:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/725996/original/ilustrasi-SPBU-aji-140822-3.jpg)
06 Mar 2018, 06:00 WIB
Ilustrasi Harga Minyak
Naik (Liputan6.com/Sangaji)
Liputan6.com, New York
- Harga minyak
mentah dunia naik bersamaan dengan penguatan Wall Street di tengah prediksi
kenaikan pertumbuhan permintaan minyak, dan kekhawatiran jika output dari
produsen OPEC akan tumbuh pada kecepatan yang jauh lebih lambat di tahun-tahun
depan.
Melansir
laman Reuters, Selasa (6/3/2018), harga minyak Brent naik US$
1,17 atau 1,8 persen menjadi US$ 65,54 per barel. Sementara minyak mentah
berjangka West Texas Intermediate naik US$ 1,32, atau 2,2 persen ke posisi US$
62,57 per barel.
Harga
minyak yang mendatar di awal hari, mulai meningkat seiring kenaikan pasar saham
AS, di mana indeks S&P 500 naik lebih dari 1 persen sesaat sebelum
penutupan perdagangan.
"Lonjakan
hari ini di ekuitas adalah pendorong besar di balik pemulihan harga minyak hari
ini," Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch & Associates di Chicago
dalam sebuah laporan.
Analis
juga mengatakan harga ditopang "komentar bullish" dari menteri
Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan pelaku industri global lainnya pada
konferensi energi terbesar CERAWeek di Houston, pada Senin.
Abhishek
Kumar, Analis Energi Senior Global Gas Analytics Interfax Energy di London,
mengatakan komentar tentang profil produksi minyak Venezuela yang memburuk,
bersama dengan prospek kepatuhan yang kuat terhadap kesepakatan pemutusan
produksi OPEC, mendukung harga minyak.
Menteri
Perminyakan Ekuador Carlos Perez mengatakan produksi minyak Venezuela mencapai
1,5 juta barel per hari (bpd) dari output historisnya. Dia berbicara di
sela-sela konferensi CERAWeek, seraya mengatakan jikaini adalah sesuatu
yang harus ditangani negaranya sendiri.
Sekjen
OPEC Mohammad Barkindo dan pejabat OPEC lainnya diperkirakan akan mengadakan
makan malam pada hari Senin dengan perusahaan minyak AS di sela-sela
konferensi tersebut.
Kebijakan Minyak OPEC
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/693361/original/ilustrasi-harga-minyak-naik-3-140618-andri.jpg)
Ilustrasi Harga Minyak
Naik (Liputan6.com/Andri Wiranuari)
Suhail Mohamed Al
Mazrouei, Menteri Minyak Uni Emirat Arab dan presiden OPEC saat ini, mengatakan
bahwa lembaga ini belum membahas pengguliran pemotongan produksi tahun depan.
"Kami
merasa masih ada overhang pasar. Jadi tidak ada pembicaraan
tentang (memperpanjang pemotongan sampai 2019) pada tahap ini," jelas dia.
OPEC
dan produsen utama lainnya sepakat untuk mengurangi produksi gabungan sekitar
1,8 juta barel per hari untuk menguras minyak mentah dunia. Perjanjian tersebut
dimulai pada bulan Januari 2017 dan berjalan sampai akhir tahun ini.
Adapun Badan
Energi Internasional, yang memberi saran kepada negara-negara industri mengenai
kebijakan energi, mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan
permintaan minyak global secara tahunan akan mencapai rata-rata 1,1
persen pada 2023. Angka ini cukup kuat dan OPEC akan gagal untuk
secara signifikan meningkatkan kapasitas produksinya.
Apalagi,
untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, IEA mengatakan bahwa produksi
minyak serpih AS mulai meningkat dalam lima tahun ke depan. Ini akan mencuri
pangsa pasar produsen OPEC dan memindahkannya ke Amerika Serikat, yang pernah
menjadi pengimpor minyak utama dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar