Berita Terkait
PEKANBARU (RIAUPOS.CO)
- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit periode 14 Maret-20 Maret
mengalami penurunan pada setiap kelompok umur.
Di mana jumlah penurunan terbesar adalah pada kelompok umur 10 tahun-20 tahun yang mengalami penurunan sebesar Rp63,70 per kg atau mencapai 3,30 persen dari harga pekan lalu, sehingga harga TBS periode saat ini menjadi Rp1.867,60 per kg.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Riau Ferry HC mengatakan, penurunan harga TBS ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Untuk faktor internal, penurunan harga TBS pekan ini sangat dipengaruhi oleh penurunan harga jual CPO dan kernel secara signifikan dari hampir seluruh perusahaan sumber data.
“Untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami penurunan sebesar Rp299,07 per kg, Sinar Mas Group mengalami penurunan harga sebesar Rp241,15 per kg, hanya Astra Agro Lestari Group yang mengalami kenaikan harga sebesar Rp345,46 per kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp232,50 per kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp25,00 per kg dari harga pekan lalu,” katanya.
Sedangkan untuk harga jual kernel, lanjut Ferry, Sinar Mas Group mengalami penurunan sebesar Rp564,94 per kg, Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan harga sebesar Rp454,55 per kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp441,42 per kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp202,00 per kg dari harga pekan lalu.
Untuk faktor eksternal, penurunan harga disebabkan oleh adanya beberapa sentimen negatif menekan harga CPO dunia, seperti penurunan jumlah ekspor yang disebabkan berkurangnya permintaan impor minyak sawit mentah dari Cina, karena suplai minyak kedelai dan persediaan cadangan minyak nabati yang tinggi.
“Selain itu sentimen kenaikan pajak impor CPO di India juga turut menekan harga. Sebagai salah satu negara pengimpor minyak makan terbesar di dunia, India mengerek pajak impor CPO dari 30 persen menjadi 44 persen. Tarif impor untuk CPO olahan juga naik dari 40 persen menjadi 54 persen,” jelasnya.
Sentimen dari pelarangan penggunaan minyak sawit di Uni Eropa juga masih ada, meski baru akan berlaku pada 2021 mendatang dan belum mendapat persetujuan semua negara, kebijakan ini tetap mengkhawatirkan pasar.(sol)
Di mana jumlah penurunan terbesar adalah pada kelompok umur 10 tahun-20 tahun yang mengalami penurunan sebesar Rp63,70 per kg atau mencapai 3,30 persen dari harga pekan lalu, sehingga harga TBS periode saat ini menjadi Rp1.867,60 per kg.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Riau Ferry HC mengatakan, penurunan harga TBS ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Untuk faktor internal, penurunan harga TBS pekan ini sangat dipengaruhi oleh penurunan harga jual CPO dan kernel secara signifikan dari hampir seluruh perusahaan sumber data.
“Untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami penurunan sebesar Rp299,07 per kg, Sinar Mas Group mengalami penurunan harga sebesar Rp241,15 per kg, hanya Astra Agro Lestari Group yang mengalami kenaikan harga sebesar Rp345,46 per kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp232,50 per kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp25,00 per kg dari harga pekan lalu,” katanya.
Sedangkan untuk harga jual kernel, lanjut Ferry, Sinar Mas Group mengalami penurunan sebesar Rp564,94 per kg, Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan harga sebesar Rp454,55 per kg, Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp441,42 per kg, dan PT Citra Riau Sarana mengalami penurunan sebesar Rp202,00 per kg dari harga pekan lalu.
Untuk faktor eksternal, penurunan harga disebabkan oleh adanya beberapa sentimen negatif menekan harga CPO dunia, seperti penurunan jumlah ekspor yang disebabkan berkurangnya permintaan impor minyak sawit mentah dari Cina, karena suplai minyak kedelai dan persediaan cadangan minyak nabati yang tinggi.
“Selain itu sentimen kenaikan pajak impor CPO di India juga turut menekan harga. Sebagai salah satu negara pengimpor minyak makan terbesar di dunia, India mengerek pajak impor CPO dari 30 persen menjadi 44 persen. Tarif impor untuk CPO olahan juga naik dari 40 persen menjadi 54 persen,” jelasnya.
Sentimen dari pelarangan penggunaan minyak sawit di Uni Eropa juga masih ada, meski baru akan berlaku pada 2021 mendatang dan belum mendapat persetujuan semua negara, kebijakan ini tetap mengkhawatirkan pasar.(sol)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar