AKURAT.CO, Direktur Perencanaan dan Korporate PT PLN
(Persero), Syofvi Felienty Roekman membenarkan bahwa kebutuhan listrik
mengalami penurunan signifikan. Pasalnya permintaan akan tarif listrik
yang biasanya mencapai pertumbuhan 6% hingga 7% pertahun.
Sepanjang
tahun 2017 silam permintaan kebutuhan listrik hanya di leverl 3,57%.
sedikit lebih tinggi dari kondisi pada tahun 2015 silam yang hanya
mencapai angka 2,1%. Sementara khusus untuk tahun 2018 permintaan
listrik berada diangka 6,8%.
Melihat pada rendahnya permintaan listrik tersebut pemerintah
akhirnya merevisi sejumlah kebijakan termasuk diantaranya menurunkan
Rencana Usaha Penyediaan Tarif Listrik (RUPTL) untuk tahun 2018-2027.
"Iya. Aktualnya kan memang pertumbuhan permintaan kita juga
turun.Sepanjang 2017 permintaannya 3,57%. Sedih ya," Ujar Sofvy di
Jakarta, (13/3).
Sofvy menambahkan bahwa yang menjadi faktor menurunnya permintaan
listrik menurut dia sektor rumah tangga sedang berhemat. Padahal
permintaan terbesar listrik, selain dari mensuplai kebutuhan industri,
juga datang dari sektor rumah tangga. beruntung PLN Masih terbantu dengan permintaan industri yang masih memperlihatkan tren positif. lantaran harga yang ditawarkan cukup bagus.
"Rumah tangga, kalian sudah pada berhemat semua begitu lho. Pada
turun. Industrinya beberapa industri besarnya bagus. Karena apa karena
harganya bagus," tambahnya.
Berdasarakan menurunnya permintaan itu, PLN menurut dia tidak diam saja. kedepan PLN
akan secara proaktif menciptakan peluang dimana listrik bisa mengalami
pertumbuhan. Ia mencontohkan seperti untuk masyarakat yang tinggal di
apartemen sebaiknya mengunakan listrik ketimbang menggunakan gas.
"Tuh kami mau bikin itu tuh (kompor electric). Jadi gini kalian
tinggal di apartemen kok masih nenteng-nenteng botol gas itu lho
malu-maluin. Masak mau minta subsidi juga. Pakai listrik makanya,"
pungkasnya.
Ke depan Syofvi berharap kebutuhan kembali mengalami peningkatan.
Sehingga suplai dan demand bisa berjalan beriringan, sebab pemerintah
sedang menjalankan program listrik 35.000 MW sampai pada tahun 2025
mendatang. []
Sumber : Akurat.com, 14 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar