberapa sektor cukup sensitif menghadapi nilai tukar rupiah yang melemah. ”Sektor yang terpukul ada importer uang menggunakan dolar Amerika Serikat, tapi income-nya adalah rupiah,” katanya.
Menurut Benny, para pengusaha harus memiliki mekanisme hedging alias lindung nilai untuk menghadapi terpaan kurs. Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menambahkan, Bank Indonesia (BI) perlu meningkatkan volume operasi pasarnya jika ingin rupiah setara dengan yang diasumsikan dalam APBN 2018 yakni Rp13.400 per dolar Amerika Serikat.
Bekal cadangan devisa sebesar 131,98 miliar dolar Amerika Serikat dinilai sangat cukup untuk menormalkan volatilitas rupiah. Namun, konsekuensinya, cadangan devisa bisa terdepresiasi.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara menyatakan, komponen bahan baku impor seperti farmasi sudah di atas 70 persen.
”Kalau impor bahan baku mahal, akan pengaruhi cost produksi dan imbasnya pada harga produk yang lebih mahal. Termasuk jika dilemparkan ke pasar dalam negeri,” kata Bhima, Ahad (4/3).
Bhima menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah juga berimbas pada potensi kenaikan harga BBM. Sebagai nett importer minyak, harga BBM di Indonesia banyak terpengaruh oleh nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. ”Jika kondisi ini berlanjut, pengusaha harus bersiap jika BBM nonsubsisdi akan banyak penyesuaian,” ungkap Bhima.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan Benny Soetrisno menegaskan bahwa rupiah memang tidak melemah sendirian.
Namun, pengusaha tetap waspada karena beberapa sektor cukup sensitif menghadapi nilai tukar rupiah yang melemah. ”Sektor yang terpukul ada importer uang menggunakan dolar Amerika Serikat, tapi income-nya adalah rupiah,” katanya.
Menurut Benny, para pengusaha harus memiliki mekanisme hedging alias lindung nilai untuk menghadapi terpaan kurs. Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menambahkan, Bank Indonesia (BI) perlu meningkatkan volume operasi pasarnya jika ingin rupiah setara dengan yang diasumsikan dalam APBN 2018 yakni Rp13.400 per dolar Amerika Serikat.
Bekal cadangan devisa sebesar 131,98 miliar dolar Amerika Serikat dinilai sangat cukup untuk menormalkan volatilitas rupiah. Namun, konsekuensinya, cadangan devisa bisa terdepresiasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar